Overlord – Volume 1 – Chapter 3 – Part 2

[Overlord v01] Chapter 3 Pertempuran di Desa Carne

Mereka semakin dekat dengan batas desa.

Enri mendengar suara logam berbenturan dari belakangnya ketika dia berlari. Suara tersebut terdengar berirama.

Dia menoleh ke belakang sambil berdo’a di hatinya — seperti yang diduga, ini adalah skenario terburuk. Seorang Knight sedang mengejar Emmot bersaudari.

Mereka semakin dekat.

Enri berusaha keras untuk menekan keluhannya di hati, karena dia tidak punya tenaga lagi untuk hal tersebut.

Nafasnya semakin cepat, detak jantungnya cukup keras seakan-akan ingin meledak, dan kakinya bergetar keras. Tidak lama, dia akan cepat kelelahan, dan dia akan ambruk dan tak bisa bangun.

Jika dia sendirian, mungkin dia sudah kehilangan kekuatan dan menyerah.

Namun, dia sedang menggandeng tangan adiknya. Hal itu memberinya energi untuk berlari.

Sebenarnya hasrat besar untuk menyelamatkan adiknyalah yang menyebabkan Enri terus berlari hingga kini.

Sambil berlari, dia menoleh ke belakang lagi.

Jarak antara dirinya dan yang mengejar belum berubah. Meskipun memakai baju besi, kecepatan pria tersebut tidak berkurang. Sangat jelas perbedaan antara Prajurit terlatih dan seorang gadis desa.

Keringat bercucuran di punggung Enri dan tubuhnya semakin dingin. Jika ini terus terjadi… dia tidak akan mampu kabur bersama adiknya.

–Lepaskan dia.

Kalimat tersebut terus terngiang di kepalanya.

–Mungkin kamu bisa kabur jika sendirian.
–Kamu ingin mati disini?
–Lebih aman jika kalian berpisah.

“Diam, diam, diam!”

Enri berteriak pada dirinya sendiri karena pemikiran tersebut muncul sambil menggemeretakkan gigi-giginya.

Dia adalah saudari yang terburuk yang pernah dibayangkan.

Mengapa adiknya menahannya, meskipun dia sudah hampir menangis?
Itu karena dia percaya pada kakaknya. Dia percaya kakaknya akan menyelamatkannya.

Sambil memegang erat tangan adiknya –yang mana telah memberinya kekuatan untuk kabur dan terus berusaha — Enri menguatkan diri dan mengeraskan tekadnya.

Dia takkan pernah membuang adiknya.

“Ah!”

Adik Enri juga sama capeknya dengan Enri sendiri. Namun, dia tiba-tiba tersandung, terkesiap dan hampir jatuh.

Alasan mengapa keduanya tidak jatuh adalah karena mereka saling bergandengan tangan dengan sangat erat. Namun, Nemu yang hampir jatuh menyebabkan Enri goyah sendiri.

“Lebih cepat!”

“Ah, ya!”

Meskipun dia ingin terus berlari, adiknya mulai kesemutan, dan tidak tidak bisa bergerak cepat. Enri ingin menggendong Nemu dan lari, tapi suara logam yang semakin dekat di belakang membuatnya ketakutan.

Knight yang ada di belakangnya memegang pedang yang berlumuran darah. Di tambah lagi, pakaian besi dan helm miliknya juga terkena bekas darah yang terciprat.

Enri menarik Nemu yang ada di belakang dan menatap dengan marah kepada knight yang mengejarnya.

“Percuma saja berusaha.”

Tidak ada rasa iba dalam kalimat tersebut. Namun, hanya ejekan. Kalimat itu mengatakan bahwa lari hanya akan berakhir dikematian pula.

Kemarahan di dalam hati Enri semakin mendidih, dan dia berpikir, apa yang dia katakan?

Knight tersebut mengangkat pedangnya dan mengarahkan kepada Enri yang berhenti bergerak. Namun, sebelum dia mengayunkan pedangnya…

“Jangan meremehkanku!”

“Guwaaargh!”

–Enri dengan kuat memukul helm logam knight tersebut. Pukulan itu membawa kemarahan yang memenuhi dirinya dan hasrat untuk melindungi adiknya. Dia tidak perduli dia sudah memukul logam dengan tangan kosong. Dia memukulnya dengan seluruh kekuatannya.

Ada suara seperti tulang yang retak, dan tiba-tiba saja perih menyebar ke seluruh tubuh Enri. Knight itu terhuyung-huyung karena kekuatan dari pukulan itu.

“Lari!”
“Ya!”

Enri mengacuhkan rasa perihnya dan kabur lagi — namun sebuah garis yang terasa panas muncul di punggungnya.

“–Ggk!”

“Dasar gadis jalang!”

Kemarahan dari Knight itu datangnya dari ejekan karena dipukul oleh gadis desa.

Dia mengayunkan pedangnya dengan liar, karena sudah tidak tenang. Hasilnya, sabetan pertama tidak menyebabkan luka yang fatal. Namun, itu adalah akhir dari keberuntungan Enri. Dia terluka, dan knight itu sangat marah. Sabetan berikutnya pasti akan mencabut nyawa Enri.

Enri melihat ke arah pedang panjang yang terangkat tinggi di depannya.

Rasa panik tergambar di seluruh wajahnya ketika dia melihat cahaya jahat dari pedang yang cepat dan kejam itu, dan dia menyadari dua hal.

Pertama adalah hidupnya akan berakhir dalam beberapa detik. Kedua adalah bahwa seorang gadis desa biasa seperti dirinya tidak mungkin melawan takdir itu.

Ujung pedang tersebut terkena darahnya. Luka yang tersebut ke seluruh tubuhnya membuat jantungnya berdegup dengan lebih kencang, bersamaan dengan panas yang menyengat dari lukanya.

Rasa perih yang tak pernah ia rasakan sebelumnya membuatnya ketakutan dan ingin muntah.

Mungkin dengan muntah akan menghilangkan perasaan mual yang ada.

Namun, Enri mencari jalan untuk tetap hidup, jadi dia tidak punya waktu untuk muntah.

Meskipun dia tidak ingin berusaha lagi, masih ada alasan mengapa Enri tidak menyerah sampai sekarang. Itu adalah kehangatan yang menekan dadanya — yaitu adiknya.

Dia harus membuat adiknya bertahan hidup.

Satu-satunya pemikiran yang menahan Enri dari kata menyerah.

Sebaliknya, knight di depannya terlihat mengejek tekad Enri.

Pedang yang terangkat diayunkan ke bawah.

Mungkin  karena seluruh energi yang ada disalurkan kemari, atau karena otaknya bekerja keras karena sedang berada di ujung maut, tapi Enri merasa waktu berlalu dengan lambat, dan dia mencoba berusaha memikirkan cara untuk menyelamatkan adiknya.

Namun, dia tidak mendapatkan ide apapun, yang hanya bisa dia lakukan adalah menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisah, membiarkan pisau pedang menancap dalam-dalam ke dirinya, berharap bisa mengulur waktu agar adiknya bisa kabur.

Selama dia masih memiliki kekuatan, dia akan menggenggam dengan erat knight tersebut atau pedang yang dia tancapkan padanya, dengan berpegang erat dan tidak membiarkannya lepas hingga api kehidupannya padam.

Jika dia bisa melakukan hal itu. Dia akan menerima takdirnya dengan rela.

Enri tersenyum, seakan dia adalah seorang martyr.

Sebagai kakak, hanya ini yang bisa dia lakukan untuk Nemu. Pikiran itu membuat Enri tersenyum.

Bisakah Nemu lepas dari neraka desa Carne sendirian?

Meskipun dia kabur ke hutan, dia mungkin akan tertangkap oleh prajurit yang sedang patroli. Namun, selama dia masih bisa selamat, Enri akan mempertaruhkan nyawanya — tidak, dia akan mempertaruhkan segalanya.

Meskipun begitu, kenyataan bahwa dia akan terluka lagi membuatnya takut, jadi dia memejamkan matanya. Di dunia kegelapan ini, dia bersiap menerima luka yang akan datang…

[table style=”table-bordered”]

Sebelumnya Daftar ISI Selanjutnya

[/table]