Overlord – Volume 2 – Chapter 2 – Part 1

Overlord Light Novel

[Overlord v02] Chapter 2 Perjalanan


Ada dua rute dari E-Rantel menuju desa Carne jika kamu bepergian dengan menggunakan gerobak yang ditarik oleh kuda.
Setelah ke utara, teruslah ke kanan dan berjalan di tepian hutan. Atau ke timur lalu belok ke utara.
Kali ini rute yang pertama adalah yang dipilih.

Karena kemungkinan bertemu dengan monster-monster di sepanjang tepian hutan itu besar sekali, Mengambil jalan ini adalah pilihan yang salah berdasarkan sudut pandang seorang bodyguard. Meskipun begitu, semuanya masih tetap memilih rute ini. Ini dilakukan karena Ainz ingin memenuhi janjinya kepada Peter dan berburu Monster. Meskipun ada banyak kerugian daripada keuntungannya, mereka masih bisa memilih jalan ini tanpa khawatir karena Momon dan Nabel ada di sana. Di tambah lagi, Narberal telah menunjukkan kemampuannya merapal magic kelas 3 ‘Lightning’ ketika mereka meninggalkan kota adalah faktor terbesar.

Dan secara teknis mereka tidak masuk ke dalam hutan. Lebih tepatnya, mereka bepergian menelusuri perbatasan antara hutan dan dataran, jadi monster-monster yang mungkin akan ditemui tidak akan terlalu kuat. Dengan kemampuan kelompok, mereka seharusnya bisa mengatasinya. Ditambah lagi, dengan mengambil rute ini, bertemu monster akan membuat anggotanya bisa memperkirakan kekuatannya satu sama lain. Dengan poin ini, mereka memutuskan untuk memilih rutte ini.

Matahari telah mencapai puncaknya setelah mereka meninggalkan E-Rantel; mereka bisa melihat hutan yang lebat dan primitif di kejauhan. Dahan-dahan dan dedaunan pohon raksasa itu sangat lebat sehingga sinar matahari tidak bisa menembus hutan. Ini mengurangi pandangan membentuk ilusi seakan tertelan kegelapan. Jarak diantara pohon-pohon itu terlihat seperti mulut yang menganga, menunggu mangsanya untuk masuk; kengeriannya membuat kelompok itu tidak enak.

Kelompok itu menggunakan formasi yang mengelilingi kereta saat mereka maju. Pengemudinya tentu saja Nfirea, Ranger Lukeluther berada di depan kereta, Warrior Peter di kiri, Druid Dine dan Magic Caster Ninya di kanan, sementara Ainz dan Narberal ada di belakang.
Karena jarak pandangannya luas, tak ada yang waspada. Namun, Peter menjadi lebih serius di titik ini:
“Momon-san, mulai dari sini adalah daerah yang berbahaya. Kita tidak akan menemui monster yang tidak bisa kita atasi, tapi lebih amannya, kita harus berhati-hati.”

“Mengerti.”
Ainz mengangguk dan memikirkan sesuatu.
Jika ini adalah sebuah game, monster apa yang akan kita hadapi tergantung dari tempatnya, tapi kenyataan itu berbeda. Entah musuh sulit macam apa yang akan muncul.
Berdasarkan pertempuran di Carne beberapa hari yang lalu, dan menurut intelijen yang terbuka ketika menginterogasi tahanan Sunlight Sripture, Ainz saat ini memakai armor yang ditempa oleh magic, dan itu membuatnya tidak bisa menggunakan kebanyakan dari mantra miliknya.
Dengan kekuatannya yang tertahan, masih bisakah dia berperan sebagai baisan depan yang kompeten? Bukan hanya itu, tapi kondisi kemenangan seorang pengawal bukanlah mengalahkan musuh; tetapi, pekerjaannya adalah sepenuhnya melindungi tanggung jawabnya, dalam kasus ini, Nfirea. Memikirkan ini, Ainz merasa tidak enak.

Dia berencana untuk melepaskan armornya jika sebuah krisis muncul, tapi dengan melakukan hal tersebut, dia harus membunuh teman-teman seperjalanannya atau merubah ingatan mereka. Ainz tidak ingin melakukan hal semacam itu.

Itu terlalu banyak merepotkan.

Ainz menolehkan wajahnya kepada Narberal, yang mengangguk merasakan tatapannya. Mereka berdiskusi sebelumnya dan Narberal akan menggunakan magic tingkat yang lebih tinggi jika keadaannya terjepit, hingga tingkat 5 dan berharap itu bisa menyelesaikan masalah. Jika itu belum cukup, Ainz akan membuang armornya dan bertarung dengan serius.

Melihat dua orang ini bertukar pandangan–dengan Ainz masih mengenakan helm tertutup–Lukeluther salah paham akan sesuatu dan menggoda Narberal sambil bercanda:
“Tidak akan apa-apa, jangan khawatir. Selama tidak ada serangan mendadak, tidak akan terlalu sulit. Dan dengan aku yang mengawasi, tak ada musuh yang lepas dan menerobos. Jadi Nabel-chan, aku kuat khan?”

Narberal mengacuhkan Lukeluther dan ekspresi seriusnya:
“Momon-san, bolehkah saya menghajar makhluk… rendahan ini (Nyamuk)?”
“Mendapatkan kalimat dingin dari Nabel-san!”
Semuanya tersenyum aneh pada Lukeluther, yang memberi jempol dan tidak bereaksi terhadap jawaban ganas dari Narberal. Mereka berasumsi bahwa Narberal tidak menganggap seluruh manusia adalah makhluk rendahan, hanya orang tertentu.

Ainz menolak permintaan Narberal yang tidak dibuat-buat dan merasakan perutnya yang memang tidak ada jadi sakit. Mereka sedang bepergian dengan manusia sekarang, jadi dia berharap agar dia menyimpan pemikiran semacam itu untuk dirinya sendiri.
Nfirea kelihatannya salah paham akan sesuatu dan menyela:
“Tidak apa-apa. Lagipula, Dari sini hingga desa Carne, kita sedang berada di wilayah dari ‘Virtuous King of Forest’ (Raja Hutan yang bijak), monster yang kuat. Kecuali kalau tidak benar-benar tidak beruntung, kita tidak akan bertemu dengan monster apapun.”

“Virtuous King of Forest?”
Ainz mengingat kembali intelijen dari desa Carne.
‘Virtuous King of Forest’ adalah monser yang mampu menggunakan magic, memiliki kekuatan yang menakjubkan. Hidup di hutan dalam, jadi hanya ada sedikit laporan saksi mata, tapi keberadaannya sudah cukup lama. Beberapa orang bahkan berkata sudah sekitar beberapa ratus tahun dengan empat kaki keperakan, binatang buas berwarna putih dengan ekor seperti ular.

Aku ingin bertemu dengannya. Aku tidak tahu apakah rumor itu benar, tapi dia mungkin saja memiliki informasi yang luar biasa jika sudah hidup selama itu. Lagipula dia memiliki julukan ‘Virtuous King of Forest’. Jika aku bisa menangkapnya.. seharusnya bisa meningkatkan kekuatan Nazarick.
Ainz membayangkan tampilan monser itu di otaknya.
Berbicara mengenai Virtuous King of Forest, terlihat seperti hewan yang sudah punah.. seperti monyet..Ah, orangutans. Manusia Hutan… ataukah Pertapa? Dengan ekor seperti ular… Apakah ada monster seperti itu?
Mengingat YGGDRASIL memiliki monster seperti itu, Ainz akhirnya menemukan jawaban:

Itu adalah Nue!… Tampilan seharusnya adalah kepala monyet, tubuh rakut, anggota badan harimau dan ekor seperti ular… Aku tidak yakin jika itu adalah monster dari YGGDRASIL, tapi mungkin saja dipanggil seperti angel-angel itu.
<TL Note: http://en.wikipedia.org/wiki/Nue>

Saat Ainz berpikir tentang Nue di YGGDRASIL Lukeluther bicara ke Narberal dalam nada menggoda lagi:
“Hmmm, jika aku menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna, maukah Nabel-chan yang imut merubah sikapnya kepadaku?”
Narberal mengeluarkan suara klik dengan lidah merasa jijik.
Lukeluther bertingkah seakan dia sakit hati, tapi tak ada yang menghiburnya. Semuanya menganggap interaksi mereka sebagai guyonan.
Dibawa matahari yang membakar kulit, kelompok itu mengobrol dengan santai sambil maju. Sepatu mereka terkena noda getah rumput yang terinjak, baunya cukup menusuk.

Melihat kelompok itu mengusap keringat mereka, Ainz bersyukur atas tubuh undeadnya. Dia terpengaruh oleh sinar matahari yang cerah dan tidak lelah mengenakan armor yang berat.
Hanya Lukeluther yang terlihat lincah, bercanda saat kelompok itu bergerak tanpa berkata-kata:
“Semuanya, tidak usah khawatir karena aku yang jaga. Nabel-chan percaya padaku; lihatlah bagaimana dia setenang itu.”

“Bukan karenamu. Itu karena Momon-san disini.”
Narberal mengerutkan kening. Berpikir keadaan mungkin sudah kelewat batas, Ainz memegang bahu Narberal, dan ekspresinya seketika menjadi hangat.

Sambil mengawasi interaksi mereka, Lukeluther bertanya:
“Tolong bilang, Nabel-chan dan Momon-san, kalian berdua ini pasangan ya?”
“Pa… Pasangan? Apa yang kamu katakan! Itu adalah Albedo-sama!”
“Kamu!” Ainz berseru. “Apa yang kamu katakan, Nabel!”
“Ah!”

Dengan mata yang melotot, Narberal menutup mulutnya dengan tangan. Ainz terbatuk dan berbicara dengan dingin:
“..Lukeluther-san, bisakah anda tidak membuat asumsi yang tak berdasar?”
“…Ah-aku yang salah. Hanya bercanda. Ah— Jangan-jangan Momon-san sudah punya yang lebih penting?”
Cara Lukeluther membungkuk menunjukkan bahwa dia tidak merasa salah sama sekali, tapi Ainz tidak marah seperti sebelumnya. Membawa Narberal sebagai teman seperjalanannya adalah keputusan yang benar-benar bodoh.
Meskipun berpikir bahwa dia memilih orang yang salah, Ainz benar-benar tidak mempunyai pilihan karena hanya dia yang bisa diandalkan. Hampir seluruh NPC yang dibuat di Ainz Ooal Gown adalah heteromorfik; Sedikit dari mereka yang bisa dibawa ke kota manusia. Narberal berpura-pura sebagai manusia, dan setidaknya dia memiliki rupa seperti salah satunya… tapi Ainz lupa untuk mempertimbangkan sifatnya.
Dari keadaan yang terlihat, mungkin battle maid yang lain, Lupusregina Beta, akan lebih cocok, tapi sudah terlambat untuk itu.

Karena kesalahannya, wajah Narberal menjadi pucat, jadi Ainz dengan lembut dan menepuk punggungnya untuk menenangkan. Seorang pemimpin yang baik pasti bisa memaafkan kesalahan pertama dari bawahannya. Tapi jika dia mengulangi kesalahannya, dia harus menegurnya dengan benar. Jika dia menjadi depresi atau pendiam karena sebuah kesalahan, maka misi akan berakibat negatif nantinya.
Yang lebih penting lagi, dia hanya menyebutkan nama Albedo. Tidak perlu merubah ingatan mereka–mungkin.
“Lukeluther, hentikan omong kosongmu dan tetaplah waspada.”
“Mengerti.”

“Momon-san, maafkan teman saya yang sudah tidak sopan. Tidak benar menduga-duga hubungan seseorang.”

“Jangan khawatir. Jika dia bisa mengingatnya di masa depan, kami bisa melupakannya.”

Dua orang yang melihat punggung Lukeluther dan mendengarnya bergumam “Wah– Nabel-chan membenciku sekarang. Ugu, pendapatnya terhadapku benar-benar negatif sekarang.” Kepalanya menjadi depresi dan tertunduk.

“Si bodoh itu…! Aku akan menasehatinya nanti. Dan aku akan berpura-pura tidak mendengar apapun tadi.”
“Aku akan menyusahkanmu dengan hal itu. Karena Lukeluther sedang waspada, mari kita serahkan padanya. Aku ingin bertanya beberapa hal.”

“Tidak masalah. Dia menyebabkan masalah bagi anda, jadi biarkan saja dia bekerja untuk memberikan kompensasinya pada anda.”

Setelah Peter tersenyum paham, Ainz berjalan ke arah Ninya dan Dine. Dia bertukar posisi dengan Dine, yang kemudian berjalan di samping Narberal.
“Aku punya beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan magic.”

Setelah Ninya mengangguk, Ainz mulai bertanya. Nfirea juga melihat, tertarik pada pertanyaan Ainz.
“Jika terkena kutukan atau dikendalikan oleh magic, seseorang mungkin akan memberikan informasi rahasia. Sebagai perlawanannya, apakah ada mantra yang bisa membunuh dengan kondisi dimana dia telah terkena magic itu dan setelah dia menjawab beberapa pertanyaan?”

“Aku tak pernah mendengar magic seperti itu.”
Ainz menoleh dan melihat Nfirea dari dalam penutup kepalanya.
“Aku juga tidak tahu. Magic untuk membenarkan atau menguatkan sesuatu bisa diaktifkan setelah waktu tertentu, tapi tidak sampai seperti yang anda katakan.”

“…Oh begitu.”
Ainz kecewa tidak mendengar jawaban yang diharapkannya.
Dan juga, masalah bagaimana menggunakan Sunlight Scripture yang masih selamat harus menunggu.
Yang selamat tinggal sedikit, tapi kelihatannya sayang membuang meeka. Untuk mengerti teori magic dibalik mengapa anggota Sunlight Scripture menghilang setelah tewas, mereka melakukan pembedahan pada beberapa orang dari mereka hidup-hidup, yang mana sangat disayangkan. Karena mereka bisa tewas dengan mudah, bukankah lebih baik untuk memaksa mengeluarkan informasi yang lebih banyak dari mereka? Kehilangan satu orang artinya kehilangan kesempatan untuk menanyakan 3 pertanyaan.

Yang paling disayangkan adalah Nigun, yang pertama tewas. Mereka kehilangan seseorang yang mungkin memegang banyak informasi setelah menanyakan pertanyaan sederhana.
Tapi kesalahan ini memberi Ainz pelajaran bahwa menggunakan pengetahuan yang hanya dia dapatkan dari YGGDRASIL tidak cukup untuk menghadapi dunia ini, jadi kematian Nigun benar-benar adalah kerugian. Sebaiknya melihat dari sisi terang, saat ini dia telah mempelajari banyak hal dari kegagalan juga.

Saat pemikiran Ainz teralihkan tentang masalah ini, Ninya melanjutkan:
“Meskipun begitu, pengetahuanku tentang magic sangat terbatas. Magic Caster yang disponsori dan dididik oleh negara mungkin bisa membuat mantra semacam itu. Pendeta-pendeta di Slane Theocracy menerima pendidikan Magic Caster yang berdasarkan keyakinan. Empire memiliki mistik, warlock dan mage, Sekolah Magic Caster berdasarkan Sorcery. Tidak heran jika negara lain seperti Republik Yagarande mampu menggunakan dragon magic.”

“Oh begitu, dengan dukungan dari seluruh negara, tidak heran magic seperti itu akan bermunculan.”
Dariinformasi yang dia dapatkan sebelumnya, Republik Yagarande didirikan oleh demi-human, dengan kanselir yang mengatur kebijakan. Yang paling layak dicatat adalah 5 Kanselir Naga, yang disebut sangat kuat. Republik itu adalah ancaman nyata bagi Slane Theocracy, yang mempraktekkan prinsip keunggulan manusia.
Ainz tertarik dengan negara ini, tapi dia masih membangun markasnya dan tidak bisa membagi tugas untuk menyelidiki. Hanya melakukan rencana yang sekarang sudah banyak mengurangi sumber daya Nazarick.

“Bolehkah aku bertanya tentang hal lain?”
Ainz bertanya kepada Ninya pertanyaa lain dan merasa lega.
Ainz bertanya Ninya dan Peer banyak hal, menyebabkan anggota Sword of Darkness melihat mereka dengan tatapan yang mengatakan “Mereka masih mengobrol”. Mereka membicaakan tentang mantra-mantra, martial art, para petualang, berita tentang negara tetangga, setiap topiknya sangat luas.
Meskipun pertanyaan ini harus dikatakan dengan hati-hati, tapi jawaban yang diterima sangat menolong. Ainz percaya bahwa dia telah belajar lebih banyak hal tentang dunia ini.

Tapi itu masih belum cukup. Setelah mempelajari satu hal, beberapa pertanyaan pun muncul, terutama ketika tentang magic. Sebuah dunia yang dibangun dengan magic sebagai pondasinya itu sangat berbeda, yang membuat Ainz terkejut.
Perbedaan terbesar adalah level dari peradabannya. Kelihatannya seperti Zaman pertengahan, tapi sebenarnya hanya beberapa generasi di belakang dunia Ainz; beberapa hal sudah berada di tingkat modern. Dan seluruh perkembangan ini ditopang oleh kehadiran magic.
Setelah mengetahui ini, Ainz menyerah melakukan riset tentang dunia ini. Tidak mungkin untuk membandingkan dunia yang berkembang dengan magic dengan yang berkembang dengan ilmu pengetahuan. Ada magic untuk membuat garam, gula dan bumbu, dan orang-orang juga menggunakan mantra pertanian untuk mengembalikan nutrisi ke tanah sawah daripada menerapkan rotasi tanaman.
Percaya atau tidak, lautnya tidak asin. Informasi ini sangat berbeda dari apa yang Ainz anggap pengetahuan umum.
Ainz dengan hati-hati memuaskan rasa ingin tahunya. Setelah beberapa waktu:
“Ada pergerakan.”
Lukeluther tiba-tiba merasa tegang, Nadanya benar-benar berbeda dari yang biasa dia gunakan ketika menggota Narberal. Saat ini, dia terlihat seperti petualang profesional yang sudah veteran.
Semuanya menghunuskan senjatanya dan melihat arah Lukeluther menghadap.
“Dimana?”
“Disana. Di sebelah sana.”

Lukeluther menunjuk sudut dari hutan yang besar untuk menjawab pertanyaan Peter. Pandangannya sangat buruk karena tertutup hutan, dan tidak ada pergerakan apapun. Meskipun begitu, tak ada yang meragukan Lukeluther.
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Jangan memaksa kesana. Jika mereka masih ada di hutan, kita abaikan saja!”
“Sebaiknya tetap pada rencana dan membiarkan Nfirea mundur!”
Saat mereka berdiskusi dengan suara keras, ada pergerakan di dalam utan. Monster-monster itu menampakkan diri.
Lima belas makhluk setinggi anak-anak mengelilingi enam makhluk raksasa.
Yang pertama adalah demi-human goblin.
Setiap wajahnya yang tidak biasa memiliki hidung rata, dan dua taring keluar dari setiap mulut yang lebar. Kulit mereka coklat gelap, dan rambut hitam mereka acak-acakan terlihat kaku oleh wax rambut.
Pakaian mereka lusuh dan terlihat seperti terbakar berwarna coklat entah karena kotoran atau memang diwarnai seperti itu. Mereka memakai kulit binatang yang dijemur matahari di luar armornya. Mereka memegang pentungan di satu tangan, perisai kecil di tangan lain.
Peranakan campuran antara monyet dan manusia, monster dengan cenderung jahat.
Yang raksasa sekitar 250-300 cm.
mereka terlihat lebih bodoh dengan rahang yang menonjol tajam keluar.
Otot yang besar di lengan mereka setebal pohon, dan otot itu hampir mencapai tanah karena punggung raksasa itu bungkuk. Setiap raksasa itu memegang gelondongan kayu pohon dengan cabang-cabang yang sudah dipotong dan mereka hanya mengenakan kulit binatang yang dijemur di pinggang. Mereka sangat bau meskipun dari kejauhan.

Kulit mereka, penuh kutil, warnanya seperti terbakar coklat. Dada mereka yang tebal dan otot perutnya terlihat tangguh. Mereka kelihatannya sangat kuat, seperti gorilla yang dicukur — Monster demi-human yang diketahui sebagai ogre.

hampir semua monster memiliki tas lusuh, yang kelihatannya sudah digunakan untuk perjalanan yang lama.
Monster-monster itu melihat ke arah kelompok yang sedang berjalan di dataran. Meskipun masih ada jarak, sifat bermusuhan mereka terpancar dari wajah mereka yang jelek.
“..Jumlah mereka agak banyak. Kelihatannya pertempuran sudah tidak bisa dihindarkan.”
“ya, kamu benar. Goblin dan Ogre akan menyerang ketika mereka melihat kelompok yang lebih kecil. Atau lebih tepatnya, kecerdasan mereka mengatakan untuk mengukur kekuatan tempur dengan membandingkan jumlah, yang mana sedikit merepotkan.”
Melalui pengalaman, Ainz tahu dunia ini tidak seperti game, tapi dia masih bingung dengan kenyataannya.
Hanya dengan mengawasi tinggi dan warna kulit, seseorang bisa menebak bahwa masing-masing ogre dan goblin memiliki karakter yang berbeda, artinya mereka adalah individu, seperti menghadapi dua puluh satu monster yang berbeda.
“Apakah kenyataan beda dari game?”
Seakan dia masuk ke zona tanpa mengetahui walkthrough apapun dan melawan monster yang tidak diketahui, pertemuan ini mengingatkan Ainz pada saat dia bertempur di desa Carne. Ainz bergumam dalam suara yang tidak bisa didengar sekitarnya.

“Kalau begitu, Momon-san”

“..Oh, apa itu?”
“Kita setuju untuk menghadapi masing-masing separuh dari musuh yang kita temui, tapi bagaimana dengan sekarang?”

“Kita tidak bisa terpecah menjadi dua tim dan membunuh musuh yang menyerang?”

“Akan buruk jika mereka semuanya berlari ke satu arah. Bisakah Nabel menggunakan serangan area seperti ‘Fireball’ dan menyapu habis mereka?”

“Aku tak bisa menggunakan ‘Fireball’, mantra terkuatku adalah ‘lightning'”
Ainz teringat bahwa ini adalah larangan yang dia berikan kepadanya.
“‘Lightning’ adalah mantra penusuk barisan, ya khan?”

“Kalau begitu, bagiamana kalau kami pancing mereka menjadi satu baris sehingga kamu bisa menyapu habis mereka dari samping?”

“Kita akan butuh membangun barisan pertahanan untuk menahan mereka…”
“Aku akan mengatasi itu. Bisakah aku meminta semuanya melindungi Nfirea di gerobak?”
“Momon-san…”

“Jika hanya Ogre yang membuatku susah, berarti gonggonganku lebih buruk dari gigitanku. Tolong lihat aku menghabisi ogre dengan mudah.”

Suara percaya diri dari Ainz kepada anggota Sword of Darkness bahwa ini adalah rencana yang terbaik, memberi mereka perasaan aman.
“Mengerti. Kami tidak akan melihat saja sementara musuh menyerang; kami akan melakukan apapun untuk membantu dari sisi.”
“Apakah anda memerlukan dukungan magic?”
“Ah, kami tidak memerlukannya. Teman-teman dari Sword of Darkness, tolong dukung teman-teman satu tim kalian.”
“Kalau begitu kita akan melakukannya seperti yang anda inginkan. Semuanya, jika pertempuran terjadi seperti ini, karena kita dekat dengan hutan, bukankah musuh akan mencoba untuk kabur?”

“Bagaimana kalau melakukannya seperti biasa? Kami akan menarik mereka lebih jauh.”
“Ayo kita lakukan itu! Karena Momon-san akan menangkis serangan musuh, bagaimana dengan yang lolos, Peter?”

“Aku akan mengaktifkan skill martial art [Fortress] untuk menahan ogre. Dine, tolong hentikan goblin. Ninya berikan magic pertahanan padaku, lalu berkonsentrasilah memberikan magic serangan. Ditambah lagi, meskipun ini urusan yang tidak perlu, tolong perhatikan keselamatan miss Nabel. Lukeluther, hadapi goblin. Jika ada ogre yang menerobos, kamu harus menghentikannya. Dalam keadaan ini Ninya akan memprioritaskan untuk membersihkan goblin.”

Semuanya saling melihat dan mengangguk, menunjukkan pemahaman mereka terhadap instruksinya. Rencana pertempuran sudah diatur dengan lembut, kerja sama tim mereka menakjubkan. Ainz kagum dan menunjukkan persetujuannya dengan raungan.
Dia teringat hari-hari ketika berada di YGGDRASIL. Ainz dan teman-temannya berulang kali berburu di medan pertempuran dengan kerjasama yang sempurna. Menarik, melindungi, merubah target serangan. Karena mereka sangat familiar dengan kemampuan yang lainnya, mereka bisa melakukan pertempuran kelompok sedemikian rupa.

Ainz sedikit bias, tapi dia masih percaya diri bahwa kerjasama diantara kelompok kecil ini tidak mudah. Sword of Darkness bukanlah level mereka, tapi dia bisa melihat bayangan kemiripan.

“Momon-san, anda butuh dukungan lainnya selain dari magic?”

“Tidak, tidak perlu. Kami berdua sudah cukup.”

“Benar-benar… sangat percaya diri.”
Peter menunjukkan isyarat khawatir pada kata-katanya. Jika yang bertanggung jawab dalam garis pertahanan jatuh, akan menimbulkan efek domino, menyebabkan seluruh tim kolaps. Itu seharusnya apa yang dia khawatirkan.
Lagipula, ini bukanlah sebuah game dan nyawa mereka dipertaruhkan.
“Kamu akan melihatnya ketika kita mulai.”
Ainz menyudahi percakapan mereka dengan kalimat ini.
“Mari kita mulai ketika kalian sudah siap.”

Lukeluther menarik benarng pada busur kompositnya sampai mulai berderak. Benang itu mengeluarkan suara menghentak saat mendorong anak panah itu meluncur lurus, yang mendarat 10 m dari goblin-goblin itu di dataran.

Serangan tiba-tiba itu membuat goblin mengejek Lukeluther dengan tertawa.
Mereka mengejek tembakan yang meleset. Goblin-goblin itu tidak bisa mengenai target 120m pula, tapi mereka kelihatannya lupa akan hal itu.

Menjadi yang diserang dan keunggulan mereka dalam jumlah membuat kecenderungan menjadi kasar pada goblin membesar, dan mereka mulai berteriak dengan keras, merangsek menuju Lukeluther tanpa ragu-ragu. Ogre-ogre itu mengikuti dari belakang.

Mereka termakan oleh rasa haus darah, mereka tidak membentuk barisan ataupun mengangkat perisai mereka. Otak mereka menjadi kosong.

Lukeluther tersenyum setelah thau itu.
“Lihat ini–”
Dia menembak lagi ketika jarak sudah 90m. Sasarannya tepat, dan anak panah itu menembus kepala seorang goblin. Goblin ini, yang terletak di belakang, mengejang beberapa langkah dan jatuh tewas.
Jaraknya menjadi semakin dekat, tapi busur Lukeluther tidak terlihat tegang. Dia percaya bahwa seseorang akan melindunginya, meskipun musuhnya berada tepat disampingnya.

“Reinforce Armor.”
(Memperkuat Armor.)

Di belakang Lukeluther, Ninya merapal mantra pertahanan. Mendengar suara temannya, Lukeluther melepaskan anak panah lain.
Dia menembak sasaran 50m, mengenai kepala goblin lain. Saat ini Peter dan Dine juga mulai bergerak.

Goblin itu cukup gesit, tapi gore memiliki langkah yang lebar, jadi kecepatannya terlihat sama. Tapi setelah berlari kecil sekitar 100m di dataran rumput, ogre dengan kaki mereka yang kuat berada di depan, dengan goblin di belakang mereka. jaraknya masih sedikit terlalu jauh untuk mantra area luas untuk melingkupi semua monster.

Tapi itu cukup, karena tugas Dine adalah menahan salah satu ogre.
“Nature Bind.”
Dine merapal mantra, rumput-rumput di bawah kaki ogre mulai menggeliat, berubah menjadi akar dan mengikatnya. Rantai tidak biasa yang kuat dari tumbuhan mengunci ogre di tempat, membuatnya meraung frustasi.

Saat itu Ainz dengan tenang maju ke depan dengan Narberal di belakangnya.
Sikap mereka mengisyaratkan jika mereka sedang jalan-jalan daripada mengintersep monster yang merangsek maju.
Saat ogre yang memimpin mendekati, Ainz menuju belakangnya, menggenggam hulu pedang. Narberal merogoh jubahnya dan mengeluarkan pedang.

Saat membuat gambar busur besar, dua pedang muncul di depan Ainz.
Cahaya yang terang masuk ke mata mereka membuat anggota Sword of Darkness ternganga.

Dua pedang di tangan Ainz sangat mencolok dan memiliki panjang sekitar 150 cm. Daripada disebut sebagai instrumen perang, mereka terlihat seperti karya seni yang mahal.

Ukiran di mata pedangnya terlihat seperti ular yang bertautan. Pucuk pedangnya menyebar seperti kipas, mengeluarkan pancaran yang dingin dan tajam.

Heroic Weapon.
(Senjata Pahlawan)

Pedang di tangan Ainz adalah Pedang pahlawan yang terkenal.
Tampilannya membuat kelompok Sword of Darkness ternganga lagi. Jika pemandangan sebelumnya membuat mereka takjub, yang sekarang membuat mereka tidak bisa berkata apapun.

Semakin panjang sebuah pedang, semakin berat pula. Bahkan sebuah senjata yang sudah diberi mantra pengurang berat tidak mudah untuk digenggam. Mereka tahu dari perjalanan pendek mereka sejauh ini bahwa Ainz memiliki kekuatan lengan yang mengagumkan, tapi naluri dasar mereka tidak bisa menerima bahwa seseorang bisa menggunakan pedang yang sangat luar biasa besarnya itu dengan mudah.

Tapi…

Tetapi Ainz mengayunkan mereka seakan dia sedang menggenggam pentungan, gambar itu sangat menakjubkan.

“Momon-san… siapa anda sebenarnya…”

Peter berbicara mewakili semuanya saat dia menghela nafas. Sebagai seorang warrior, dia mengerti seberapa besar kekuatan lengan yang dibutuhkan untuk menggunakan teknik sekuat itu. Dia tidak tahu berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk berlatih sebelum mencapai tingkatan seperti itu, yang membuat dia terkejut. Dia tahu mereka berada di tingkat yang berbeda, tapi pemandangan di depannya masih membuat kakinya bergetar.

Bahkan goblin yang bodoh ketakutan dengannya, memperlambat kecepatan mereka yang sembrono dan membelok menuju Peter dan yang lainnya.

Hanya Ogre yang bodoh yang percaya diri pada kekuatan lengan yang menyerang Ainz.
Jaraknya menjadi semakin dekat dan Ogre yang memimpin mengangkat pentungannya.
Pedang di tangan Ainz memang besar, tapi pentungan Ogre memiliki jarak serangan yang luas.
Ketika Ogre mulai menyerang, Ainz sudah melangkah ke dalam jarak serangannya.

Dia seperti angin. Mengayunkan pedang raksasanya di tangan kanan dengan kecepatan yang bahkan lebih cepat; bayangan kelebat sabetan putih terlihat menebas ruang kosong sesaat.

Sabetan itu terlalu memaksakan, meskipun tidak diarahkan kepada mereka, yang lainnya merasa seakan mereka menyaksikan kematian tepat di samping mereka.
Dia mengakhirinya dengan satu serangan.
Ainz mengalihkan perhatiannya dari ogre di depannya ke ogre lainnya. Seakan menunggu Ainz pergi, bagian atas dari ogre yang tertebas masih disana sebentar sebelum akhirnya jatuh ke tanah; bagian separuh bawahnya masih berdiri. Darah dan organ terkena udara, memberikan bau yang tajam, mempertegas kenyataan bahwa ini bukan ilusi.

Sabetan diagonal ke bawah membuat potongan yang rapi.

Mereka masih di tengah pertempuran, tapi kedua pihak berhenti bergerak seaakan waktu telah berhenti saat mereka menyaksikan pemandangan  menakjubkan ini tanpa bersuara.
Membunuhnya hanya dengan satu pukulan. Bahkan Tubuh Ogre yang besar tidak bisa lepas dari takdir terpotong menjadi dua.
“Menakjubkan.”
Seseorang bergumam lirih. Suara itu sangat jelas di medan pertempuran yang sunyi.
“…Tidak bisa dibayangkan. Dia melewati level Mythrill dan mungkin adalah Orichalcum… Tidak, Jangan-jangan level Adamantium?”

Menebas menjadi dengan satu sabetan.

Itu tidak mungkin. Hanya sedikit pengguna pedang atau mereka dengan senjata magic yang kuat yang mungkin bisa melakukannya. Tetapi jika kamu memegang Pedang raksasa dua tangan dengan satu tangan, akan sulit untuk mengeluarkan kekuatan yang cukup untuk menebas musuhmu menjadi dua dengan satu kali sabetan, itu adalah hal yang umum. Senjata Dua tangan artinya dipegang dengan dua tangan. Maksudnya adalah dengan menggunakan keduanya yaitu gaya sentrifugal dan sabetan dan berat pedang untuk menyerang; itu tidak dimaksudkan untuk digunakan hanya dengan kekuatan satu lengan.

Namun entah pedang Ainz yang dimantrai dengan magic yang kuat, atau kekuatan Ainz di satu tangan yang lebih kuat dari warrior yang biasanya menggunakan dua tangan. Atau mungkin keduanya. Melihat pemandangan yang mengagetkan ini, ogre tidak sadar berhenti mendekatkan jaraknya.
“Apa? Tidak datang kemari?”

Suara yang lembut dan tenang terdengar di medan pertempuran.
Pertanyaan sesederhana itu sudah cukup untuk mengintimidasi ogre-ogre tersebut, karena mereka telah menyaksikan perbedaan kekuatan diantara mereka.

Ainz semakin mendekat kepada ogre yang lain dengan kecepatan yang menakjubkan, sebuah kecepatan yang seharusnya tidak dimilikinya oleh orang yang menggunakan armor.
“Waarghh–!”
Ogre itu mengeluarkan geraman seperti campuran dari raungan dan teriakan, mengangkat pentungan di tangannya untuk menghadapi Ainz yang menyerang. Tapi semuanya tahu itu terlalu pelan.
Ainz mengayunkan pedang raksasa di tangan kirinya secara horizontal setelah dia dekat.
Bagian atas dari ogre berputar di udara dan mendarat di tempat yang berbeda dari bagian bawahnya.

Ini adalah sabetan horizontal, menebas ogre menjadi dua dengan satu kali serangan.

“Momon-san… apakah dia seorang monster…?”

Terpak lagi oleh pemandangan di depannya, tak ada yang tak menerima spekulasi dari Dine.

“..Dan begitu, dengan lainnya…”
Ainz mengambil langkah maju, wajah jelek dari ogre menjadi beku dan mereka mundur jauh ke belakang.
Goblin yang mengambil langkah memutar mengelilingi pertahanan Ainz menyerang Peter dan lainnya. Anggota Sword of Darkness yang sedang menonton pertarungan bereaksi terhadap serangan goblin dan mulai bergerak.

Peter mengangkat Pedang besar dan perisai lebarnya, menghadapi lusinan goblin secara langsung. Dia menusuk dengan pedangnya dan mengirimkan kepala dari goblin yang di depan terbang ke udara. Peter menghindar dari cipratan darah dan memulai pertempuran jarak dekat dengan goblin.

“Makan ini!”

Goblin itu meringis menunjukkan giginya yang kuning dan mengeluarkan suara aneh.
Peter menahan pentungan goblin dengan perisainya dan menggunakan magic reinforce armor untuk melakukan tank-ing terhadap serangan goblin lainnya, yang mendarat padanya dengan sisi yang tumpul.

‘Magic Arrow’.
Goblin yang mencoba menyerang Peter dari belakang terkena 2 anak panah magic dan jatuh terdiam ke tanah.
Separuh dari goblin yang mengelilingi Peter segera menuju 3 anggota kelompok yang lainnya, seluruhnya mengabaikan Narberal yang sedang berdiri di samping Ainz, sang Pusaran kematian. Menurunkan busur kompositnya, Lukeluther menghunus pedang pendek dari pinggangnya. Bersama dengan Dine yang menggenggam pentungannya, mereka berlari di depan garis api Ninya dengan punggung menghadap ke arahnya.
Lukeluther dan Dine menghadapi 5 goblin sama-sama dan mereka terlihat seimbang. Mereka mengalahkannya satu demi satu, tapi kelihatannya akan butuh banyak waktu dari situasi sekarang. Lukeluther mengeluarkan ekspresi kesakitan saat dia menahan sakit di lengannya karena terkena pukulan pentungan ketika dia menusukkan pedang pendeknya ke cepat armor kulit goblin. Dine menerima beberapa pukulan dan gerakannya semakin lambat, tapi tidak menerima luka yang kritis.

Ninya mengawasi pertempuran dengan tegang, menyimpan magicnya. Beberapa ogre terikan oleh mantra-mantra, dan Ninya mungkin bisa menghadapi mereka jika situasinya berubah.

Peter setara dengan enam goblin yang dia hadapi, sebuah pertarungan yang intens. Mereka tidak diungguli oleh sebelas goblin karena keraguan goblin dalam serangan mereka. Setelah menyaksikan satu serangan yang bisa menewaskan milik Ainz yang luar biasa, moral goblin-goblin itu semakin hancur, tidak bisa memutuskan antara kabur atau melanjutkan pertempuran.

Seakan bermaksud memecahkan moral goblin-goblin itu, Ainz mengayunkan pedang raksasanya. Suara angin yang tertebas diikuti dengan suara tumbukan berat. Dua kali berturut-turut.

Seperti yang didugai oleh semuanya, jumlah mayat ogre semakin meningkat. Hanya tinggal 2 ogre yang masih bertahan hidup, salah satunya terikat oleh rumput, dan yang lainnya gemetar di depan Ainz.

Penutup kepala Ainz menoleh kepada ogre terakhir yang menghadapinya. Ogre itu kelihatannya merasakan tatapan Ainz dari lubang sempit pada helmnya, menjatuhkan pentungannya dan berlari ke hutan dengan raungan yang aneh. Kecepatannya lebih cepat dari serangannya tadi, tapi tidak mungkin bisa kabur.

“Nabel, lakukan.”
Perintah yang dingin sudah dikeluarkan, dan Narberal yang berdiri di belakangnya sedikit mengangguk.
“[Lightning]”
Sebuah Kilat yang mengguncang udara meledak keluar, menyerang ogre yang kabur dengan suara halilintar. Menembus ogre yang juga terikat oleh rumput di belakangnya.
Dengan mudah menghabisi 2 ogre.
“Kabur!”
“kabur, kabur!”
Goblin yang melihat pemandangan ini menjadi putus asa dan berteriak mencoba kabur, tapi Peter lebih cepat dari mereka. Goblinn yang mencoba kabur bukanlah ancaman. Kelompok itu menghabisi goblin satu persatu. Ninya yang tidak perlu menyimpan mana miliknya bergabung dalam serangan juga. Goblin-goblin itu menjadi mayat, tak ada yang kabur.
Dengan bau yang tajam dari mayat di tanah, Dine mengobati luka Lukeluther dan Peter dengan ‘minor heal’. Ninya yang bebas mengeluarkan pisau untuk memotong telinga goblin.

Menyerahkan telinga mereka ke kota bisa memberikan mereka hadiah atas monster itu. Tentu saja, bagian yang diserahkan tidak selalu telinga, bermacam-macam menurut monster. Tapi untuk demi-human seperti ogre dan goblin, kebanyakan adalah telinga.

Ninya yang ahli memotong telinga itu melihat Ainz dan Narberal yang sedang memeriksa sekeliling ogre, dan kelihatannya mereka sepertinya sedang mencari sesuatu.
“Apakah ada yang salah?”
Mendengar pertanyaan Ninya, Ainz mengangkat kepalanya dan menjawab:
“Ah, aku pikir.. mungkin monster-monster ini akan menjatuhkan item seperti kristal.”
“..Kristal? aku tak pernah mendengar ogre memiliki permata seperti itu.”
“Memang benar. Aku juga penasaran jika ada item langka.”
“Benar juga. Bagus juga jika Ogre memiliki harta karun.”
Ninya menjawab saat dia memotong telinga ogre dengan gerakan ahli.
“Tapi..Momon-san benar-benar kuat. Aku tahu anda adalah warrior yang percaya diri terhadap kemampuan sendiri, tapi aku tidak tahu anda sebaik ini.”

Ketika mereka mendengar ucapan Ninya, ketiganya yang sudah selesai disembuhkan berkata kepada Ainz:
“Menakjubkan! sebagai sesama warrior, itu sangat menakjubkan! Bagaimana anda melatih kekuatan lengan seperti itu?”
“Aku kira anda pasti orang kaya karena bersama dengan Nabel-chan, tapi harta langka macam apa pedang itu? Aku tak pernah melihat pedang berharga seperti itu.”
“Aku merasa bahwa ucapan yang anda keluarkan ketika berada di guild memang benar, anda berada pada level warrior terkuat yang diketahui di kingdom, menakjubkan.”

Narberal yang berada di belakangnya memiliki ekspresi bangga, tapi Ainz hanya melambaikan tangan:
“Itu kredit yang terlalu berlebihan untukkku, Aku hanya beruntung.”

“Beruntung…”
Kelompok Peter tersenyum aneh.
“…Setelah pertempuran ini, aku sangat setuju dengan ungkapan bahwa selalu ada orang yang lebih kuat.”

“Setiap orang bisa dengan mudah mencapai standar diriku suatu hari.”
Ucapan Ainz membuat senyum mereka tambah aneh.

Kelompok Peter bekerja keras untuk menjadi kuat dan tidak membuang imbalan yang mereka terima, menggunakan seluruh kekuatannya sendiri. Karena mereka adalah teman seperti ini, semuanya mempertahankan hubungan baik. Meskipun ketika mereka berpikir tentang kerja keras mereka dulu, mereka tidak bisa membayangkan bisa sampai pada level yang sama dengan Ainz. Bagi kelompok Peter, posisi Ainz adalah puncak tertinggi yang hanya bisa diraih orang-orang tertentu. Orang yang bepergian dengan mereka ini pasti akan menjadi pahlawan terkenal, seorang pria hebat yang berdiri di puncak para petualang.

Semuanya sangat yakin dengan hal ini.

[table style=”table-bordered”]

Sebelumnya Daftar ISI Selanjutnya

[/table]