Overlord – Volume 1 – Chapter 3 – Part 5

[Overlord v01] Chapter 3 Pertempuran di Desa Carne

Momonga — Ainz mengangkat kepalanya ketika suara terompet itu terdengar olehnya dari arah desa.

Area disekitarnya ditutupi oleh mayat-mayat dari knight yang berjaga disini. Bau darah menggantung hebat di udara, tapi Ainz tidak memperdulikannya sementara dia melakukan percobaan. Baru saja, dia mencaci dirinya sendiri karena memprioritaskan yang salah.

Ainz meletakkan pedang itu kembali. Pedang yang pada dasarnya milik knight yang tewas di tanah, mata pedangnya yang bersinar sekarang kotor oleh debu.

“..Aku sudah bilang sebelumnya, tapi aku iri terhadap daya tahannya terhadap serangan dan ability pasifnya untuk mengurangi seluruh damage ke diri sendiri.”

“Ainz Ooal Gown-sama.”

“..Ainz saja tidak apa, Albedo”

Ainz meminta dipanggil dengan versi pendek dari namanya membuat Albedo kebingungan.

“Ku, Kufu! Benarkah saya boleh melakukan hal itu?Itu. Itu terlalu kurang ajar memotong nama pemimpin dari 41 Pemimpin Tertinggi, terutama jika itu juga adalah nama dari penguasa Nazarick!”

Ainz tidak berpikir bahwa itu adalah masalah besar. Namun ucapannya berarti dia hormat kepada nama dari Ainz Ooal Gown, yang mana membuat Ainz senang. Namun, dia menjawab dengan kalimat dengan nada lembut:

“Tidak apa, Albedo, sampai mantan kawan-kawanku tiba, itu adalah namaku. Aku mengizinkanmu memendekkannya.”

“Saya mengerti..bukan, tapi biarkan saya memanggil anda dengan kehormatan yang lebih sesuai. Kalau begitu.. Tuanku, Ai.. Ainz-sama.. kukuku.. ya, itu benar…”

Albedo menggeliatkan tubuhnya dengan malu-malu.

Namun, karena dia sedang memakai armor lengkap, Ainz tidak bisa melihat wajahnya yang cantik. Baginya, dia hanya bertingkah aneh.

“Jangan, Jangan-jangan.. kukuku… hanya saya yang diperbolehkan memanggil anda demikian?”

“Tidak. Dipanggil dengan nama panjang seperti itu setiap saat membuatku jengkel, jadi aku ingin semuanya melakukan hal yang sama.”

“..Begitukah..ah, benar juga, ya, begitulah yang hamba pikirkan–”

Mood Albedo tiba-tiba suram. Dalam suara yang tidak enak, Ainz bertanya:

“..Albedo, bagaimana pendapatku dengan nama yang kuambil?”

“Saya rasa nama itu sangat cocok dengan anda. Sangat cocok dengan yang tercinta.. batuk, batuk– sangat cocok dengan anda, dalam kapasitas anda sebagai seseorang yang mempersatukan para pemimpin tertinggi.”

“..Nama ini dimaksudkan untuk merepresentasikan 41 orang dari kami, dan ini juga termasuk penciptamu, Tabula Smaragdina-san. Namun, aku membiarkan perasaan tuanmu dan yang lainnya, dan mengambil nama ini untukku begitu saja. bagaimana menurutmu mereka meresponnya?”

“..Meskipun saya takut untuk membuat anda marah… saya berdoa anda akan memperbolehkan saya berbicara. Jika ucapan saya tidak menyenangkan anda, maka yang saya bersedia bunuh diri jika anda memerintahkannya. Saya merasa bahwa beberapa Pemimpin Tertinggi yang mengabaikan kami mungkin akan merasa tidak terima nama itu digunakan oleh Momonga-sama, yang tetap bersama kami hingga akhir hingga sekarang. Namun, mereka tidak disini, jadi jika Momonga-sama menggunakan nama itu, yang saya rasakan hanyalah kebahagiaan.”

Albedo menurunkan kepalanya setelah dia selesai berbicara, dan Ainz kembali diam.

Frase “mengabaikan kami” berputar di otaknya seperti vortex.

Kawan-kawannya dulu telah meninggalkannya karena urusan masing-masing. Yggdrasil hanyalah sebuah game, dan mereka tidak bisa mengabaikan kehidupan nyata untuk sebuah game. Momonga merasakan hal yang sama juga. Namun bisakah dikatakan bahwa dia — yang sudah tertancap ke Ainz Ooal Gown dan Great Underground Tomb of Nazarick — menekan amarah kepada mantan kawan-kawannya?

Mereka mengabaikanku.

“..Itu mungkin benar, tapi juga tidak. Emosi manusia sangat rumit, dan tak ada jawaban yang benar. Angkatlah kepalamu, Albedo, Aku mengerti perasaanmu, Baiklah, sudah diputuskan.. ini akan menjadi namaku. Sampai teman-temanku protes, aku harus menjadi Ainz Ooal Gown.”

“Mengerti. Pemikiran dari tuan kami yang paling mulia.. dan yang paling aku cintai akan memakai nama yang agung ini membuat saya gembira.”

Yang paling aku cintai.. ah.

Perasaan tidak enak yang dirasakan Ainz terhadap hal ini membuatnya mengabaikannya untuk saat ini.

“..Benarkah begitu. aku gembira mendengarnya.”

“Kalau begitu, Ainz-sama, apakah anda ingin menghabiskan waktu disini? Meskipun saya gembira bisa berada disisi Ainz-sama, Saya.. benar sekali, jalan-jalan melewati hutan juga bagus.”

Dia tidak bisa melakukan iu. Ainz datang kemari untuk menyelamatkan desa ini.

Orang tua dari gadis-gadis yang minta diselamatkan itu sudah tewas.

Ketika dia memikirkan mayat mereka, dia menggaruk kepala.

Pemandangan dari tubuh mereka mengingatkan kepada serangan mati di jalanan. Tidak ada rasa kasihan, kesedihan, tak ada kemarahan.

“Hm, kalau begitu, jalan-jalan juga boleh. Lagipula, tidak ada hal penting yang harus dilakukan. Death Knight juga terlihat gembira melakukan tugasnya.”

“Seperti yang kuduga dari makhluk undead yang diciptakan oleh Ainz-sama. Eksekusi menakjubkan yang dilakukannya terhadap tugas pantas untuk dipuji.”

Undead yang dibuat oleh magic Ainz dan skill nya lebih kuat dari monste biasa semacam mereka karena skill class milik Ainz. Biasanya hal yang sama juga berlaku kepada Death Knight yang dia ciptakan. Namun, itu hanya monster berlevel 35, dan tidak bisa dibandingkan dengan monster yang membutuhkan XP untuk membuatnya, seperti Overlord Wiseman dan Grim Reapter Thanatos.

Faktanya dia masih bertarung sampai saat ini artinya musuh-musuhnya lemah.

Dengan kata lain, tidak ada bahaya.

Dia ingin melompat kegirangan ketika memikirkannya, tapi dia harus memikirkan perannya sebagai pemimpin yang berwibawa, jadi Ainz membuang jauh-jauh keinginannya. Namun, dia mengepalkan genggamannya, dibalik jubah.

“Musuh yang menyerang desa ini terlalu lemah. Kalau begitu, mari kita periksa yang selamat.”

Sebelum Momonga pergi, dia menyadari bahwa dia harus melakukan sesuatu dulu.

Pertama, dia mematikan efek spesial dari tongkat Ainz Ooal Gown. Aura bengis yang menyesakkan hilang begitu saja seperti cahaya lilin tertiup angin.

Selanjutnya, dia mengambil topeng dari inventory. Dihias dengan baik, dan ekspresinya sulit dijelaskan, ada diantara menangis dan marah. Mirip topeng barong dari Bali.

Hanya mereka yang masuk ke Yggdrasil selama lebih dari dua jam, antara tahun 1900 hingga 2200 saat natal, akan memiliki topeng ini — tidak, selama mereka berada di dalam game saat waktu tertentu, mereka akan otomatis menerimanya. Bisa dikatakan ini adalah item terkutuk.

Topeng ini diketahui bernama Mast of Jealousy atau Topeng Kedengkian.

Sekali, ketika dia memakai topeng ini, dia dibanjiri dengan pesan-pesan. “Apakah perusahaan sudah gila?” “Kami sudah menunggu hal ini.” “Tak ada di dalam Guild kita yang punya, Bisakah aku mem PK dia?” “Aku sudah muak menjadi manusia” dan hal-hal lain di papan pesan yang besar.

Lalu dia mengeluarkan sepasang sarung tangan. Tampilan luarnya sangat berbeda dengan kenyataan bahwa dia dibuat dengan kasar dan tidak ada property spesial.

Sarung tangan ini disebut Jarngreipr, dan itu adalah item armor yang dibuat oleh salah satu anggota Ainz Ooal Gown untuk iseng. Kemampuan satu-satunya adalah meningkatkan kekuatan pemakai.

Dia menggunakan item ini untuk menyembunyikan tampilannya yang hanya tulang.

Biasanya, tidak ada alasan untuk memakai kamuflase darurat. Itu karena Ainz menyadari dia membuat kesalahan fata.

Ainz sudah teribasa di Yggdrasil, dan melihat tulang belulang tidak membuatnya takut. Namun, bagi orang-orang di dunia ini. Tampilan Ainz adalah sama dengan Teror. Kedua gadis yang hampir tewas dan Knight yang memakai armor lengkap ketakutan terhadapnya.

Untuk sementara waktu, dia akan menggunakan item magic untuk merubah tampilannya dari “monster mengerikan” menjadi “Magic Caster Jahat”. Kelihatannya sudah cukup mengurangi rasa takut terhadap tampilannya. Lalu dia memikirkan tentang tongkatnya. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk menyimpannya. Disamping itu, itu bukan masalah baginya.

“Daripada memohon kepada Tuhan untuk bantuan, seharusnya kamu tidak membantai orang-orang ini tadi.”

Dengan kalimat yang hanya bisa diutarakan oleh seorang atheist, Ainz memalingkan muka dari mayat itu, yang tangannya dilipat mengisyaratkan sedang berdoa, dan mengucapkan mantra.

“[Flight].”

Ainz membumbung tinggi di udara, Albedo lalu mengikutinya.

“[Death Knight Jika ada knight yang selamat, biarkan mereka hidup. Mereka masih berguna untukku.]”

Death Knight memahami Ainz melalui sambungan mental yang mereka bagikan. Susah sekali untuk membuat pemikiran Death Knight yang jauh kedalam kata-kata.

Ainz terbang ke tempat dimana asal dari terompet itu dibunyikan, secepat mungkin. Angin mengibaskan tubuhnya, karena dia tidak pernah terang secepat ini di Yggdrasil. Jubah yang menutupi tubuhnya terlihat sedikit tidak nyaman, tapi itu berlalu dengan cepat.

Dia sudah tiba di langit di atas desa, dan Ainz melihat ke bawah pada pemandangan di bawahnya.

Ainz menemukan bagian dari alun-alun desa yang menjadi gelap, seperti menelan air. Ada banyak mayat yang beberapa knight yang gemetar, juga Death Knight.

Ainz menghitung knight yang terengah-engah, yang terlalu lelah untuk bergerak. Total ada 4 orang. Meskipun ada lebih dari yang diduga, beberapa tambahan bukanlah masalah.

“Death Knight. Cukup sampai disitu.”

Kalimatnya terdengar aneh dan tidak cocok dengan sekitar, seperti dia akan membeli sesuatu di toko. Tapi bagi Ainz, situasi ini adalah sangat biasa seperti pergi belana.

Dia pelan-pelan turun ke tanah, didampingi Albedo.

Knight yang tersisa memandang Ainz dengan mulut yang menganga. Mereka berharap bantuan, tapi apa yang datang adalah orang yang bertanggung jawab terhadap semua ini, hal terakhir yang ingin mereka lihat, dan kedatangannya memecahkan segala harapan mereka.

“Salam, kalian semua. Namaku adalah Ainz Ooal Gown.”

Tak ada yang menjawab.

“Jika kalian meletakkan senjata, aku bisa jamin nyawa kalian. Tentu saja, jika kalian lebih memilih bertarung–”

Satu pedang dilepaskan ke tanah. Setelah itu diikuti oleh lebihbanyak lagi pedang dilemparkan sampai ada empat pedang di tanah.

Tak ada yang bicara saat itu.

“…Kalian semua kelihatannya lelah. Olah karena itu, bukankah kepala kalian terlihat agak terlalu tinggi dihadapan tuan dari Death Knight?”

Para Knight itu langsung berlutut di depannya tanpa mengeluarkan suara sepatahpun.

Mereka tidak terlihat seperti bawahan kepada tuannya karena keputusan menunggu eksekusi mereka.

“..Aku akan mengizinkan kalian meninggalkan desa ini dengan nyawa masih tetap di badan. Tapi katakan pada tuan — pemilikmu tentang hal ini.”

Ainz menggunakan efek dari mantra [Flight] untuk bergerak mendekat ke salah satu Knight, lalu dia membuka helm nya dengan tangan yang tidak memegang tongkat Ainz Ooal Gown. Dia berkata kepada pria yang matanya sudah kelelahan, dan mata mereka saling bertemu melewati topeng.

“Jangan buat masalah disekitar sini. Jika kalian tidak mau mendengar nasehatku, aku akan membantai kalian dengan seluruh penduduk negara kalian semua.”

Knight yang gemetar mengangguk sekerasnya. Isyarat yang dikeluarkannya terlihat lucu.

“Pergilah. Dan pastikan untuk menyampaikan hal ini kepada tuan kalian.”

Dia menutup dagunya dan kabur secepat mungkin seperti kelinci.

“…Ah, berakting seperti ini melelahkan,” Momonga menggumam sambil melihat knight yang berlarian kabur.

Jika tak ada penduduk desa disekitarnya, dia mungkin akan meregangkan bahunya pula. Meskipun sama seperti di Nazarick, memainkan peran sebagai orang yang berwibaba sangat melelahkan bagi seorang pegawai kantoran rata-rata seperti Ainz. Namun, sampai layar ditutup, dia harus beraktif seperti itu, dan dia harus mengenakan topeng lainnya.

Ainz menahan diri untuk tidak menghela nafas dan berjalan ke arah penduduk desa. Albedo mengikuti di belakangnya, setiap langkahnya diikuti oleh suara benturan logam.

“[Bersihkan budak-budak zombiemu]” Perintah Ainz kepada Death Knight.

Ketika Ainz semakin mendekat, dia bisa melihat dengan jelas kebingungan dan perasaan tidak enak yang ada di wajah para penduduk.

Mereka bukan tidak senang bahwa mereka diselamatkan dari para knight, tapi ketakutan oleh orang yang berada di depannya.

Ainz akhirnya menyadari ini. Dia sangat kuat, lebih kuat dari knight-knight tersebut, jadi dia tidak menganggap situasi ini dari sudut pandang orang lemah.

Dia memutuskan untuk bercermin sebentar dan memikirkannya.

Jika dia mendekat kepada mereka, hasilnya akan semakin kebalikan dari yang dia harapkan. Oleh karena itu, Ainz memutuskan berhenti dan menjaga jarak dari mereka, dan berbicara dengan nada yang lembut.

“Kalian sudah diselamatkan. Tenanglah.”

“A.. Anda adalah..”

Salah seorang penduduk desa mengatakan demikian, bahkan di tengah berbicara dengan Ainz, matanya tidak pernah lepas dari Death Knight.

“Aku melihat seseorang menyerang desa ini, jadi aku kemari untuk membantu.”

“Ohh..”

Sementara suara-suara itu keluar, terlihat perasaan lega di wajah para penduduk. Namun mereka tetap tidak bisa tenang.

Menyusahkan sekali. Apakah aku harus mencoba cara lain?

Ainz memutuskan untuk mengerjakan hal ini dengan cara yang tidak dia sukai.

“Meskipun begitu, ini tidak gratis. Aku mengharapkan imbalan yang pantas dari jumlah penduduk yang aku selamatkan.”

Para penduduk saling melihat. Kelihatannya mereka khawatir dengan uang. Namun, perasaan ragu dalam diri mereka hilang seketika. Permintaan uang sebagai imbalan ini benar-benar menghilangkan kecurigaan mereka.

“De.. Dengan keadaan desa seperti ini..”

Ainz mengangkat tangannya untuk mendiamkan pria itu sebelum melanjutkan.

“Kita akan diskusikan itu nanti. Aku menyelamatkan sepasang gadis sebelum kemari. Aku akan pergi dan mengambil mereka sekarang. Bisakah kalian tunggu aku disini?”

Dia harus yakin jika dua orang gadis itu tidak berbicara dan tidak membocorkan identitasnya.

Tanpa ditunggu balasannya, Ainz pelan-pelan terbang menjauh. Di saat yang sama dia memikirkan untuk menggunakan magic untuk merubah ingatan.

[table style=”table-bordered”]

Sebelumnya Daftar ISI Selanjutnya

[/table]