Overlord – Volume 2 – Chapter 1 – Part 1

Overlord Light Novel

[Overlord v02] Chapter 1 Dua Petualang


Kota dari kerajaan Re-Estize, E-Rantel, terletak pada perbatasan antara Baharuth Empire dan Slane Theocracy. Karena kota ini dilindungi oleh 3 lapis dinding kota, karena tampilannya itu sering disebut sebagai Fortress City (Kota Benteng). Area diantara setiap lapis dinding mempunyai karakteristik unik sendiri.

Dinding terluar digunakan oleh militer kerajaan dan memiliki persenjataan militer. Dinding terdalam adalah area untuk administrasi. Area ini memiliki gudang makanan, dan sangat dijaga ketat oleh prajurit.

Area di antara dua area ini adalah area pemukiman penduduk. Ketika kamu mendengar kalimat kota, ini adalah area yang cocok dengan itu.

Dari beberapa plaza (tempat terbuka untuk publik) di dalam area ini, yang terbesar disebut central plaza (plaza pusat). Banyak orang-orang yang mendirikan dagangan mereka disini, menjajakan bermacam-macam sayuran, bumbu dan bermacam-macam barang dagangan lainnya.

Di dalam kerumunan yang sibuk, pemilik dagangan akan berteriak dengan keras untuk menarik pelanggan. Para Ibu rumah tangga tua dan pedagang saling menawar harga dari bahan segar, yang muda-muda tertarik dengan aroma daging kebab yang juicy dan telah di panggang.

Plaza ini sangat ramai di hari biasa, atmosfir yang sesak dan bising akan terus berlanjut hingga matahari terbenam. Tetapi dua orang yang terlihat meninggalkan bangunan lima lantai itu mengakhiri suasana gaduh tersebut.

Setiap pasang mata di plaza tertarik pada dua orang itu sehingga mereka hanya berdiri saja tak bergerak.

Salah satu dari mereka adalah seorang wanita dengan usia lima belas hingga dua puluh tahun. Sudut matanya sangat tajam dan bersinar seperti batu obsidian yang cemerlang. Rambut hitamnya yang tebal dan berkilau diikat dengan bentuk kuncir kuda dan kulitnya yang putih seperti saljut berkilauan tertimpa matahari seperti mutiara.

Bagian yang paling menonjol darinya adalah hawa elegan dan kecantikan yang eksotik yang akan membuat siapapun melihatnya melihatnya lagi dua kali. Jubah coklat yang dia kenakan memang biasa, tapi ketika dia pakai terlihat seperti gaun mewah.

Yang menemaninya tidak diketahui jenis kelaminnya, karena tak tanda-tanda yang terlihat untuk memastikannya.

Beberapa orang di plaza berbisik-bisik: “Dark Warrior.”
Benar sekali, orang itu memakai armor full body yang elegan dihiasi dengan hiasan berwarna ungu dan emas. Wajahnya tak bisa dilihat dari celah sempit di penutup kepalanya. Di bawah mantel merah di punggungnya, dua pedang besar bisa terlihat, melengkapi gaya berpakaiannya.

Keduanya melihat-lihat sekeliling dan figur yang memakai armor mengambil langkah pertama.

Kerumunan itu mulai berbisik-bisik saat mereka melihat dari belakang dua figur yang menghilang di kejauhan itu. Mereka terkejut dengan pemandangan langka yang baru saja mereka lihat dan merasa tidak takut atau waspada terhadap dua orang yang bersenjata itu.

Alasannya adalah karena dua orang itu keluar dari gedung yang dikenal sebagai “Adventure Guild” (Guild para petualang), sebuah asosiasi bagi para ahli yang memburu monster. Orang-orang yang bersenjata lainnya juga meninggalkan gedung itu setelah mereka berdua pergi. Orang-orang yang melihat juga memperhatikan medali tembaga kecil yang menggantung di leher mereka.

Dua orang itu menarik perhatian hanya karena kecantikan si gadis dan armor keren yang mencolok.

Mereka berjalan tanpa bicara di jalan sempit.

Air yang tergenang di jalanan membawa pantulan matahari. Jalan itu sendiri terbuat dari pasir dan lumpur, itu artinya jalan tersebut tidak sebaik jalan-jalan yang diaspal dengan batu dan susah untuk dilewati. Mudah sekali untuk terpeleset dan jatuh, tapi keseimbangan dari pasangan itu sangat bagus dan kecepatan berjalan mereka hampir sama seperti saat mereka berjalan di jalan yang diaspal dengan batu.

Wanita yang berjalan cepat itu memastikan tak ada siapapun di sekitar mereka dan berkata kepada yang memakai armor di sampingnya:
“Ainz-sa–”

“–Jangan, namaku adalah Momon. Dan kamu bukanlah maid petarung Narberal dari Great Tomb of Nazarick, tapi partner bertualang dari Momon yaitu Nabel.”

Orang yang berlapis armor penuh — Ainz — menyela gadis yang bernama Narberal dan dia membalas:
“Ah!Maafkan hamba, Momon-sama.”

“Jangan menambah namaku dengan -sama. Kita adalah petualang biasa dan teman seperjalanan. Akan terlihat aneh bagimu menambahi namaku dengan -sama.”

“Ta.. Tapi! Bagaimana mungkin saya bisa bersikap kurang ajar terhadap anda, penguasa tertinggi?”

Ainz menghentikan Narberal yang terdengar gelisah dengan isyarat tangan, memberi tanda kepadanya untuk merendahkan suaranya. Lalu dia membalas dengan sebuah petunjuk menyerah dan tidak berdaya:

“Aku sudah mengulangnya berkali-kali: Disini, aku adalah Dark Warrior Momon.. Bukan, Cuman partnermu Momon, jadi jangan menambahi namaku dengan -sama. Itu adalah perintah.”
Setelah terdiam sesaat, Narberal menjawab ogah-ogahan:

“Saya mengerti Momon-sa—san.”

“Lupakan saja, itu juga tidak apa, tak perlu menambahkan honorifik sebenarnya. Jika kamu menambahkan honorifik ketika memanggil teman… bagaimana aku mengatakannya…orang lain akan berpikir kita tidak dekat.”

“Tapi… itu sangat kurang ajar…”

Ainz memegang bahu Narberal yang tergagap:

“Kita tidak boleh menunjukkan siapa kita sebenarnya, kamu mengerti bagian itu, ya khan?”

“Anda benar sekali.”

“..Nadamu.. yah, lupakan saja. Lagipula.. apa yang ingin aku katakan adalah bahwa kamu harus berhati-hati terhadap apapun yang kamu katakan atau lakukan.”

“..Mengerti, Momon-sa–san. Tapi apakah tidak apa bagi saya untuk menemani anda? Bukankah seseorang yang secantik dan selembut Albedo-sama lebih cocok?”

“Albedo, ya…”

Ainz mengikuti ucapan yang penuh dengan perasaan yang rumit.

“Dia harus mengatur Nazarick ketika aku sedang tidak ada disana.”

“Maafkan kelancangan saya, tapi anda bisa menyerahkan manajemen Nazarick kepada Cocytus-sama. Seluruh guardian juga merasa demikian… Memperhitungkan keselamatan anda, bukankah Guardian terbaik, Albedo-sama, adalah pilihan terbaik?”

Ainz tersenyum canggung atas pertanyaan Narberal.

Ketika dia mengekspresikan harapannya untuk menuju E-Rantel, Albedo adalah yang paling keberatan.

Lagipula, dia tahu dia tidak akan bisa menemani.

Segera setelah dia dipindahkan ke dunia ini, Ainz pergi keluar dan meninggalkan pengawalnya di belakang dan Albedo menyalahkan dirinya sendiri karena tidak kompeten. Oleh karena itu, Ainz tidak mampu untuk menentang dengan kuat pendapatnya. Tapi kali ini berbeda karena ini dilakukan setelah banyak perencanaan yang matang, jadi dia tidak akan mundur.
Golongan yang menentangnya adalah para guardian yang dengan patuh mendengar ‘perintah’, meskipun jika itu melawan kehendak mereka. Tapi Ainz tidak berpikir jika itu adalah hal bagus. Dia merasa bersalah memaksakan kehendaknya kepada guardian yang diciptakan oleh teman-teman guildnya.

Ainz mencoba untuk meyakinkan mereka dan Albedo yang bersikeras menentang. Mereka tidak memiliki jalan tengah dan ditakdirkan untuk tak pernah sampai pada persetujuan umum. Tapi Demiurge membisikkan sesuatu ke telinga Albedo, dan tiba-tiba dia menghentikan perlawanannya. Dia bahkan mengucapkan selamat tinggal dengan senyum menyetujui.

Ainz masih tidak tahu apa yang Demiurge katakan padanya dan dia merasa tidak enak bagaimana Albedo merubah pendiriannya dengan cepat.

“…Aku tidak membawa dia karena tidak ada yang lebih aku percaya lebih dari dia. Aku bisa meninggalkan Nazarick tanpa khawatir karena dia ada disana.”

“Seperti yang saya duga! Itu artinya Albedo-sama adalah yang paling dekat dengan Momon-sa–san ya khan?”

Meskipun dia tidak mengakui itu secara lisan, tapi Ainz mengangguk untuk menjawab pertanyaan Narberal.

“Aku sudah tahu bahayanya.”

Ainz mengangkat sarung tangan kanan dan menunjukkan cincin di jainya:

“Tapi aku harus melakukan ini sendiri. Hanya memberi perintah dari Nazarick akan membuatku melakukan kesalahan di dunia yang tak diketahui ini. Ada saatnya harus pergi keluar dan merasakan dunia ini sendiri… mungkin ada metode yang lebih baik untuk menyelesaikan ini, api aku merasa idak enak dengan banyak hal yang tidak kuketahui.”

Dia menjawaba dengan sungguh-sungguh dari celah di penutup kepalanya. Lalu Narberal menjawab “Saya paham sekarang.” dan membuat ekspresi bahagian, Ainz memintanya dengan sedikit rasa tidak enak:

“Aku punya pertanyaan padamu.. apakah kamu percaya manusia adalah makhluk rendahan?”

“Benar sekali, manusia adalah sampah yang tidak ada gunanya.” jawaban Narberal dari hatinya yang paling dalam tanpa sedikitpun keraguan. Ainz berguman lirih “Ah, jadi kamu merasakan hal yang sama.”, tapi karena suaranya terlalu lirih Narberal tidak mendengarnya. Dia meneruskan omongannya: “Itu adalah sifatnya, itulah kenapa aku tidak ingin masuk ke kota manusia. Aku seharusnya mengerti karakter dari bawahanku dulu.”

Itu adalah salah satu alasan dia tidak membawa Albedo. Dia benar-benar yakin manusia adalah makhluk rendahan. Jika Ainz membawa seseorang sepertinya ke dalam kota yang penuh dengan manusia, hanya akan berakhir dengan banjir darah jika dia terpeleset; itu bukan hal yang bisa jati bahan tertawaan. Alasan lain adalah ketidak mampuan Albedo untuk menyamarkan diri, dia tidak mampu menyembunyikan tanduk dan sayapnya.

Dan ada alasan utama yang lain, yang tidak bisa dia katakan dengan keras.

Seorang pegawai kantoran biasa seperti Ainz tidak memiliki kepercayaan diri untuk menjalankan organisasi hanya dengan membaca laporan orang lain. Itulah kenapa dia melempar tanggung jawab berat menjalankan Nazarick kepada Albedo yang berbakat. Jika bawahannya sangat bagus, memberikan ke bawahan tersebut untuk bebas memerintah adalah keputusan terbaik. Supervisor aneh yang ikut campur sia-sia hanya akan menyebabkan tragedi.

Dan Albedo diikat erat dengan dua kunci ‘kesetiaan’ dan ‘cinta’. Itulah alasan Ainz bisa menyerahkan Great Tomb of Nazarick di tangannya.

Cinta, huh…

Kapanpun Ainz melihat Albedo atau mendengar ungkapan cinta padanya, Ainz akan teringat terus bagaimana dia yang sembrono mengubah pengaturan Albedo. Ketika server akan berakhir, Ainz merubah pengaturan karakter Albedo untuk jatuh cinta sedalam-dalamnya kepada Momonga–yaitu Ainz. Dulu dia tidak tahu dia akan dipindahkan ke dunia alternatif yang tidak diketahui ini, dia hanya bermaksud becanda di akhir.

Orang sepertinya.

Memikirkan dalam-dalam tentang itu—bahkan jika Albedo tidak keberatan–apa yang akan temannya, Tabula Smaragdina pikir jika dia tahu apa yang Ainz sudah lakukan?

Dan bagaimana perasaannya tentang hal ini? NPC yang dia buat ditulis ulang oleh teman…

Dia mengambil keuntungan dari hal itu, menggunakan fakta bahwa Albedo tidak akan mengkhianatinya. Dia membenci dirinya sendiri karena hal ini.

Ainz menggelengkan kepalanya untuk membuang pemikiran negatifnya. Selurung emosinya yang kuat akan tertekan setelah dia berubah menjadi undead, tapi dia bisa merasakan emosi setingkat ini seakan dia masih seorang manusia. Jika pikirannya telah berubah menjadi Undead, dia tidak akan merasakan perasaan bersalah lagi.

Terbagi perhatiannya karena pemikiran semacam itu, Ainz menolehkan penutup kepalanya ke arah Narberal:

“…Nabel, aku tidak akan memintamu untuk berhenti berpikir sepert itu, tapi kamu harus menekannya. Ini adalah kota manusia dan kita tidak tahu manusia kuat macam apa yang mungkin kita temui, jadi jangna terlalu menarik perhatian dari musuh dengan pemikiran itu.”

Narberal membungkuk dalam-dalam mengekspresikan kesetiaannya kepada Ainz, tapi Ainz menjangkau dia, mengangkat kepala Narberal dan memperingatkannya:

“Satu hal lagi, aku tidak yakin jika manusia akan merasa terancam…oleh hasrat membunuh kita ketika kita ingin bertarung atau sedang berada di tengah petempuran. Tapi kelihatannya kita bisa mengeluarkan aura semacam itu. Jadi jangan bertindak gegabah tanpa izinku, mengerti?”

“Saya mengerti Momon-san–san.”

“Bagus sekali.. kedai yang kita lihat sebelumnya seharusnya di dekat sini.”

Ainz melihat sekelilingnya.

Ada beberapa toko yang buka, dengan senjumlah kecil pelanggan yang mengunjungi. Disampingnya ada beberapa pekerja memakai celemek sedang membawa barang.

Mereka mencari kedai minuman di area yang dipenuhi toko dengan mencocokkan pola gambar di tangan Ainz dengan pola di papan penanda. Karena Ainz dan Narberal tidak bisa membaca bahasa negara ini mereka harus menggunakan cara ini.

Segera setelahnya, mereka menemukan pola tujuannya. Ainz mempercepat langkahnya secara tak sada dan diikuti oleh Narberal.

Sekumpulan debu mengotori sepatu armor miliknya, Ainz melangkah 2 kali, membuat pintu ganda dengan kedua tangan dan masuk.

Hampir semua jendelanya tertutup, memberikan cahaya remang-remang di dalam. Mereka yang terbiasa dengan cahaya terang di luar tidak akan mampu beradaptasi langsung. Tapi bagi Ainz, yang memiliki nightvision, cahaya sebanyak ini sudah lebih dari cukup.

Interiornya luas; lantai satu adalah area makan dengan sebuah counter. Dua lemari diletakkan di belakang counter, dengan banyak botol anggur di dalamnya. Pintu di samping counter mungkin menuju dapur.

Di sudut area makan adalah tangga yang menyiku ke kanan menuju lantai dua. Menurut wanita di counter, lantai dua dan tiga adalah ruang kamar tamu. Sejumlah pelanggan tersebar di sekeliling dari meja makan bundar. Kebanyakan dari mereka adalah pria dengan atmosfir yang terasa bermusuhan.

Semuanya melihat ke Ainz dan mereka terlihat menerka ukurannya. Satu-satunya yang tidak peduli dengan Ainz adalah wanita yang sedang duduk di sudut dan sedang memandangi sebuah botol di mejanya.

Pemandangan di kedai minuman ini membuat Ainz mengangkat alisnya yang memang tak ada di dalam penutup kepalanya.
Dia sudah siap secara mental untuk ini, tapi tetap merasa lebih jorok dari yang dia kira.

Di YGGDRASIL, ada banyak tempat yang kotor dan menjijikkan dan bahkan Great Tomb of Nazarick adalah salah satunya. Contohnya adalah aula Lord of Terror atau Gua raksasa dari cacing beracun. Tapi kotor yang itu berbeda.

Ada banyak sisa makanan di seluruh lantai dan cairan yang tidak diketahui; noda aneh di dinding; item berbentuk kubus misterius tertempel di pojok…

Ainz menghela nafas di hatinya dan melihal sekeliling kedai.

Ada pria dengan syal kotor di lehernya, dengan lengan bajunya yang diangkat untuk memamerkan lengannya yang berotot. Ada beberapa luka yang entah dari cakar binatang buas ataukah luka pedang.

Tampangnya diantara kejam dan buas, bekas luka itu bisa dilihat dengan jelas di wajah dan kepalanya dicukur habis.

Dia lebih terlihat seperti tukang pukul daripada pemilik, dengan memegang kain lagi sembil mengamati Ainz dengan jelas.

“Mencari kamar? Berapa malam?”, dia bertanya dari seberang ruangan dengan suara yang terdengar seperti lonceng usak.

“Kami ingin tinggal satu malam.”

Bos pemilik menjawab dengna kasar:

“…Medali Tembaga. Ruangan umum 5 koin tembaga permalam. Oatmeal dengan sayuran sebagai pelengkap, satu koin tembaga lagi jika ingin daging. Oatmeal mungkin akan diganti dengan roti yang sudah beberapa hari.”

“Jika bisa, aku ingin double room (kamar dobel).”

Pemiliknya mendengus:
“..Ada 3 kedai yang digunakan secara khusus oleh petualang dan milikku adalah yang terburuk dari semuanya… Apakah kamu tahu mengapa orang-orang di guild memperkenalkan tempat ini kepadamu?”

“Entahlah, tolong beritahu aku.”

Menjawab pertanyaan Ainz, pemilik itu mengangkat alisnya dan menunjukkan sisi intimidasi:

“Gunakan otakmu! Ataukah didalam helm mencolok itu kosong?” Bahkan setelah mendenga suara keras dan tidak sabar dari pemiliknya, Ainz tetap tidak bergeming. Dia dengan tenang mengacuhkannya dan menganggapnya seperti kemarahan anak kecil karena pertempuran beberapa hari yang lalu.

Setelah pertempuran, dan informasi yang dia dapatkan dari tawanan, Ainz mengerti sekuat apa dia. Itulah kenapa dia tidak ingin gelisah setelah dibentak seperti itu.
Si pemilik sedikit terkejut dengan reaksi Ainz:

“..Kamu punya nyali sekali.. Kebanyakan petualang yang tinggal disini memiliki medali tembaga atau besi. Bahkan jika kamu bertemu seseorang pertama kalinya, kamu bisa membentuk kelompok petualang jika kemampuanmu kira-kira sama. Itulah kenapa tempatku sangat cocok bagimu untuk menemukan teman seperjalanan yang cocok dengan kemampuanmu saat ini…”

Mata pemilik menyala sesaat:

“Kamu bisa tidur di kamar seperti yang kamu inginkan, tapi kamu takkan mendapatkan teman seperjalanan tanpa menggunakan pokok yang sama. Jika kamu tidak ingin membentuk kelompok yang seimbang, kamu akan tewas jika melawan monster-monster. Orang baru tanpa rekan menunjukkan dirinya di tempat sesak seperti ini. Aku akan tanya sekali lagi, kamu ingin ruangan umum atau doble room?”

“Double room. aku akan melewatkan makananya.”

“Tch, mengabaikan niat baikku.. Atau apakah kamu pikir kamu adalah orang spesial dan armor seluruh tubuhmu yang mencolok itu bukan hanya untuk tontonan? Lupakan saja, semalam adalah 7 koin tembaga. Bayar dimuka, tentu saja.”

Pemilik itu segera mengulurkan tangannya.

Di bawah tatapan mata setiap orang. Ainz mulai berjalan menuju dia dengan Narberal mengikutinya di belakang — ketika tiba-tiba sebuah kaki menjuluk dan menghalangi langkah Ainz.

Ainz berhenti, hanya menggerakkan tatapannya kepada orang yang menjulurkan kakinya.

Orang itu menunjukkan seringaian yang menjengkelkan. orang lain di meja yang sama juga melakukan hal yang sama, menatap Ainz atau Narberal.

Pemilik dan pelanggan lain diam saja dan tidak ikut campur. Semuanya terlihat tidak berbeda, tapi mereka sebenarnya ingin melihat pertunjukan bagus, dengan beberapa dari mereka melihat seluruh pemandangan itu dari dekat.

“Well, well…”

Ainz menghela nafas pelang karena tersinggung dan dengan lembut menendang kaki itu.

Orang yang terlihat menunggu tindakan ini berdiri. Karena dia tidak mengenakan armor, ototnya yang besar di bawah kausnya sangat mudah terlihat. Sebuah kalung menggantung di sekeliling lehernya, berayun pada setiap gerakannya. Sama seperti yang dipakai Ainz, tapi yang terbuat dari besi bukan tembaga…

“Hey, hey, itu sakit.”

Pria itu mengancam Ainz dengan suara tajam dan mendekatinya pelan-pelan. Dia mengenakan sarung tangan ketika dia berdiri dan bagian logamnya berbunyi saat dia mengepalkan tangannya.
Pria ini sebesar Ainz dan mereka berdiri sedikit terlalu dekat untuk mencari keributan saat mereka saling menatap satu sama lain. Ainz menerima ancamannya:
“Ternyata begitu. Pandanganku agak buruk karena penutup kepala ini, jadi aku tidak melihat kakimu di depanku. Atau mungkin aku tidak tahu kakimu karena terlalu pendek.. Itulah alasanku, maukah kamu memaafkanku?”
“..Sialan.”

Ejekan Ainz membuat pria itu menatap dengan bahaya, tapi ketika dia menolehkan pandangan untuk melihat Narberal yang berdiri di belakang Ainz, tatapannya terpaku padanya:
“Kalian adalah orang yang menjengkelkan.. tapi aku adalah orang baik. Aku akan memaafkanmu jika kamu meminjamkan wanita itu semalam saja.”

“Ke, kekeke.”
Ainz tertawa dingin, menahan Narberal yang ingin menghajar pria itu.

“..Apa yang kamu tertawakan?”
“Bukan apa-apa, hanya saja kamu mengatakan ucapan klasik yang cocok sebagai kelompok penjahat, yang membuatku tertawa, jangan khawatir tentang itu.”
“Huh?” Wajah pria itu berubah merah karena marah.
“oh, sebelum kita mulai aku ingin bertanya: Apakah kamu lebih kuat dari Gazef Stronoff?”
“Huh? Kamu ngomong apa?”
“Ternyata begitu, aku bisa melihat dari reaksimu. Aku bahkan tak perlu menggunakan kekuatanku untuk bermain denganmu — lalat.”

Ainz menggenggam dada pria ini dan mengangkatnya tinggi dalam sekejap.

Pria itu tidak bisa mengelak atau menahan, berteriak  “Whoa!” karena kaget. Orang-orang yang melihat pemandangan itu menjadi gaduh. Seberapa kuat lengannya jika dia bisa mengangkat seorang pria dewasa? Semuanya yang hadir bisa membayangkan seberapa kuat dia agar bisa melakukannya.

Kaki pria itu menendang sia-sia saat gelombang teriakan dan terkejut datang dari kerumunan.
Ainz melemparnya dengan pelan.

Tapi ‘pelan’ itu relatif bagi Ainz.
Pria itu hampir mengenai atap saat dia terbang dan mendarat dengan keras di tanah.

Suara tubuh yang bertubrukan, sesuatu seperti meja yang pecah, kayu yang patah dan raungan kesakitan dari pria itu menggema di dalam ruangan. Kedai itu menjadi terdiam seakan kaget oleh erangan. Tapi–
“Hya—–!”
–Wanita yang duduk di meja berteriak agak telat. Itu adalah teriakan seakan bencana datang dari langit.
Tidak, Itu adalah hal biasa jika berteriak seperti seperti saat seorang pria tiba-tiba jatuh dari langit, tapi selain dari rasa terkejut tercampur dalam teriakan itu.

“..Jadi, apa yang inging kalian lakukan? Kalian bisa datang kepadaku sama-sama agar tidak menyusahkanku? Membuang waktu karena hal ini adalah hal yang bodoh.”
Ainz memancing orang-orang yang satu meja dengan si pembuat masalah, dan teman-temannya mengerti arti dari kalimat itu dan menurunkan kepala mereka:

“Ah? Ehh! Teman kami sudah menyinggungmu! Kami minta maaf atas hal itu!”
“..Okay, aku akan memaafkanmu. Tidak masalah, tapi pastikan kalian membayar meja itu kepada pemilik.”

“Pasti, kami akan memberikannya penuh.”
Ketika Ainz merasakan persoalan ini sudah selesai dan ingin pergi, seseorang menghentikannya:
“Hey, hey, hey!”

Dia menoleh dan melihat wanita yang berteriak sedih mendekatinya begitu saja.
Dia berusia sekitar 20 tahun atau lebih muda, rambutnya yang acak-acakan dipotong pendeng agar mudah bergerak. Tak perduli bagaimana kamu menyebutnya, rambunya tidak rapi. Jujur saja, terlihat seperti sarang burung.

Tampilannya tidak buruk, matanya tajam, dia tidak memakai makeup dan kulitnya berwarna seperti gandung setelah terkena matahari dalam waktu lama. Lengannya memiliki otot yang solid dan tangannya penuh dengan kapalan karena memegang pedang. Kesan pertama yang datang bukan ‘wanita’ tapi ‘warrior’.

Sebuah kalung medal besi tergantug di atas dadanya, berayu keras ketika dia berjalan.
“Lihat apa yang kamu lakukan!”

“Ada apa?”
“Huh?Kamu bahkan tidak tahu apa yang kamu lakukan?”
Wanita itu menunjuk meja yang berantakan.

“Karena kamu melempar orang itu kesana, potion milikku, potion berhargaku pecah!”
“Itu hanya sebuah potion..”

“..Aku bahkan tidak makan untuk menabung uang untuk membelinya. Aku baru saja membeli potion itu hari ini, tapi kamu sudah memecakannya! Tak perduli seberapa bahayanya bertualan itu, potion itu akan membuatku aman. Tapi kamu memecahkan harapan itu dan masih menunjukkan sikap seperti itu? ini benar-benar membuatku marah.” Wanita itu mengambil langkah lain lagi untuk mendekat ke Ainz.

Berdiri di depannya adalah banteng yang marah, menatapnya tajam dengan mata haus darah. Ainz menahan helaan nafasnya. Itu adalah kesalahannya karena melemparkan pria itu tanpa berpikir kemana dia akan mendarat, tapi Ainz juga punya alasan, jadi dia tidak akan menggantinya dengan mudah:
“..Bagaimana kalau kamu meminta uang kepada orang-orang itu? Jika dia tidak mengulurkan kakiknya yang pendek, tragedi tidak akan terjadi, bukankah begitu?”

Ainz menatap tajam kepada teman-teman orang itu melalu lubang penutup kepalanya.
“Ah. benar sekali…”
“Tapi…”

“Lupakan saja, tidak perduli siapa, ganti saja potionnya.. harganya 1 koin emas dan 10 koin perak.”

Pria-pria itu menundukkan kepala mereka; kelihatannya mereka tidak mempunyai uang untuk membayarnya. Lalu wanita itu melihat Ainz lagi:
“Seperti yang kuduga, Tentu saja mereka tidak mempunyi uang, melihat cara mereka minum. Dengan armor sekeren itu, kamu pasti punya beberapa potion khan? Ainz mengerti mengapa wanita itu meminta kompensasi darinya. Ini adalah kasus yang sedikit sulit.”

Setelah berpikir sejenak, Ainz memberanikan diri dan berkata:
“Aku memang punya beberapa.. tapi itu adalah recovery potion benar khan?”

“Benar sekali. Aku bekerja keras -”
“Ya, ya, kamu tidak perlu mengatakannya. Aku akan menggantinya dengan sebuah potion dan menyelesaikan masalahnya.”
Ainz mengambil potion grade rendah dan memberikannya kepada wanita itu. Wanita itu melihat potion dengan ekspresi aneh dan menerima agak ogah-ogahan.

“..Apakah kita sudah impas?”

“Yeah, semuanya baik saja.”
Wanita itu terdengar seperti ingin berkata sesuatu, tapi Ainz mengabaikan keraguan di hatinya. Lebih penting lagi, dia khawatir Narberal mulai membuat kerusuhan besar.

Bahkan setelah Ainz memperingatkannya, mata Narberal terlihat tajam. Beberapa orang merasa tidak enak setelah merasakan tatapannya yang membunuh.
“Ayo pergi.”
Ainz berkata kepada Narberal dengan nada yang menunjukkan menahan diri dan pergi ke pemilik kedai. Dia mengeluarkan dompet kulit, mengambil koin perak dan meletakkannya di tangan kasar pemilik.

Pemilik itu diam menerima perak ke dalam kantungnya dan mengambil beberapa koin tembaga.
“Ini 6 koin tembaga kembaliannya.”
Dia meletakkan koin tembaga di sarung tangan Ainz dan meletakkan sebuah kunci kecil di counter:

“Kamar pertama di kanan, tangga atas, kamu bisa meletakkan barangmu di lemari di belakang tempat tidur. Aku tak perlu mengingatkanmu untuk tidak mendekati kamar orang lain sembarangan. Akan repot jika ada salah paham terjadi, tapi itu bukan cara yang buruk untuk membuat orang lain mengenalmu. Kamu kelihatannya bisa mengurus situasi apapun, hanya jangan membuat masalah untukku.”
Pemilik itu menatap pria yang mengerang di lantai.

“Aku mengerti. Tolong persiapkan minimum perlengkapan yang dibutuhkan. Kami kehilangan barang kami dan Guild mengatakan kepada kami anda akan mempersiapkannya untuk pelanggan anda jika kami meminta.”

Pemilik itu melihat Ainz dan Narberal dan memandang dompet kulit Ainz:
“Yeah, paham. Aku menyiapkannya sebelum makan malam. Kamu harus mempersiapkan uangmu juga.”

“Tentu. Nabel, kita pergi.”
Ainz menaiki tangga yang sudah tua dan berderit bersama Narberal dan menuju kamarnya.

Setelah figur Ainz menghilang di lantai dua, teman-teman dari pria yang dilempar oleh Ainz cepat-cepat merapal mantra penyembuh kepadanya. Tindakan mereka seperti menyalakan sumbu, dan kedai itu menjadi gaduh lagi.

“…Kelihatannya dia setanggung tampangnya.”
“Pasti. Kekuatan lengan itu terlalu kuat, bagaimana dia berlatih untuk bisa sampai level itu ya?”
“Tak ada senjata selain dari dua pedang besar di punggungnya, dia pasti sangat percaya diri.”

“Mengapa ini terjadi lagi.. sekarang ada orang lain yang akan langsung mengungguli kita!”

Percakapan itu dipenuhi dengan helaan nafas, terkejut dan takut.
Semua yang tahu dari semula Ainz bukanlah petualang biasa. Petunjuk pertama adalah perlengkapannya yang mewah. Armor full body tidaklah murah, hanya mereka yang terus bertualang dan mempunyai pengalaman yang banyak yang bisa membelinya. Hanya mereka yang naik ke rangking medali perak yang bisa mengumpulkan kekayaan dengan upah misi mereka. Tapi ada beberapa orang yang mewarisi atau mengambilnya dari medan pertempuran atau dungeon.

Itulah alasan mereka yang ingin tahu kekuatan dia sebenarnya. Semuanya adalah teman dan saingan di waktu yang sama. Mereka semua ingin tahu kemampuan dari orang baru, jadi proses semacam itu tadi akan terus berulang.

Semua yang hadir melewati ritual yang sama. Tapi tak ada satupun melewati ritual itu dengan mudah. Itu artinya dua orang yang memakai medali tembaga… Tak perduli itu adalah teman atau saingan, mereka pasti sangat kuat, itu adalah bukti bagi siapapun yang melihat mereka.

“Bagaimana kita menghadapi mereka berdua?”
“Tidak tidak bisa menggoda si cantik itu lagi.”
“Tapi jika hanya ada dua orang dari mereka, mereka bisa bergabung dengan tim kita.”
“Kamu salah; kita seharusnya yang meminta untuk bergabung ke kelompok mereka.”
“Aku penasaran bagaimana tampangnya dibalik penutup kepala itu.”
“Aku akan menguping dari ruangan sebelah pria itu malam ini.”
“Dia menyebut Gazef Stronoff, Petarung terkuat diantara negara tetangga tadi khan? Jangan-jangan dia adalah murid dari Kapten Prajurit?”
“Itu mungkin saja. Biarkan aku yang membawa tanggung jawab berat ini dengan pendengaranku yang bagus (telinga pencuri)”.
Saat kerumunan itu mendiskusikan dua orang misterius itu dengan semangat tinggi, pemilik kedai itu berjalan menuju salah seorang petualang:

Itu adalah wanita yang mendapatkan potion dari Ainz.
Wanita itu – Brita mengalihkan tatapannya dari potion merah yang ditatapnya dalam-dalam dan melihat ke arah pemilik dengan ekspresi bengong.
“Potion apa itu?”
“Entahlah?”

“..Hei, kamu bahkan tidak tahu? Bukankah kamu yang menerima kompensasi langsung karena kamu tahu harga dari potion ini?”

“Itu tidak mungkin, aku tak pernah melihat potion seperti ini sebelumnya. Bukankah kamu kemari untuk melihatnya juga karena kamu belum pernah melihat ini sebelumnya juga khan, pak tua?”

Brita menebak dengan benar.
“Bisakah potion ini memenuhi kompensasimu? Potionmu yang pecah adalah fakta, ya khan? Ini mungkin lebih murah yang kamu beli.”

“Mungkin saja…ini adalah pertaruhan, tapi aku yakin aku akan tahu. Ini diberikan kepadaku oleh orang yang memiliki armor mewah setelah dia mendengar harga potionku.”

“Oh begitu…”

“..Aku tak pernah melihat recovery potion dengan warna yang aneh itu; Mungkin saja itu item langka. Jika aku ragu-ragu kala itu dan memintanya membayar dengan uang sebagai gantinya, mungkin sama seperti meninggalkan sarang harimau dengan tangan hampa. Aku akan mencari tahu harganya besok.”

“Oh, aku akan mengurus biaya penaksirannya. Bukan hanya itu, aku bahkan akan merekomendasikan tempat yang bagus untukmu.”

“Pak Tua?”

Brita mengernyitkan dahi. Pemilik kedai itu bukanlah orang jahat, api dia pastinya bukan orang yang dermawan begitu saja. Pasti ada apa-apanya.

“Hey, jangan memandangku seperti itu. Aku hanya ingin kamu katakan padaku efek dari potionmu.”

“Apakah itu rencanamu?”

“Itu adalah tawaran yang bagus khan? Dan dengan koneksiku, aku bisa memperkenalkanmu kepada farmasist terbaik, Lizzie Bareare itu.”

Brita terkejut.
Banyak tentara bayaran dan petualang yang berkumpul di E-Rantel, jadi vendor-vendor spesialisasi dalam senjata dan perlengkapan bisa mendapatkan uang banyak, dengan perdagangan recovery potion menjadi yang paling menguntungkan. Itulah kenapa E-Rantel mempunyai farmasist lebih banyak dari kota lain.

Namun di depan kompetisi yang banyak itu, Lizzie Bareare memegang titelnya sebagai farmasist terbaik. Diantara semua farmasist di dalam kota, dia bisa membuat potion rumit dalam jumlah besar. Karena pemilik sudah menyebutkan Lizzie Bareare, Brita tidak bisa menolaknya.

[table style=”table-bordered”]

Sebelumnya Daftar ISI Selanjutnya

[/table]