Overlord – Volume 1 – Chapter 3 – Part 4

[Overlord v01] Chapter 3 Pertempuran di Desa Carne

“OOOOOOOOOOHHHHHHHHHH”

Raungan kuat memecah udara.

Itu adalah tanda bagi pembantaian yang berubah menjadi pembunuhan masal yang sedikit berbeda.

Dalam sekejap mata, para pemburu menjadi yang diburu.

Londes Di Gelanpo mungkin mengutuk Tuhannya berkali-kali dalam 10 detik ini daripada ketika hidup dahulu. Jika Tuhan benar-benar ada, maka mereka seharusnya mengalahkan makhluk jahat sekarang ini. Londes adalah orang yang taat — mengapa Tuhan membiarkannya?

Tuhan tidak ada.

Di masa lalu, dia menghina orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan sebagai orang yang bodoh. Lagipula, jika Tuhan tidak ada, bagaimana para pendeta bisa mengeluarkan magic? Dan sekarang, dia menyadari bahwa dialah yang bodoh.

Seorang Monster muncul di depannya — Death Knight, lebih tepatnya — semakin mendekat.

Dia mundur beberapa langkah, mencoba untuk kabur dari monster itu
.

Suara berderit datang dari armor yang dia kenakan, dan pedang yang dia pegang dengan dua tangan bergetar tidak teratur. Dia bukan satu-satunya; 18 knight lainnya yang mengelilingi Death Knight juga bersikap demikian.

Meskipun mereka dipenuhi ketakutan, tak ada yang lari. Ini bukan keberanian — Gemeretak gigi mereka adalah buktinya. Jika mereka bisa, mereka akan lari secepat-cepatnya dan sejauh-jauhnya.

Itu karena mereka tahu tidak akan bisa kabur.

Mata Londes berpindah-pindah, memohon pertolongan.

Alun-alun ini berada di pusat desa, dimana Londes dan bawahannya telah mengumpulkan penduduk desa berjumlah 60 atau lebih. Mereka terlihat ketakutan pada Londes dan pasukannya, sementara itu sekelompok anak-anak bersembunyi di menara kayu.

Beberapa anak-anak memegang tongkatnya, tapi tak ada dari mereka yang dalam posisi kuda-kuda. Hanya itu yang bisa mereka lakukan agar tidak menjatuhkan tongkat mereka.

Dalam serangan Londes ke desa, mereka telah mengejar penduduk hingga alun-alun. Mereka mencari rumah-rumah, lalu memaksa keluar siapapun yang sedang bersembunyi di ruang bawah tanah, mereka menyiramkan minyak dan membakarnya.

Ada empat orang knight yang berdiri berjaga di sekitar desa dengan busur dan panah, tugas mereka adalah menembak siapapun yang mencoba kabur. Mereka sudah melakukan ini berkali-kali, bisa dikatakan mereka adalah veteran dalam bidang ini.

Pembantaian yang terjadi berlangsung cukup lama, tapi sukses, dan mereka telah mengumpulkan penduduk desa yang selamat dalam satu tempat. Setelah itu, mereka akan melepaskan beberapa tawanan sebagai umpan.

Seharusnya seperti itu, tapi —

Londes masih teringat saat itu.

Pemandangan Erior yang terbang ke udara, setelah beberapa penduduk desa terakhir berlarian ke alun-alun.

Seharusnya itu tidak mungkin. Tak ada yang tahu apa yang terjadi. Bagaimana bisa mereka mengerti alasan mengapa seorang pria yang terlatih dan berpakaian armor lengkap — dan masih punya berat meskipun diringankan oleh magic — bisa terbang ke udara seperti bola?

Setelah terbang sekitar tujuh meter ke udara, dia terjatuh ke tanah dengan meluncur deras dan tidak bergerak sama sekali.

Satu Monster yang membuat tulang bergidik ngeri berdiri di tempat Erion asal mulanya. Undead yang membuat bulu kuduk berdiri yang disebut ‘Death Knight’ menurunkan perisai tower yang dia gunakan untuk menghempaskan Erion berdiri di depan mereka.

Ini semua asal muasal dari keputus asaan mereka.

“Aiiiieeeee!”

Teriakan kepanikan mereka menggema di udara. Salah satu pria yang meringkuk bersama temannya tidak bisa menyaksikan teror yang mematikan dan kabur dengan teriakan.

Dalam situasi sekarang ini, sangat wajar bahwa — ketika dipaksa hingga titik tertentu — orang akan boneka yang terputus talinya. Namun, diantara semua teman-temannya yang kabur, tak satupun dari mereka yang bergabung dengannya. Alasannya sangat jelas.

Sebuah badai hitam berputar di depan penglihatan Londes.

Tubuh Death Knight lebih besar dari manusia normal, tapi gerakannya yang lincah jauh melebihi ekspektasi siapapun.

Pria yang kabur hanya bisa mengambil tiga langkah.

Ketika dia akan mengambil langkah keempat, sebuah busur perak berkilauan membela tubuhnya menjadi dua. Bagian tubuhnya yang kanan dan kiri jatuh di arah yang berlawanan. Sebuah bau anyir memenuhi udara ketika organ dalamnya yang berwarna merah muda tumpah keluar.

“GUWOOOOOOOOOOHHHH!” Death Knight yang bersimbah darah meraung dengan mengayunkan pedangnya.

Itu adalah raungan kegembiraan.

Wajahnya yang gembira tidak salah lagi, meskipun sudah busuk, sebagai seorang pembantai yang sangat unggul, dia menikmati keputusasaan dan teror dari manusia yang menyedihkan yang tidak bisa selamat bahkan hanya dari satu sabetannya saja.

Tak ada yang berani menyerang, meskipun mereka memiliki pedang di tangan.

Pertama, mereka mencoba menyerang, meskipun mereka ketakutan. Namun pedang mereka yang mampu menembus pertahanan musuh merekapun tak bisa menembus armor Death Knight.

Sebaliknya, Death Knight tidak menggunakan pedangnya, tapi mengirimkan Londes terbang dengan hempasan perisainya dan dia melakukannya tanpa menggunakan kekuatan yang cukup untuk membunuh.

Jelas sekali dia mempermainkan mereka, dari caranya yang tidak menggunakan kekuatan penuh. Sangat jelas terlihat bahwa Death Knight itu ingin menikmati usaha terakhir dari manusia.

Death Knight hanya akan serius dan mengirimkan serangan mematikan ketika Knight itu berusaha kabur.

Knight pertama yang berlari adalah Ririk. Dia adalah orang yang baik namun seorang pemabuk parah. Anggota tubuhnya dibabat habis, diikuti kepalanya.

Setelah melihat dua kematian, knight yang lain tahu apa akibatnya, jadi mereka tidak berani kabur.

Serangan mereka tidak efektif, dan mereka akan terbunuh jika mereka lari.

Yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu giliran untuk disiksa hingga mati.

Meskipun tidak bisa melihat wajah dibalik helm yang mereka kenakan, semuanya yang hadir sangat paham nasib mereka. Teriakan pria dewasa berubah menjadi rengekan anak kecil yang menggema di area sekitar. Orang-orang yang selalu menindas yang lemah ini tidak terpikir bahwa suatu hari mereka akan seperti itu, mereka biasanya adalah yang tertawa terakhir.

“Oh Tuhan, tolong selamatkan aku…”

“Oh Tuhan…”
Setela mendengar rengekan mereka yang mencari keselamatan, kekuatan kaki kiri Londes pun hilang dia hampir jauh berlutut, dan dia dengan kerasnya mengutuk Tuhan — ataukah berdoa kepadanya?

“Kalian, kalian semua, pergi dan tahan monster itu!” seorang knight yang putus asa berteriak. Dia tahu kalau nasibnya sudah ditentukan. Ucapannya terdengar seperti ayat mazmur.

Pria yang berbicara itu berdiri di samping Death Knight. Cara dia tersandung ujung kakinya karena mundur dari mayat temannya cukup lucu.

Londes mengerutkan kening ketika melihat pria yang dalam keadaan menyedihkan itu. Sulit diketahui siapa yang mengucapkan kalimat tersebut karena helm mereka yang tertutup melindungi wajah dan suara mereka dibelokkan oleh ketakutan. Tapi tetap saja, dia tahu siapa yang berbicara seperti itu.

..Kapten Belius.

Kerutan dahi Londes semakin dalam.

Dikalahkan oleh nafsu birahinya, dia mencoba memperkosa seorang gadis desa lalu meminta bantuan yang lain setelah dia bertarung melawan ayahnya. Setelah dia dibantu oleh yang lainnya, dia mencurahkan kemarahannya pada sang ayah dengan menusukkan pedangnya. Itulah orang semacam dia. Namun, keluarganya adalah orang yang cukup kaya di negeri mereka, dan dia bergabung dengan unit ini karena kekayaan keluarganya.

Semuanya jadi kacau karena dia dijadikan sebagai pemimpin mereka.

“Aku bukan orang yang seharusnya mati disini! Kalian semua, cepat lindungi aku! Jadilah perisaiku!”

Tak ada yang bergerak. Dia memang menjadi pemimpin mereka, tapi dia tidak terkenal sama sekali. Tak ada yang akan menyerahkan nyawa demi orang semacam dia.

Namun, Death Knight merespon teriakannya, dan pelan-pelan mengarahkan wajahnya ke arah Belius.

“Aiiiiiieeeeee-!”

Hal yang patut dipuji darinya adalah bahwa dia bisa membuat suara sekencang itu sementara dia berdiri di depan Death Knight.

Saat Londes mulai menghormati kualitas aneh dari Belius, dia mendengar pria tersebut berteriak ketakutan :

“Uang, aku akan memberimu uang! 200 emas!! Tidak, 500 uang emas!!!”

Itu adalah jumlah yang sangat banyak. Namun saat ini, itu seperti mengatakan kepada mereka bahwa dia akan memberi membayar mereka yang melompat ke jurang dengan kedalaman 500 meter demi uang.

Meskipun tak ada yang merespon, satu orang — tidak, separuh manusia bergerak menjawabnya.

“Ubooooooarrrr…”

Bagian kanan dari anggota tubuh mayat yang terpotong mencengkeram kaki Belius dengan kuat. Luapan darah dari mulutnya tidak terdengar seperti sebuah kalimat.

“–Ogyaaaaaaaahhhhhhh!!!” Belius berteriak dalam suara yang tingginya luar biasa. Knight yang sedang menyaksikan dan penduduk desa terdiam ketakutan, kulit mereka merinding ketakutan.

Zombie tuan tanah.

Di dalam Yggdrasil, makhluk yang dibunuh oleh Death Knight akan menjadi undead dengan kekuatan yang bisa dibandingkan, menghantui tempat mereka dibunuh. Menurut peraturan game, jiwa yang terkutuk itu jatuh ke pedang Death Knight akan  menjadi budaknya selamanya.

Belius berhenti berteriak, dan jatuh seperti boneka yang terputus dari benangnya, memandang langit. Dia pasti pingsan. Death Knight semakin mendekat ke arah pria yang tak berdaya itu dan menghujamkan pedangnya yang berkelok-kelok.

Tubuh Belius mengejang, dan —
“Gu-guwaaaaaaargh!”

Bangun karena luka yang luar biasa, Belius berteriak: “Le.. Lepaskah akuh!! Akuh mohoh! akuh akah melakukah apapuh!!”

Dengan menggunakan kedua tangan, Belius berusaha menggenggam flamberge yang terlanjur menembus tubuhnya, tapi Death Knight tidak menghiraukan usahanya yang sia-sia dan terus menghujamkan flamberge miliknya seperti gergaji. Daging dan armornya dirobek dengan kejam, darah segar mengalir kemana-mana.

“–Ah.. ehhh.. akuh akah memberimuh uagh, le…lepaskah akuh…”

Tubuh Belius bergidik ngeri, lalu dia menghembuskan nafas yang terakhir. Saat itulah Death Knight merasa puas, dan dia menyingkir dari mayat Belius.

“Tidak…Tidak… Tolong, jangan…”

“Oh Tuhan!”

Teriakan mereka datangnya dari pemandangan yang berada di depannya. Jika mereka lari, mereka akan tewas dengan cepat, tapi jika mereka tetap disini, mereka tewas mengerikan. Mereka sangat tahu, tapi tetap saja, mereka tidak menggerakkan tubuhnya.

“Kuatkan diri kalian!”

Teriakan Londes memecah ratapan mereka. Dunia terdiam sejenak, seakan waktu berhenti berputar.

“–Mundur! Bunyikan terompet agar para penunggang kuda dan pemanah datang kemari! Sisanya berusahalah untuk mengulur waktu agar terompet bisa dibunyikan! Aku tak ingin mati seperti itu! Sekarang maju!”

Semuanya langsung bergerak.

Tak ada tanda kepanikan yang tadi menyerang mereka. Semuanya bergerak bersama-sama, seperti air terjun yang menggelora.

Kepatuhan mereka terhadap perintah tanpa berpikir dahulu membuat suatu keajaiban.  Tidak mungkin mereka bisa bergerak dengan rapi untuk kedua kalinya.

Setiap Knight melakukan apa yang harus mereka lakukan. Mereka harus melindungi knight yang akan meniup terompet dan memberi tanda kepada yang lainnya.

Salah satu prajurit yang mundur beberapa langkah menurunkan pedangnya dan mengambil terompet dari tasnya.

“OOOOHHHHHHHHHHHH!”

Death Knight merangsek maju, seperti bereaksi terhadap terompet yang dikeluarkan. Semuanya terkejut. Jangan-jangan Death Knight ingin menghancurkan kesempatan mereka untuk kabur agar dia bisa membunuh mereka hingga orang yang terakhir?

Gelombang kegelapan semakin mendekat, dan semuanya tahu jika maju dan mencoba menghentikannya sama artinya dengan kematian. Namun, knight yang masih datang terus satu persatu. Ketakutan mereka sirna sudah oleh ketakutan yang lebih besar dan mereka merangsek maju untuk menjadi rintangan.

Setiap kali perisainya bergerak, seorang knight terhempas ke udara.

Setiap kali pedangnya terayun, seorang knight terbelah menjadi dua.

“Dezun! Mouret! Penggal kepala mereka yang gugur! Cepat, sebelum mereka bangkit kembali sebagai monster!”

Knight yang disebutkan namanya cepat-cepat berlari menuju kawan mereka yang gugur.

Perisai diayunkan, dam seorang knight terhempas di uadara. Tubuhnya terbelah oleh Flamberge.

Empat orang telah hilang nyawanya dalam sekejap mata. Meskipun Londes masih dilanda ketakutan, dia mempersiapkan pedangnya untuk melawan badai hitam legam yang akan datang, seperti martyr yang bersiap untuk memberikan nyawanya demi keyakinannya.

“Ohhh!”

Mungkin itu adalah isyarat tak berarti, tapi Londes tidak berniat untuk menunggu kematian. Bersuara lantang seperti maju dalam peperangan, dia mengayunkan pedangnya dengan seluruh kekuatan pada Death Knight yang datang.

Mungkin itu dikarenakan keadaannya, tapi otot Londes sudah mencapai batasnya dan membuatnya kaget. Mungkin itu adalah sabetan terbaik yang pernah dilakukan Londes selama hidupnya.

Death Knight mengayunkan Flamberge miliknya pula.

Dalam sekejap, dunia di depan Londes berputar–

Dan dia melihat mayatnya yang tanpa kepala jatuh ke tanah, sedangkan pedangnya terayun-ayu di udara yang tipis.

Lalau saat itu, terompet dibunyikan.

[table style=”table-bordered”]

Sebelumnya Daftar ISI Selanjutnya

[/table]