Overlord – Volume 1 – Chapter 4 – Part 1

[Overlord v01] Chapter 4 Konflik (Duel)

Kepala desa tinggal di dekat alun-alun desa. Ketika memasuki rumahnya, akan disambut oleh ruang tamu yang luas, sedangkan dapur berada di sisi lain. Sebuah meja tua dan reyot serta beberapa kursi duduk di tengah ruangan.

Ainz melihat-lihat interior ruangan tersebut dari tempat dia duduk di salah satu kursi.

Cahaya matahari yang bersinar melewati jendela menerangi setiap sudut ruangan, jadi dia bisa melihat dengan jelas di dalamnya tanpa perlu mengaktifkan dark vision.

Dia melihat wanita yang ada di ujung dapur, dan alat-alat pertanian di dalam rumah.

Tidak ada produk-produk manufaktur yang bisa terlihat dimanapun.

Saat Ainz berpikir bahwa tidak banyak hasil teknologi disini, Ainz menyadari bahwa pemikirannya mungkin sempit. Tetap saja, dia penasaran tentang ilmu pengetahuan macam apa yang ada dunia yang dikembangkan oleh magic.

Ainz memindah tangannya ke seberang meja tua untuk menghindari cahaya matahari. Sarung tangan metal bukannya berat, tapi dibuat dengan kasar dan membuat mejanya goyang karena beratnya. Kursinya juga berderit ketika Ainz duduk padanya.

Ini pasti yang disebut “kemiskinan”.
Ainz menyandarkan tongkatnya pada meja agar tidak menghalangi jalan orang. Ketika tongkat itu memantulkan cahaya matahari dengan tampilan yang berkilauan membuat orang merasa seperti melangkah ke dunia mistis, meskipun berada dalam rumah reyot. Dia mengingat kembali ekspresi terkejut dari wajah penduduk desa.

Gelombang kebanggaan mendatangi Ainz ketika penduduk bertanya tentang tongkat yang dibuat oleh dia dan teman-temannya dengan menakjubkan. Namun, kegembiraannya langsung ditekan hingga level normal, yang mana membuat Ainz mengerutkan dahi yang kenyataannya tidak ada.

Jujur saja, Ainz tidak suka efek menenangkan yang dipaksakan ini. Meskipun begitu, benar juga jika terlalu tidak tenang akan membuatnya tidak mungkin bisa menyelesaikan tantangan di depannya. Dengan itu Ainz mempersiapkan diri untuk menghadapi masalah yang akan datang.

Dia telah bernegosiasi tentang pembayaran untuk menolong desa dari kepala desa.

Tentu saja, tujuan Ainz sebenarnya adalah mendapatkan informasi, dan bukan uang. Namun, jika dia langsung bertanya tentang informasi, akan membuat mereka curiga.

Memang tidak apa di desa yang kecil seperti ini, ketika pemimpin daerah mengetahui, mereka akan berusaha menemukan Ainz. Ketika mereka sudah menemukan bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, ada kemungkinan besar mereka akan memanfaatkannya.

Apakah dia terlalu berlebihan memikirkan hal ini?

Ainz merasa ini seperti berlarian melewati jalanan ramai — kecelakaan fatal bisa terjadi setiap saat. Kecelakaan fatal dalam hal ini adalah bertemu dengan makhluk kuat dari dunia ini.

Kekuatan dan kelemahan adalah dua sisi yang sama dari sebuah koin.

Sampai sekarang, Ainz masih lebih kuat dari siapapun yang pernah ia jumpai di desa. Namun, itu bukan berarti menjadi lebih kuat dari siapapun di dunia. Di tambah lagi, Ainz sekarang adalah seorang Undead, dan dari reaksi ketakutan yang diperlihat oleh dua gadis itu, yang sangat tahu dimana tempat undead di dunia ini. Dia harus berhati-hati karena kebanyakan manusia membencinya, mereka mungkin akan menyerangnya. Itulah kenapa, dia harus bersikap sangat hati-hati disini.

“Maaf sudah membuat anda menunggu.”

Kepala desa duduk di hadapan Ainz. Istrinya bediri di belakangnya.

Kulitnya gelap dan tertutup keriput.

Tubuhnya sangat berotot, dan jelas bahwa otot itu sudah terlatih dengan pekerjaan kasar. Lebih dari separuh rambutnya sudah memutih.

Meskipun bajunya yang dibuat dengan kasar kotor oleh tanah, tapi tidak berbau.

Wajah yang lelah itu membuat Ainz berpikir usianya lebih dari 45 tahun, tapi susah sekali ditebak, karena kelihatannya dia tumbuh lebih pada beberapa jam lalu.

Istri kepala desa berusia sekitar sama dengan suaminya.

Dia pernah menjadi wanita cantik, tapi setelah beberapa tahun bekerja di ladang, kecantikan itu sudah tidak terlihat lagi. Sekarang dia tidak lebih dari hanya bibi kurus dengan keriput di seluruh wajahnya.

Rambut sebahunya yang panjang tampak acak-acakan, dan dia terlihat lebih suram meskipun di bawah sinar matahari langsung.

“Silahkan dinikmat.”

kepala desa meletakkan cangkir yang terlihat kasar di meja. Albedo tidak disini karena dia sedang berpatroli di desa.

Ainz mengangkat tangannya, menolak secangkir air yang panas dan beruap.

Dia tidak merasa haus, atau bisa membuka topengnya. Namun, dia merasa seharusnya menolaknya di awal tadi, karena melihat betapa susahnya si istri mempersiapkannya.

Masalahnya bukan karena air yang mendidih.

Pertama, ada hal yang ingin dia lihat bahwa membuat percikan api dengan batu korek. Lalu, menyalakannya dengan serbuk gergaji — atau kayu — dengan percikan api itu. Lalu, dia harus mengipasi apinya, dan ketika sudah cukup besar, dia harus memindahkannya ke kompor. Lalu dia harus mendidihkan air, dan ketik dia sudah selesai, waktu yang lama telah berlalu.

Ini adalah pertama kalinya Ainz melihat air yang dididihkan dengan api yang dibuat dengan tangan, daripada menggunakan ceret listrik. Dia melihatnya cukup menarik. Dulu ketika di dunia, dia mendidihkan air di kompor gas, jadi tidak seberat dan memakan waktu lama seperti ini.

Ini juga merupakan kesempatan bagus untuk mengumpulkan informasi pada level teknologi di dunia ini. Dengan itu di kepala, Ainz berbicara kepada kepala desa lagi:

“Maafkan saya, terutama karena anda sudah bersusah payah mempersiapkan air ini untuk saya.”

“Anda terlalu baik. Tidak usah meminta maaf.”

Fakta bahwa Ainz merendahkan kepalanya kepada mereka (walaupun hanya sedikit) membuat kepala desa dan istrinya ketakutan. Mereka tidak bisa membayangkan bahwa tuan dari Death Knight akan membungkukkan kepala kepada siapapun.

Namun, itu bukanlah hal yang aneh bagi Ainz. Itu selalu merupakan ide yang bagus untuk bisa bersikap bersahabat kepada orang yang diajak bicara.

Tentu saja, dia hanya menghadapi mereka sama seperti dia menghadapi dua orang gadis itu, dengan menggunakan ‘daya tarik seseorang’ untuk membuat mereka bicara diikuti dengan mantra merubah ingatan tingkat tinggi. Namun, itu adalah cara terakhir, karena mantra itu menyedot terlalu banyak MP.

Ainz mengingat rasanya ketika dia menghabiskan MP; rasanya seperti kelelahan yang aneh, seperti kehilangan sesuatu.

Hanya merubah semenit atau lebih dari ingatan mereka sampai dia mengenakan kembali topengnya telah menguras banyak MP.

“Kalau begitu, mari kita langsung ke permasalahan dan mendiskusikan bayaranku.”

“Ya, tapi sebelum itu.. saya ingin berterima kasih banyak.”

Kepala desa itu membungkuk kepada Ainz, kepalanya turun sangat ke bawah sehingga hampir menyentuh meja. Setelah itu, istrinya juga ikut membungkuk.

“Tanpa bantuan anda, kami semua pasti sudah mati sekarang. Terima kasih banyak atas bantuannya!”

Ainz sangat terkejut menerimma rasa terima kasih yang tulus itu.

ketika dia melihat kembali ke kehidupannya yang lama, dia tak pernah diberi ucapan terima kasih seperti ini sebelumnya. Tidak, dua orang gadis yang diselamatkan sebelumnya juga bersikap demikian. Dia memang tak pernah menyelamatkan seseorang sebelumnya jadi dia pikir reaksi mereka adalah biasa.

Itu adalah kepingan masa lalunya ketika masih menjadi manusia — sebagai Suzuki Satoru. Meksipun dia agak malu karena apresiasi tulus ini, dia tentu saja menyukainya.

“Tolong, angkat kepala anda. Seperti yang kubilang tadi, saya tidak menolong anda dengan gratis.”

“Kami tahu hal itu, tapi tetap saja, kami sangat berterima kasih kepada anda karena sudah menyelamatkan kami dan banyak penduduk lainnya.”

“…Maka, dengan membayarku itu sudah cukup. Ayo, kita diskusikan hal itu. Kamu pasti banyak pekerjaan lain, sebagai kepala desa.”

“Tak ada yang lebih penting daripada menghabiskan waktu dengan penyelamat kami, tapi saya mengerti.”

Kepala desa itu pelan-pelan mengangkat kepalanya, dan Ainz bersiap untuk memeras otaknya.

Tujuannya disini adalah memperoleh informasi melalui percakapan, daripada melalui magic.

–Menyusahkan saja.

Dia masih ingat trik yang dia gunakan sebagai pekerja kantoran. Betapa efektifnya hal itu disini? Aku harap, setidaknya separuh dari hal itu akan berguna. Setelah menguatkan diri melawan kemungkinan gagal, Ainz bertanya:

“..To the point saja. Berapa banyak kamu bisa membayarku?”

“Kami tidak berani untuk membohongi penyelamat kami. Saya tidak tahu berapa banyak silver dan tembaga yang bisa kami kumpulkan jika kita tidak mengumpulkannya dari setiap orang, tapi saya percaya kita bisa mengumpulkan sekitar 3000 keping tembaga.”

Aku tidak tahu sama sekali apa artinya itu, Ainz mengolok dirinya sendiri.

Menanyakan langsung adalah kesalahan. Seharusnya aku mencoba pendekatan berbeda. Disamping itu, aku memang seorang pekerja yang payah mulanya, dan skill job milikku juga buruk.

Kelihatannya itu cukup besar, tapi tanpa tahu nilai uang, dia tidak bisa apakah itu adalah jumlah yang sesuai atau tidak. Dia menghindari agar tidak menerima terlalu banyak atau terlalu rendah, jangan sampai dia menunjukkan ketidak tahuannya.

Tidak, dia seharusnya bersyukur mereka tidak menawarkan “Empat Ekor binatang ternak” atau semacamnya.

Saat dia akan tenggelam karena depresi, keadaan mentalnya langsung tenang. Ainz diam-diam memuji dirinya karena memiliki tubuh Undead, lalu dia menyadari satu hal lagi.

Pertama, tembaga dan silver adalah unit dasar dari mata uang di desa ini.
Kedua, seharusnya ada bentuk mata uang lain yang kurang atau lebih bernilai, tapi dia tidak percaya diri bisa menarik informasi ini dari mereka.

Dia harus belajar nilai keuangan dari keping tembaga. Tanpa memiliki pengetahuan, keadaan akan menjadi gawat di masa depan. Namun, tanpa tahu nilai mata uang akan menyebabkan kecurigaan, dan dia ingin tetap menjaga diri sambil mempelajari lebih dalam tentang dunia ini.

Itulah kenapa dia berpiki sekeras mungkin untuk menghindari kesalahan besar.

“Koin kecil ini susah di bawa dalam jumlah besar. Aku ingin menukarnya dengan nominasi yang lebih besar, bisa kamu melakukannya.”

“Kami mohon maaf sejujurnya, jika kami bisa membayar dalam keping emas, kami akan melakukannya. Namun… faktanya desa kami tidak menggunakan keping emas…”

Ainz menahan hasrat ingin menghela nafas karena lega.

Jawaban kepala desa mengarah seperti yang dia harapkan. Oleh karena itu, Momonga dengan serius menanyakan pertanyaan selanjutnya: “Bagaimana kalau begini: Aku berencana untuk membeli produksi dari desa ini dengan harga yang tepat, jadi yang kamu lakukan hanyalah membayarku dengan mata uang yang kamu lakukan dalam berdagang.”

Ainz diam-diam membuka inventorinya di balik baju, dan mengambil sepasang koin emas dari Yggdrasil. Salah satu koinnya dihias oleh wajah seorang wanita, sementara koin lain dihiasi oleh wajah seorang pria. Yang pertama adalah koin dari update besar “Valkyrie’s Downfall”, sementara yang terakhir adalah koin sebelum update.

Nilai mereka sama, tapi mereka mempunyai arti berbeda bagi Ainz.

Koin lama itu adalah salah satu yang mengikuti Ainz sejak dia pertama kali mulai bermain Yggdrasil hingga update, ketika Ainz Ooal Gown berada di zaman keemasan. Equipment miliknya hampir lengkap saat itu, jadi koin ini hanya disimpan di peti inventori.

Dimulai dari mage tengkorak, dia menggunakan mantranya untuk mengalahkan musuh yang berkeliaran di dunia dan mendapatkan koin emas yang mengambang di udara. Dia bermain solo di dungeon, mengalahkan monster ganas di dalamnya, dan memperoleh tumpukan besar emas dengan susah payah. Setelah anggota Ainz Ooal Gown menyelesaikan dungeon, mereka menjual kristal data mereka dan sebagai gantinya, mereka menerima keping emas ini, yang melambangkan zaman keemasan mereka.

Tapi Ainz membuyarkan topi itu sesaat.

Dia meletakkan koin yang lama, dan memegang koin baru.

“…Jika aku menggunakan keping emas ini untuk membeli sesuatu. Apa yang bisa kudapatkan?”

Dia meletakkan koin emas di meja. Berbarengan, kepala desa dan istrinya saling memandang, mata mereka semakin lebar.

“I, Ini!”

“Ini adalah mata uang yang digunakan oleh daerah jauh disana. Apa bisa digunakan disini?”
“Kelihatannya bisa.. tolong tunggu sebentar.”

Perasaan lega menyelimuti Ainz ketika dia mendenga koin ini bisa digunakan. Lalu, dia melihat kepala desa beranjak dari duduknya, pergi ke kamar, dan kembali dengan sesuatu yang dia lihat ketika pelajaran sejarah.

Obyek tersebut disebut Timbangan.

Setelah itu, giliran istrinya. Dia mengambil koin emas tersebut dan meletakkannya di benda bulat, seakan dia membandingkan ukuran mereka. Setelah dia puas, dia meletakkan koin emas itu ke nampan timbangan, dan di nampan lain adalah bandul pemberatnya.

Dia mengingat bahwa hal ini disebut sebagai “menentukan masa standar”.

Saat Ainz mencoba mengingat kembali, dia membandingkan mereka kepada tindakan si istri dan mencoba untuk mencari tahu apa yang dia lakukan. Bagian pertama seharusnya membandingkan koin miliknya dengan koin emas di negara ini, dan selanjutnya dia mencoba mengetahui kandungan emasnya.

Kelihatannya koin emas itu lebih berat, dan standard masanya naik. Istri kepala desa itu meletakkan massa lain, dan kedua sisi akhirnya seimbang.

“kelihatannya berat koin ini lebih besar dua kali dari normal koin emas.. mungkin, mungkin jika kita bisa menggosok permukaannya…”

“O..Oi! Kamu jangan kurang ajar! Mohon maaf atas sikap istri saya yang mengatakan hal-hal yang bodoh..”
Tidak aneh. Dia pasti berpikir bahwa itu hanya disepuh emas. Ainz tidak tersinggung sepenuhnya, tapi dia tidak marah.

“Tidak apa.. meskipun begitu, jika kamu periksa dan menemukannya murni emas, kamu akan membelinya, ya khan?”

“Ah, maaf.. kami mohon maaf untuk hal ini.”

Istri kepala desa itu membungkuk minta maaf, dan mengembalikan koin emas itu.

“Tidak usah dipikirkan. Lagipula, wajar jika ingin mengkonfirmasi uang apapun yang diberikan padamu. Tetap saja, bagaimana pendapatmu dengan keping emas ini? Apakah kamu berpikir ini hasil dari seni?”

“Memang benar, ini sangat indah. Bolehkah saya bertanya nama negara asalnya?”

“Sudah tidak ada.. ya, negara itu sudah tidak ada.”

“Oh begitu…”

“Kamu telah meyakini sendiri bahwa beratnya 2 kali lebih berat dari kepingan emas biasa, tapi mempertimbangkan nilai artistiknya, kepingan emas ini seharusnya bernilai lebih sebagai hasilnya, bagaimana pendapatmu?”

“Mungkin begitu.. tapi kami bukan pedagang, dan kami tidak tahu nilai dari seni…”

“Hahaha..itu tidak salah, Jadi, jika aku menggunakan ini untuk membeli sesuatu, nilainya seperti dua keping emas normal?”

“Te.. Tentu saja.”

“Sebenarnya, aku punya beberapa kepingan seperti ini. Apa yang kamu bisa juga padaku untuk itu? Tentu saja, aku akan membayar dengan harga biasanya. Aku tidak keberatan jika itu setara dengan pedagang jalanan. Tentu saja, silahkan periksa koin ini, silahkan…”

“Ainz Ooal Gown-sama!”

Kepala desa tiba-tiba bersuara keras dan membuat jantung Ainz yang tidak ada menjadi berdegup tiba-tiba. Ekspresi yakin dari kepala desa terlihat lebih keras dan lebih kuat dari sebelumnya.

“…Ainz tidak apa.”

“Kalau begitu, Ainz-sama?” Kepala desa terlihat agak terkejut dengan hal ini, tapi dia langsung mengangguk dan melanjutkan pembicaraan:

“Saya sangat mengerti apa yang Ainz sama inginkan.”
Untuk sesaat, Ainz bertanya-tanya apa ada tanda tanya besar di atas kepalanya yang muncul. Kelihatannya ada salah pengertian atau semacamnya disini, tapi karena dia tidak tahu apa yang ingin kepala desa utarakan selanjutnya, jadi dia tidak tahu bagaimana menjawabnya.

“Aku sangat mengerti bahwa Ainz-sama tidak ingin terlihat murah, dan saya mengerti bahwa anda ingin meminta hadiah yang sebanding agar pandangan publik terhadap anda tidak jatuh. Memang benar, membutuhkan uang dalam jumlah yang cukup besar untuk menyewa Ainz-sama. Oleh karena itu, apa yang anda inginkan disamping 3000 tembaga?”

Ainz tidak tahu apa yang kepala desa bicarakan dan pikirannya kebingungan. Dia bersyukur dalam hati sedang memakai topeng. Alasan Ainz mengeluarkan koin emas adalah karena dia ingin tahu apa yang bisa dia beli, dan itu bisa membuatnya mengerti nilai pasar pada umumnya. Bagaimana bisa berakhir seperti ini?

Kepala desa itu tidak memberi Ainz kesempatan untuk memotong dan melanjutkan:

“Namun, seperti yang saya bilang tadi, desa ini hanya bisa memberikan 3000 keping tembaga tunai. Meskipun anda curiga pada kami, kami tidak berani menyimpan kebenaran dari penyelamat kami, Ainz-sama.”

Ekspresi kepala desa terlihat jujur dan teguh. Dia tidak terlihat bohong. Jika ternyata nantinya adalah kebohongan, maka Ainz hanya bisa mengutuk ketidak mampuannya membaca orang.

“Tidak, saya yakin orang besar seperti Ainz-sama tidak mungkin puas dengan jumlahitu. Mungkin jika semua orang di desa mengumpulkan kekayaannya, kami mungkin bisa menghasilkan uang yang cukup untuk memuaskan Ainz-sama. Namun.. desa kami telah kehilangan banyak tenaga, dan jika kami membayar lebih dari 3000 keping tembaga, kami takkan bisa selamat di musim dingin nanti. Hal yang sama juga berlaku bagi hasil bumi kami. Jika kami memberikan persediaan kami kepada anda, hidup kami akan sangat susah. Meskipun menyakitkan bagi kami untuk meminta kepada penyelamat hati sedikit kebaikan hati, mungkin.. kami bisa.. membayarnya dengan cicilan?”

Hm? Bukankah ini adalah kesempatan yang bagus?

Seperti di dalam hutan lebat, pandangannya saat ini tiba-tiba melebar. Ainz berpura-pura memikirkan hal ini, lalu yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa dan berhasil. Setelah beberapa saat, Ainz akhirnya berbicara.

“Aku mengerti. Pembayarannya tidak usah.”

“Eh?! Tapi.. Tapi kenapa?”

Kepala desa dan istrinya memandang Ainz, mata mereka melebar dan lidah mereka kelu. Ainz mengangkat tangannya dan menunjukkan bahwa masih ada yang ingin dia katakan. Dia harus memikirkan apa yang bisa dia buka dan tidak, dan itu sangat menyusahkan. Dia tidak tahu jika dia bisa menuntun mereka untuk mengatakan apa yang dia inginkan, tapi dia tidak ada pilihan untuk mencoba.

“..Aku adalah seorang magic caster. Aku sedang mempelajari mantra di tempat yang disebut Nazarick, dan aku baru saja keluar ke dunia ini baru saja.”

“Ternyata begitu, jadi itu alasannya anda berpakaian seperti ini.”

“Ah, mm. Benar sekali,” Ainz bergumam sambil menyentuh Topeng Kedengkian.

Apa yang akan orang bicarakan di jalanan jika mereka melihat seorang magic caster berjalan-jalan dengan busana yang aneh?

Dia berpikir tentang jalanan yang ramai seperti di Bali dan dia mengenakan topeng barongnya sambil jalan-jalan disana, dan saat dia berharap untuk tidak melihat hal semacam itu di dunianya, Ainz menyadari sesuatu yang dia tidak bisa mengerti, mengapa istilah Yggdrasil seakan bisa dimengerti dan digunakan disini.

Istilah “magic caster” mempunyai arti banyak hal. Termasuk Cleric, Priest, Druid, Arcane, Sorcerer, Wizard, Bard, Miko, Talismancer, Sage dan kelas-kelas yang menggunakan magic lainnya yang tak terhitung. Di Yggdrasil, mereka semua disebut magic caster. Agak kaget juga jika terminologi yang ada disana terbawa ke dunia ini.

Saat Ainz melihat reaksi mereka, dia membalas:

“..Aku mungkin mengatakan tidak ingin hadiah, tapi seorang magic caster menggunakan bermacam-macam alatuntuk meraih tujuannya, termasuk ketakutan dan pengetahuan. Hal semacam ini adalah tool yang bisa mendatangkan keuntungan, tapi seperti yang kubilang sebelumnya aku sedang berfokus dalam mempelajari sebuah mantra, jadi pengetahuanku terhadap masalah lokal entah bagaimana semakin berkurang. Oleh karena itu, aku ingin belajar tentang sekeliling dari kalian berdua. Ditambah lagi, aku haap kalian tidak akan mengatakan ini pada siapapun tentang jual beli informasi ini. Aku akan menganggap itu sebagai hadiah.”

Tak ada yang sebaik itu dan bilang “aku tidak ingin apapun”. Orang akan bilang Tak ada yang lebih mahal daripada hal yang gratis.

Seseorang menyelamatkan nyawa orang lain pantas mendapatkan hadiah atas kerja keras mereka. Namun, jika si penyelamat bilang dia tidak ingin hadiah, orang akan menganggapnya aneh.

Kalau begitu, hal terbaik selanjutnya adalah membuat pihak lain merasa mereka membayar hadiahnya, meskipun itu tidak jelas bentuknya.

Dengan kata lain, solusi terbaik untuk situasi sekarang adalah untuk menenangkan kecurigaan mereka dengan bertukar informasi dengan Ainz. Akan membuat mereka tenang.

Kepala desa dan istrinya mengangguk, wajah tabah terlihat pada mereka.

“Saya mengerti. kami tidak akan membiarkan siapapun tahu tentang ini.”

Ainz mengepalkan tangannya tanda setuju. Kelihatannya kemampuan profesionalnya masih bisa dipakai disini.

“Bagus sekali. Aku tidak ingin mengikatmu dengan magic. Aku akan percaya kepada sikap baikmu.”

Ainz mengarahkan tangannya yang tertutup sarung tangan. Kepala desa itu memandang kosong pada tangan itu sesaat sebelum menyadari situasinya, lalu dia menjabat tangan Ainz.

Setelah itu, Ainz menghela nafas lega. Kelihatannya jabat tangan adalah praktek yang diketahui disini. Jika kepala desa terlihat bengong padanya, itu akan terlihat sangat suram…

Tentu saja, Ainz tidak benar-benar mempercayai mereka. Lagipula, mulut yang disegel oleh janji keuntungan bisa dibuka dengan keuntungan yang lebih besar. Jika dia mencoba bermain dalam pribadi mereka untuk membuat mereka menutup mulut. Sifat alami manusia akan membuat mereka bicara. Tak ada metode yang lebih baik dari yang lainnya, jadi yang hanya bisa dilakukan oleh Ainz adalah menerima resiko dan berharap bahwa karakter dari kepala desa tidak akan membuat dia membuka rahasia itu. Meskipun tidak apa jika dia melakukannya. Pengkhianatan itu hanyalah akan menjadi jaminan lebih yang bisa digunakan oleh Ainz di masa depan untuk menghadapi desa.

Namun, insting Ainz mengatakan padanya bahwa mereka takkan mengkhianatinya. Setelah melilhat rasa terima kasih yang tulus dari kepala desa dan istrinya dia percaya bahwa mereka akan loyal kepadanya.

“Kalau begitu.. bisakah kamu beritahu padaku tentang tempat ini?”

“..Bagaimana bisa jadi seperti ini?”

“Urk! Apakah ada masalah?”

“Tidak, tak apa. Aku hanya bicaa sendiri. Maafkan aku sudah membuat suara aneh dan mengagetkanmu.”

Ainz langsung kembali normal dan langsung melindungi dirinya. Jika tubuhnya masih manusia, dia pasti akan berkeringat banyak sekarang.

Kepala desa hanya bilang, “Begitukah” dan tidak bertanya lebih jauh.

Mungkin kepala desa sudah memutuskan sama kepada “magic caster” dan “orang aneh”. Maka, bagi Ainz itu lebih baik…

“Apa saya siapkan minuman untuk anda?”

“Oh tidak, aku tidak haus. Tolong, jangan repot-repot.”

Istrinya sudah tidak ada lagi di ruangan itu — ada banyak hal yang memerlukan bantuannya. Hanya Ainz dan kepala desa yang ada di rumah sekarang.

Pertama Ainz bertanya tentang negara-negara tetangga, dan kepala desa merespon dengan banyak nama yang tidak pernah ia dengar. Meskipun Ainz sudah mempersiapkan diri untuk hal ini, dia terkejut juga setelah mendengarnya.

Pertama, Ainz mengira ini adalah dunia yang dibuat mirip dengan prinsip dasar dari Yggdrasil. Lagipula, dia bisa menggunakan magic Yggdrasil di sini, dan ada banyak koneksi dengan Yggdrasil juga. Namun, tak ada nama yang pernah ia dengar yang berhubungan dengan Yggdrasil.

Negara tetangga adalah Re-Estize Kingdom, Baharuth Empire dan Slaine Theocracy. Nama-nama ini tidak muncul dalam konteks Yggdrasil, yang mana terinspirasi oleh mitologi Nordic.

Ainz merasa seakan dunai berputa dan tubuhnya terhuyung-huyung. Ainz memegang pinggiran meja dengan sarung tangannya untuk mempertahankan keseimbangannya. Meskipun dia sudah menduga bahwa dunia ini adalah asing, akhirnya dia terkejut olehnya.

Dampaknya lebih besar dari yang dia duga.

Ini pertama kalinya dia merasa terguncang sejak dia menjadi undead.

Ainz mencoba sebaik mungkin untuk tetap tenang, dan mempertimbangkan kembali apa yang dia dengar tentang kerajaan-kerajaan tetangga dan geografis lokalnya.

Pertama, Re-Estize Kingdom dan Baharuth Empire. Kedua negara ini berada di sisi berbeda dari deretan pegunungan, dan di sebelah selatan dari pegunungan itu adalah hutan yang luas, dan di batas hutan itu adalah desa ini, di bawah Re-Estize Kingdom, dan kota benteng E-Rantel.

Hubungan antara keduanya memburuk, dan mereka selalu berperang di gurun dekat E-Rantel setiap tahun.

Di sebelah selatan adalah Slane Theocracy.

Cara terbaik untuk menjelaskan orientasi dari negara-negara ini adalah dengan menggambar sebuah lingkaran, lalu membaginya dengan simbol huruf “T” yang terbalik. Kelihatannya membingungkan, tapi lebih mudah untuk dijelaskan seperti itu. Di sebelah kiri adalah Re-Estize Kingdom, di sebelah kanan adalah Baharuth Empire, dan dibawahnya adalah Slane Theocracy. Ada negara lain, tapi kepala desa hanya tahu tiga ini.

Kepala desa tidak yakin dimana tepatnya letak desa ini antara ketiganya.

Dengan kata lain —

“…Kamu pasti menertawakanku.”

Knight yang tadi mengenakan armor dengan emblem bertanda Baharuth Empire, jadi kepala desa pecaya bahwa mereka berasal dari Baharuth Empire. Tapi area ini juga termasuk dalam perbatasan Slane Theocracy, jadi mungkin saja mereka adalah knight dari negara tersebut yang menyamar.

Melepaskan mereka semua adalah kesalahan. Dia bisa saja menyekap salah satu untuk ditanyai, dan waktu sudah berlalu lama sejak itu.

Jika ini adalah ulah dari Slaine Theocracy, maka dia seharusnya melakukan sesuatu di sisi Empire. Di sisi Kingdom, dia seharusnya sudah mengumpulkan cukup niat baik dengan mereka karena sudah menyelamatkan desa mereka, jadi seharusnya keadaan sudah baikan sekarang.

Ainz tenggelam dalam pemikirannya.

Apakah dia satu-satunya yang datang ke dunia ini?

Tidak mungkin. Ada kemungkinan besar pemain lain datang kemari juga. Mungkin Herohero-san juga disini. Dia harus berpikir atas apa yang akan terjadi jika dia bertemu pemainlain.

Jika pemain lain juga datang ke dunia ini, mereka mungkin akan berkumpul, melihat sifat alami dari orang Jepang. Ketika tiba saatnya, mereka akan melakukan apapun untuk bisa berbaur. Dia bisa menyerahkan apapun selam itu tidak melibatkan Ainz Ooal Gown.

Masalahnya adalah apa yang akan terjadi jika sisi lain menganggapnya sebagai rintangan. Kemungkinannya kecil, tapi masih bisa diperhitungkan.

Ainz Ooal Gown adalah guild yang selalu bermain sebagai peran penjahat. Mereka selalu mem PK untuk bisa mencapai kemenangan dan karena mereka guild yang paling dibenci. Dia tidak yakin masih belum melepaskan imej negatif ini. Yang dia tahu, pemain lain mungkin ingin balas dendam padanya karena merasa benar.

Untuk menghindari pihak lain melakukan balas dendam padanya, dia harus menghindari apapun yang bisa membuatnya melawan orang-orang di sekitar, sebagai contoh, membantai populasi lokal –terutama penduduk yang tidak bersalah– mungkin akan membuat marah pemain lain yang belum kehilangan rasa manusia sepenuhnya. Tentu saja, akan beda lagi masalahnya jika ada alasan yang membuat mereka puas, seperti membunuh knight-knight yang mencoba menghancurkan desa ini.

Di saat apapun, sebaiknya tindakan masa depan diambil karena alasan yang paling tinggi. Itu juga berarti dia mungkin akan melakukan hal-hal yang tidak dia sukai, tapi itu tidak bisa dihindari.

Jika orang-orang yang pernah ditemui membenci Ainz Ooal Gown, maka pertarungan sudah tidak terelakkan lagi. Jika seperti itu, dia harus merencanakan serangan balik jika situasi itu terjadi.

Melihat kekuatan saat ini dari pertahanan Nazarick, mereka bisa dengan mudah mengungguli sekitar 30 pemain dengan level 100. Di tambah, mereka juga bisa menggunakan item kelas dunia untuk bertahan, jadi itu adalah benteng yang hampir tidak bisa dijebol. Mereka mungkin mampu menghalau penyusup seperti di masa lalu.

Namun, mudah sekali melihat situasi darurat tanpa bala bantuan. Di tambah lagi, kartu as dai Ainz Ooal Gown adalah item kelas dunia mereka akan menghabiskan level Ainz setiap saat dia melepaskannya dengan kekuatan penuh. Jika mereka menyerang dan berhasil, saat dimana item kelas dunia menjadi tidak bisa digunakan mungkin akan datang.

Ainz sangat jelas dengan skenario peperangan game seperti ini di kepalanya cenderung bias dan berpandangan sempit. Namun, Ainz bukanlah anak kecil lagi, dan dia akan selalu mempertimbangkan skenario terburuk dengan melakukan sebuah tindakan. Ini hanya berpikir sederhana tentang bagaimana menghadapi masalah sebelum itu terjadi.

Jika dia hanya ingin melewatinya, dia cukup hidup di pegunungan seperti hewan buas. Namun, kekuatan yang dia miliki dan nama besar yang dia perjuangkan mencegahnya melakukan hal itu.

Jika yang hanya dia inginkan adalah hidup berdampingan dengan damai di dunia ini, yang harus dia lakukan hanyalah menghadapi masalah ketika mereka datang.

Seperti, berperang dan memperlebar kekuatan tempur akan menjadi topik penting di masa depan. Dia harus mengumpulkan informasi tentang dunia ini, begitu juga tentang berita pemain lain.

“..Itu sudah cukup.”

“Ada apa?”

“Tidak, bukan apa-apa, aku hanya melamun karena ada hal tidak seperti yang kuduga, bisakah kamu memberitahuku tentang hal lain sekarang?”

“Ah, ah ya, saya mengerti.”

Kepala desa mulai bicara tentang monster selanjutnya.

Sama seperti Yggdrasil, dunia ini juga dihuni oleh monster di dalamnya. Hutan di dekat sini dipenuhi monster-monster, dan salah satu yang diketahui bernama “Wise King of the Forest” (Raja Bijak dari Hutan). Ada juga Dwarve, bermacam-macam elf, goblin, beastmen, ogre dan sebagainya. Kelihatannya beberapa demihuman membangun negaranya sendiri.

Ada orang yang disebut sebagai petualang yang mengusir monster-monster ini, dan mereka menggunakan banyak magic caster dalam kelompoknya. Kelihatannya, petualang ini mempunyai guild sendiri di kota besar.

Terlepas dari itu, dia juga mengetahui kota benteng di dekat sini yaitu E-Rantel.

Menurut kepala desa, E-Rantel adalah kota terbesar di dekat sini, meskipun dia tidak tahu seberapa besar populasinya. Kelihatannya itu adalah tempat terbaik untuk mengumpulkan informasi.

Sementara ucapan kepala desa sangat membantu, masih ada banyak hal yang belum jelas. Oleh karena itu, sebaiknya mengirim seseorang kesana untuk mencari tahu, daripada bertanya kepada kepala desa lagi.

Akhirnya, ada persoalan dalam bahasanya. Mengagetkan sekali mereka bisa memahami bahasa Jepang di dunia baru ini. Hasilnya, Ainz memperhatikan mulut kepala desa dengan cermat, dan menemukan bahwa dia, pada dasarnya, tidak bicara bahasa Jepang. Kalimat dan gerakan mulutnya juga tidak sama dengan bahasa Jepang.

Setelah itu, dia melakukan sedikit percobaan.

Kesimpulan yang dia dapat adalah bahwa seseorang telah memberikan orang-orang ini semacam makanan untuk mentranslasi seperti Konnyaku. Namun, dia tidak tahu siapa yang memberikannya kepada mereka.

Bahasa di dunia ini akan diterjemahkan sebelum pihak lain mendengarnya.

Jika dia bisa mengerti apa yang orang lain katakan, maka dia seharusnya juga mampu berkomunikasi dengan makhluk hidup selain manusia, umpamanya, seekor anjing atau kucing. Pertanyaannya adalah siapa yang melakukannya. Ditambah lagi kepala desa tidak merasa aneh dengan hal ini.

Baginya, kelihatannya ini adalah hukum alam.

–Dengan kata lain, ini adalah prinsip umum dari dunia ini. Sekali lagi, ketika dipikir dengan tenang ini adalah dunia magic, yang mana berjalan dengan konsep yang sangat berbeda dari dunia dimana Ainz dilahirkan.

Kelihatannya pengetahuan umum dan fakta yang dia pelajari di kehidupannya dulu tidak lagi bisa diaplikasikan disini. Ini adalah masalah yang sangat berat.

Jika dia mengabaikan dunia ini, ada kemungkinan dia akan membuat kesalahan fatal. Kalimat “mengabaikan” sama dengan “mala petaka”, dalam hal ini.

Saat ini, Ainz kekurangan informasi tentang sekitar. Dia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya, tapi dia tidak tahun bagaimana memulainya. Jangan-jangan dia harus menculik seseorang dan membuatnya mengatakan semua yang dia tahu? Itu tidak mungkin.

Jika itu masalahnya, maka hanya ada satu pilihan baginya.

“…Kelihatannya aku harus tinggal di kota untuk sementara.”

Dia harus mengawasi dan meniru banyak hal untuk mempelajari dunia ini. Dia juga harus mengerti magic di dunia ini, dan banyak hal lainnya.

Sambil memikirkan hal ini, dia mendengar langkah dari luar menuju pintu kayu yang rapuh. Ada jarak lebar di antara suara langkah kakinya, itu artinya siapapun itu, tidak sedang terburu-buru. Itu adalah langkah yang tenang, lamban dan seorang pria dewasa.

Sebuah ketukan datang dari pintu ketika Ainz mulai menengok. Kepala Desa melihat wajah Ainz. Dia tidak berani bertindak sendiri karena masih menjelaskan sesuatu kepada penyelamatnya, sebagai pembayaran dari menyelamatkannya dan yang lainnya di desa.

“Silahkan saja. Aku juga bermaksud istirahat. Aku tidak keberatan jika anda keluar.”

“Mohon maaf sedalam-dalamnya untuk ini,” ucap kepala desa sambil membungkuk meminta maaf. Dia menuju pintu, dan ketika dia membukanya, seorang penduduk muncul. Dia melihat kepala desa terlebih dahulu, lalu kepada Ainz, dan berkata:

“Kepala desa maaf sudah mengganggu ketika sedang ada tamu kita, tapi mereka sudah siap terhadap pemakaman…”

“Oh..”

Kepala desa melihat ke arah Ainz, dan matanya memohon persetujuan.
“Tidak apa, tidak usah mengkhawatirkan aku.”
“Terima kasih. Kalau begitu, bilang pada yang lainnya aku akan segera kesana.”

[table style=”table-bordered”]

Sebelumnya Daftar ISI Selanjutnya

[/table]