Overlord – Volume 1 – Chapter 2 – Part 2

[Overlord v01] Chapter 2 Para Penjaga Lantai

Tentara, berjumlah lima puluh orang, menunggangikuda melalui padang rumput. Setiap orang dari mereka tampak berotot, kuat dan menyolok. Jika ada kata – kata yang bisa menggambarkan diri mereka adalah “Kuat”. Bahkan saat mereka memakai perisai dada, otot-otot kencang di bawahnya bisa terlihat jelas.

Seorang pria, sekitar tiga puluh tahun, dengan wajah gelap dan keriput, rambut hitam pendek, mata hitam, dan tajam seperti pedang menoleh ke pria di sampingnya.

“Kapten, kita sedang mendekati desa pertama dari rute kita.”

“Ya, aku mengerti, Letnan.”

Gazef Stronoff, prajurit kebanggaan kerajaan Re-Estize, belum melihat satu pun desa.

Menekan emosinya, Gazef meminta kuda yang ia tunggangi untuk mempertahankan kecepatan larinya. Meskipun kecepatan saat ini biasanya tidak akan membuat kuda lelah, namun kuda tersebut telah dipaksa untuk berbaris sepanjang jalan sejak Ibukota. Secara perlahan, kelelahan akan menumpuk lalu menusuk tubuhnya. Bahkan seekor kuda pun akan lelah setelah perjalanan panjang dan dirinya tidak tega untuk membebani kudanya lebih jauh.

“Kuharap tidak ada yang terjadi.”

Kegelisahan jelas terselip dari kata-kata sang Letnan. Raja, yang mengeluarkan perintah, meminta Gazef untuk menyelidiki penampakan Ksatria Kekaisaran di sekitar perbatasan. Jika ada yang ditemukan, Gazef akan segera mengatasi mereka.

Awalnya, karena lokasinya berada di pinggiran kota Lantiere, mengirim pasukan dari sana akan lebih cepat. Namun, mengingat musuh mereka bersenjata dan sangat terlatih, melakukan hal itu sama sekali tidak berguna.

Di Re-Estize, satu-satunya yang bisa menyaingi Ksatria Kekaisaran adalah tentara yang dipimpin oleh Gazef. Dengan demikian, tugas menekan serangan dari Tentara Kekaisaran menjadi tanggung jawab Gazef.

Jika ada orang yang dapat memobilisasi tentara untuk melindungi desa sebelum kedatangan Gazef, hal itu akan cukup untuk menahan serangan dan memberikan mereka waktu. Selain itu, terdapat segudang metode lain yang bisa dilakukan untuk melakukan perlawanan, namun tidak ada yang dilakukan … bukan, lebih tepatnya tidak ada orang yang dapat melakukannya.

Gazef tahu benar mengapa hal itu membuatnya gelisah. Dia mencoba untuk tenang namun tangannya justru menggenggam tali kekang lebih erat. Pasti sulit untuk menekan rasa panas yang menyiksa hatinya.

“Kapten, hal ini terlalu gegabah karena tidak ada yang mulai melakukan pencarian sebelum kita tiba. Tidak hanya itu, mengapa mereka tidak mengirim orang lain untuk mencari selain kita? Misalnya, mereka bisa mempekerjakan petualang. Tentunya Para petualangan tersebut juga bisa mencari Ksatria Kekaisaran. Mengapa hal seperti itu belum dilakukan? ”

“… Hentikan Letnan, jika Ksatria Kekaisaran muncul di wilayah Kerajaan di siang hari, situasinya mungkin jauh lebih buruk.”

“Kapten, tidak ada orang lain di sekitar sini. Saya harap Anda bisa mengatakan yang sebenarnya.”

Letnan, yang menunjukkan seringai mengejek penuh dengan kebencian, berbicara dengan jijik:

“Ini karena para bangsawan, bukan?”

Gazef tidak menjawab kembali, karena hal itu adalah kebenaran.

“Para bangsawan sialan itu menggunakan kehidupan masyarakat sebagai alat untuk mendapat kekuasaan! Tidak hanya itu, karena wilayah ini berada di bawah kendali raja, mereka tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk menghina raja!”

“…… Tidak semua bangsawan berpikir seperti itu.”

“Mungkin Kapten benar, ada juga bangsawan yang hidup untuk kepentingan rakyat, dan contohnya adalah Putri Emas. Namun jumlah mereka sangat sedikit …… Jika saja kita bisa memusatkan kekuasaan seperti Kekaisaran, maka kita bisa melawan bangsawan sialan itu demi kepentingan rakyat? ”

“Tapi Jika kamu terburu-buru, mungkin itu dapat menyebabkan perang saudara dan mebuat negara kita terpecah-belah. Bahkan saat ini, Kerajaan kita sedang menghadapi ambisi kekaisaran tetangga untuk memperluas wilayah mereka. Jika terjadi perang saudara, maka akan membuat keadaan menjadi lebih sulit.”

“Aku mengerti tetapi ……”

“Mari kita berhenti untuk saat ini ……”

Tiba-tiba Gazef diam dan menatap lurus ke depan. Asap meringkuk keluar dari balik bukit kecil di depan mereka. Semua orang yang hadir tahu apa yang terjadi.

Gazef hanya bisa mendecak lidahnya seraya berlari ke bukit kecil tersebut. Pemandangan yang menyambutnya persis seperti yang ia duga. Seluruh desa hangus menjadi puing. Beberapa reruntuhan dan atap terbakar tampak seperti batu nisan yang didirikan di reruntuhan tersebut.

Gazef memerintahkan dengan suara tegas:

“Semuanya bersiap. Kita harus bertindak cepat.”

Desa itu terbakar habis dan puing-puing rumah hampir tidak menunjukkan penampilan awal mereka. Berjalan melalui reruntuhan, Gazef mencium bau daging terbakar bercampur dengan bau darah.

Wajahnya saat ini tampak sangat tenang, seolah-olah ia tidak merasa pergolakan emosional. Tapi jika dilihat lebih dekat, bisa dilihat emosi yang berbeda di dalamnya. Letnan yang berjalan di sampingnya menunjukkan ekspresi yang sama.

Lebih dari seratus orang di desa namun hanya enam selamat. Sesungguhnya, semua orang dibunuh tanpa ampun. Terlepas dari apakah wanita, anak – anak, atau bahkan bayi, semuanya sama.

“Letnan, kirim beberapa orang untuk mengawal para korban kembali ke Lantiere.”

“Tunggu sebentar, dalam……”

“Kau benar, terutama dalam situasi seperti ini, kita harus melindungi mereka.”

Memang, Lantiere adalah salah satu tanah milik Raja. Dan merupakan tanggung jawab Raja untuk melindungi desa-desa sekitarnya. Jika korban ditinggalkan di sini, itu akan sangat menyulitan raja. Bisa dibayangkan para bangaswan sengaja menggunakan kesempatan ini untuk membangkitkan masalah dan melemahkan pengaruh Raja. Lebih penting lagi —

“Tolong pertimbangkan. Mereka yang selamat telah melihat ksatria kaisaran. Hal tersebut merupakan prioritas dari perintah raja. Saya pikir kita harus membawa orang-orang kita untuk sementara mundur ke Lantiere dan bersiap untuk langkah berikutnya.”

“Tidak.”

“Kapten! Seharusnya Anda sudah tahu jika ini pasti jebakan. Desa ini diserang saat kita sedang dalam perjalanan dari Lantiere, hal itu bukanlah kebetulan. Tindakan brutal seperti ini pasti bertujuan untuk memancing kita. Jika tidak, mereka tidak akan sekejam ini. Ini pasti perangkap.”

“Yang selamat dari Ksatria karena bersembunyi, atau mungkin karena belas kasihan musuh. Aku takut mereka merencanakan ini. Dalam rangka untuk membuat kita membagi pasukan. ”

“Kapten, pastinya Anda tidak akan mengejar mereka setelahmengetahui jika ini adalah jebakan, bukan?”

“…… Aku akan melakukannya.”

“Apakah Anda serius dengan hal itu ?! Kapten, aku tahu jika Anda kuat, bahkan jika Anda menghadapi seratus ksatria, Anda pasti bisa menang. Tapi Kekaisaran memiliki penyihir terkenal. Jika pria tua itu bersama dengan musuh, maka akan sangat berbahaya bahkan untuk Anda. Jika kapten bertemu empat paladin kebanggaan Kekaisaran, hal itu sangat berbahaya. Jadi saya mohon, tolong mundur untuk saat ini. Demi kerajaan, bahkan pengorbanan dari beberapa desa tidak dapat dibandingkan dengan hilangnya nyawa Kapten! ”

Gazef dengan tenang mendengarkan seraya Letnan melanjutkan dengan suara keras:

“Jika Anda tidak ingin mundur … Lalu bagaimana dengan meninggalkan korban dan kita semua mengejar mereka bersama.”

“Itu mungkin pilihan yang paling masuk akal … namun hal ini sama dengan membiarkan mereka mati. Para korban di sini, apakah kamu pikir mereka dapat bertahan hidup sendirian?”

Letnan tak dapat berkata-kata, karena ia tahu bahwa kesempatan untuk bertahan hidup hampir nihil bagi para korban. Jika mereka tidak mengirim orang untuk melindungi dan membawa mereka ke tempat yang aman, mereka akan dibunuh dalam beberapa hari. Meski begitu, apa yang Letnan katakan tidaklah salah – bukan, benar dan salah tidak penting saat ini.

“… Kapten, hidup Anda merupakan hal yang paling penting, hal itu tidak dapat dibandingkan dengan nyawa dari beberapa penduduk desa.”

Gazef sepenuhnya memahami rasa sakit dan keputusasaan Letnannya, itu sebabnya ia membiarkannya mengatakan hal-hal seperti itu. Tapi meskipun begitu, ia masih tidak bisa menyetujuinya:

“Kau dan aku sama-sama lahir dan berasal dari rakyat biasa.”

“Ya, tapi kebanyakan yang bergabung dengan tentara karena kekaguman mereka kepada Kapten.”

“Aku ingat bahwa kamu juga lahir di desa?”

“Ya, itu benar…”

“Kehidupan di desa tidaklah mudah dan orang-orang sering mati di lingkungan mereka. Penderitaan karena serangan monster, hal seperti itu biasa dan menyebabkan banyak korban, bukan?”

“… ya.”

“Melawan monster, seorang tentara biasa pasti akan kewalahan. Jika tidak ada uang untuk menyewa para petualang, mereka hanya akan bisa pasrah dan menunggu.”

“…ya.”

“Jadi, apakah kau tidak pernah mengharapkan bantuan? Ketika membutuhkan bantuan dan ketika para bangsawan tidak menggerakkan satu jari pun, siapa yang akan memiliki kekuatan untuk melakukannya?”

“… Yang mereka akan lihat kedepan tak lain hanya kebohongan, karena pada kenyataannya tidak ada yang pernah membantu. Kaum bangsawan tidak akan pernah memberikan uang ke desa-desa yang terkena dampak.”

“Itulah yang menjadi masalahnya …… Mari kita buktikan jika kenyataannya tidak seperti ini. Aku ingin membantu penduduk desa.”

Letnan menjadi terdiam setelah mengingat pengalamannya sendiri.

“Temanku, mari kita tunjukkan kepada penduduk desa apa artinya untuk menghadapi bahaya sementara mempertaruhkan hidup kita, mengetahui bahwa yang berani akan datang untuk menyelamatkan dan itu adalah benar bahwa yang kuat membantu yang lemah.”

Gazef dan Letnan bertatap mata dan bertukar emosi yang tak terhitung jumlahnya. Letnan akhirnya menyerah dan menanggapi dengan nada lelah dan berapi-api:

“…… Lalu biarkan saya pergi dan mengambil kepemimpinan. Ada banyak yang bisa menggantikan saya, tapi tidak ada yang dapat menggantikan Kapten.”

“Jangan bodoh. Sejak dulu, tingkat kelangsungan hidupku relatif tinggi. Kita tidak pergi kesana untuk mati, tetapi untuk menyelamatkan orang-orang dari Kerajaan.”

Letnan ingin membuka mulutnya beberapa kali, tetapi akhirnya tetap memilih untuk diam.

“Segera pilih beberapa tentara untuk melindungi desa dan pergi ke Lantiere dengan mereka.”

Senja merah bersinar di padang rumput dengan banyak bayangan. Jumlah pastinya adalah 45 orang. Sekelompok orang ini tiba-tiba muncul dari tempat kosong. Mereka bisa melakukan hal itu karena menyamar menggunakan sihir.

Kelompok tersebut tidak terlihat seperti tentara bayaran, wisatawan atau petualang. Dilihat lebih dekat, mereka semua mengenakan seragam yang sama. Perlengkapan dari logam khusus yang meningkatkan mobilitas dan pertahanan.

Diperkuat dengan efek sihir, pakaian mereka melampaui pertahanan yang lazim. Membawa tas kulit kecil, jenis yang akan terlihat seperti ransel seorang musafir biasa jika tidak ada simbol sihir di atasnya. Di pinggang mereka adalah sabuk yang membawa beberapa botol cairan dan di belakang mereka adalah jubah yang memancarkan aura magis.

Terlepas dari uang, waktu dan usaha, untuk mengumpulkan begitu banyak item sihir tidaklah mudah. Kelompok yang memakai peralatan sihir ini, membuktikan bahwa mereka mendapat dukungan pada tingkat nasional. Melihat Perlengkapan mereka, tidak ada tanda-tanda identitas atau keanggotaan. Mereka unit ilegal, salah satu yang harus menyembunyikan identitasnya.

Menatap ke arah desa. Sambil melihat, bau darah dan daging dibakar meresap dari desa-desa. Dari mata mereka orang bisa melihat bahwa mereka tidak suka menonton, adegan kejam berdarah dingin.

“…… Melarikan diri ya.”

Sebuah suara yang terdengar membosankan dan sedikit kecewa.

“…… Tidak ada cara lain. Bersiaplah untuk menyerang desa selanjutnya untuk memancingnya keluar. Kita harus memikat binatang itu kedalam perangkap kita.”

Orang-orang itu melihat bayangan Gazef berangkat menuju arah yang sama dengan kelompok mereka.

“Beritahu aku desa berikutnya yang ditargetkan untuk umpan kita.”

[table style=”table-bordered”]

Sebelumnya Daftar ISI Selanjutnya

[/table]