Overlord – Volume 2 – Chapter 4 – Part 2

Overlord Light Novel

[Overlord v02] Chapter 4 Pedang Ganda Kematian


Pendaftaran Hamsuke memang sederhana, tapi itu masih memakan waktu satu jam setengah untuk selesai. Yang paling banyak memakan waktu adalah membuat sketsa foto Hamsuke. Sebenarnya bisa saja diselesaikan lebih cepat jika menggunakan magic, Tapi Ainz tidak ingin menghabiskan uang, oleh karena itu membuat pendaftarannya memakan waktu lama.

Untuk menghindari pandangan orang lain sebagai orang pelit, Ainz membuat alasan.

“Sudah telat sebenarnya untuk mengatakan ini, tapi ‘aku tertarik dengan gambar’ adalah alasan yang tidak menarik.. Tapi lupakan saja. Aku seharusnya menuju kesana sekarang.”

Ainz, yang telah menyelesaikan pendaftaran, berkata seperti itu kepada Narberal yang berdiri di pintu masuk guild, lalu dia berjalan menuju Hamsuke.

Dia sudah agak terbiasa.

Komidi putar bukanlah sesuatu yang dikhususkan hanya untuk pemenang — orang yang lebih penting atau anak-anak — jadi seharusnya bukan masalah jika ada orang yang tua sedang sendirian duduk disana.

Ainz, yang sudah menyerah, tidak menunjukkan keraguan dalam tindakannya.

Dia menggunakan kelincahannya yang tinggi dan mengendarai Virtuous King of the Forest seperti seorang pesenam terkenal. Meskipun tidak ada perlengkapan pendukung seperti pelana, beberapa jam pengalaman sudah cukup bagi Ainz untuk menguasai teknik mengendarai.

Para pejalan kaki yang melihat pemandangan ini berdecak kagum. Bahkan ada jeritan dari para gadis. Berpasang-pasang mata petualang terlihat sangat geram. Setelah memastikan tipe medali pada leher Ainz, wajah mereka seolah semakin tak percaya.

Aku yang kesulitan mempercayai ini. Apa yang terjadi dengan rasa estetika setiap orang?

Seseorang memanggil Ainz, yang sedang menjawab dengan pedas gerombolan itu di hatinya dan memerintahkan Hamsuke untuk pergi.

“Hey, apakah kamu orang yang pergi mencari tanaman obat dengan cucuku?”

Ainz mendengar seorang wanita tua yang memanggilnya, memutar kepalanya dan menemukan seorang wanita tua.

“…Siapakah anda?”

Ainz bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya. Jika apa yang wanita tua itu katakan adalah benar, maka hanya ada satu jawaban.

“Aku adalah Lizzie Bareare, nenek dari Nfirea.”

“Ah! Jadi itu anda? anda benar, saya mengawal Nfirea ke desa Carne, nama saya Momon. Ini Nabel.”

Lizzie memuji Narberal yang membungkuk hormat:

“Gadis yang sangat cantik. Monster apa yang sedang kamu naiki itu?”

“Ini adalah Virtuous King of the Forest.”

“Raja ini adalah Hamsuke! Senang bertemu dengan anda!”

“Apa! Monster menakutkan ini adalah Virtuous King of the Forest yang legendaris?”

Ketika para petualang yang menguping di dekat sana mendengar teriakan Lizzie, semuanya seakan terkejut. Mereka terlihat sangat terguncang saat mereka berbisik seperti ini: ‘Itu adalah monster legendaris?’

“Ya, seperti permintaan cucu anda, Saya menjinakkannya setelah bertemu di tempat tujuan.”

“Bi.. bisa menjinakkan Virtuous King of the Forest.”

Lizzie tergagap:

“Kalau begitu.. dimana cucuku?”

“Ah, dia kembali dengan tanamannya. Kami sedang dalam perjalanan kesana untuk mengambil imbalan.”

Wanita tua itu menghela nafas lega melihat Ainz dengan mata takjub dan bertanya:

“Oh, begitu… Mau pergi sama-sama? Aku penasaran dengan petualanganmu.”

Saran Lizzie adalah pertolongan yang besar bagi Ainz.

“Ya, dengan senang hati.”

Dengan Lizzie yang menunjukkan jalan, kelompok itu berjalan melewati kota E-Rantel.

“Silahkan masuk.”

Setelah tiba di toko, Lizzie mengeluarkan kuncinya dan menundukkan kepalanya. Dia mendorong pintu dan menemukannya sudah terbuka tanpa hambatan.

“Apa yang terjadi, dia terlalu ceroboh.”

Lizzie bergumam sendiri saat dia masuk dengan Ainz dan Narberal bergantian.

“Nfirea, Momon-san disini—-”

Lizzie berteriak di dalam toko, sangat sepi seperti tak ada tanda-tanda adanya orang.

“Apakah ada yang aneh?”

Lizzie memiringkan kepalanya bingung tapi Ainz menjawab pendek:

“Ini gawat.”

Lizzie kebingungan, tapi Ainz mengabaikannya dan meletakkan tangan pada gagang pedangnya. Narberal mengerti apa maksud Ainz dan menghunuskan pedangnya.

“Ap… Apa yang kamu lakukan!?”

“Jangan tanya, ikuti saja saya.”

Ainz menghunus pedangnya setelah menjawab dengan pendek, masuk dengan pedang di tangan. Dia mengetuk pintu di dalam membukanya dan menuju ke kanan. Ini adalah rumah yang tidak biasa, tapi Ainz menunjukkan tak ada keraguan dalam langkahnya

Ainz tiba di depan pintu di akhir lorong dan bertanya kepada Lizzie yang akhirnya mengikuti:

“Tempat apa ini?”

“Ini adalah tempat penyimpanan tanaman, dan pintu itu menuju ke pintu belakang.”

Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi, Lizzie yang merasakan suasana aneh merasa khawatir. Ainz tidak menghiraukannya dan membuka pintu.

Apa yang dia cium bukanlah bau tanaman, tapi sesuatu yang lebih menusuk — bau darah.

Yang ada di depannya adalah Peter dan Lukeluther, Dyne ada di belakang dekat dinding. Kaki mereka tidak lurus dan tangan mereka seperti menggantung. Sebuah genangan hitam dari darah hitam berada di lantai, yang kelihatannya disedot dari tubuh mereka.

“Ap.. Apa yang terjadi…”

Lizzie yang terkejut ingin masuk dengan langkah yang goyah. Ainz menghentikannya dengan memegang bahu Lizzie dan segera masuk ke dalam ruangan.

Peter yang roboh tiba-tiba bergerak seperti boneka, tapi sebelum dia bisa bangun sebuah kilatan dari pedang melewatinya tanpa ragu.

Kepala Peter menggelinding di lantai. Dengan Sabetan membelakangi, Lukeluther yang mencoba untuk berdiri terpenggal.

Saat Lizzie terdiam oleh tragedi di depannya, Dyne yang keadaannya lebih jauh juga berdiri.

Wajahnya menunjukkan tidak ada tanda-tanda kehidupan dan terlihat pucat. Melihat ke arah Ainz dan Lizzie dengan mata yang gelap. Ada lubang di dahinya yang jelas adalah luka yang fatal.

Hanya ada satu alasan mengapa yang mati bisa bergerak. Ketika mereka menjadi seorang undead.
“Zombie.”

Saat Lizzie berteriak, Dyne semakin mendekat dengan erangan yang memusuhi. Ainz langsung menusuknya dengan pedang. Menembus tenggorokan Dyne dan dia mengejang sesaat sebelum roboh.

Tak ada gerakan lain.

Ainz menatap Ninya yang duduk tak bergerak di tanah terdiam.

“Nfirea!”

Lizzie akhirnya menyadari apa yang terjadi dan bergegas mencari cucunya. Ainz menatap punggungnya dan memerintahkan kepada Narberal:

“Lindungi dia. Skill pasif milikku [Undead Blessing] tidak bereaksi, jadi seharusnya tidak ada undead lain di rumah ini. Tapi mungkin saja ada yang masih hidup yang sedang bersembunyi di suatu tempat.”

“Saya mengerti.”

Narberal pergi mengejar Lizzie setelah membungkuk perlahan.

Ainz memastikan kepergian keduanya dan kembali menghadap ke Ninya. Dia pelan-pelan berlutut dan menyentuh tubuhnya dengan lembut. Setelah memastikan tak ada jebakan mayat yang umum di YGGDRASIL, dia mengangkat wajah Ninya. Ninya tidak pingsan, tapi tewas.

Wajahnya terlihat lebam, mungkin dari pukulan senjata tumpul. Ainz tidak menyadari wajahnya.

Mata kirinya hancur dan mengalir dari lubangnya seperti air mata.

Seluruh tulang-tulang di jarinya patah dan kulitnya terbuka, menampakkan otot merah di dalamnya. Beberapa tempat bahkan tidak ada dagingnya. Ketika Ainz membuka bajunya untuk memeriksa, dia kaget dan matanya terbuka lebar.

Dia mengembalikan bajunya seperti semula dan bergumam:

“…Bahkan tubuhnya…”

Tubuhnya mirip dengan wajahnya, dengan luka di seluruhnya karena pendarahan yang parah. Tertutupi oleh warna dari pendarahan dalam dan sulit untuk menemukan titik yang tidak terluka.

Ainz menutup mata Ninya pelan-pelan.

“….Ini membuatku merasa…. tidak nyaman.”

Ucapannya yang bergumam telah lalu dengan angin.

“Cucuku! Nfirea sudah hilang!”

Lizzie berteriak ketika kembali. Ainz yang mengumpulkan mayat-mayat di sudut ruangan menjawab dengan tenang:

“….Aku melihat barang bawaan mereka, tidak ada tanda-tanda digeledah. Melihat ini, tujuan musuh adalah untuk menculik Nfirea.”

“Ugh!”

“Silahkan lihat sebelah sini.”

Ainz menunjukk ke kalimat berdarah di bawah tubuh Ninya. Kalimat itu takkan bisa ketemu jika tubuhnya tidak dipindah.

“Ini adalah… selokan? Itu artinya Nfirea dibawa ke selokan?”

“…Ini mungkin juga jebakan yang dibuat oleh seseorang dibalik tragedi ini. Aku tidak tahu seberapa besar selokannya… Akan memakan banyak waktu untuk memeriksanya satu persatu. Apa pendapatmu tentang ini?”

“Ada angka juga disini! 2-8, apa artinya!?”

“Ini yang membuatnya semakin mencurigakan. Aku tidak tahu apa arti dari angka ini… Bisa saja membagi kota ke dalam 8 bagian seperti sumbu kompas dan persimpangan 2 dari 8, atau semacam alamat… Apakah Ninya benar-benar memiliki kekuatan yang cukup untuk memikirkan hal serumit ini?…Meskipun jika Ninya yang menuliskan, berapa banyak informasi yang ditulisnya bocor oleh musuh? Ini terlalu banyak kebetulannya.”

Lizzie mengerutkan dahinya yang sudah keriput, dan melihat seakan dia marah dengan sikap tenang yang mengejutkan dari Ainz. Dia lalu menatap empat mayat di lantai:

“Siapa orang-orang ini?”

“…Mereka adalah petualang yang ditugaskan sama denganku oleh cucumu. Setelah kami berpisah, mereka mungkin kemari untuk membantu menurunkan tanaman-tanamannya.”

“Apa! Mereka adalah teman-temanmu!?”

Ainz menggelengkan kepalanya:

“Tidak, bukan. Kami hanya kebetulan bertualang bersama.”

Kalimat dingin ini membuat Lizzie kecewa.

“Ngomong-ngomong, aku telah berpikir tentang ini, tapi aku ingin bertanya pendapat anda. Mengapa mereka berubah menjadi Zombie?”

“..[Create Undead]. Musuh mempunyai seseorang yang bisa menggunakan magic tingkat 3 setidaknya. Apa kemungkinan lainnya?”

“Kurasa kita harus mengurus ini dengan segera.”

“Bukankah itu jelas… Apa yang ingin kamu katakan?”

“…Musuh bisa menggunakan magic untuk mengendalikan pikiran atau menyembunyikan tubuh, tapi mereka tidak melakukannya. Mereka hanya melakukan hal seperti ini untuk kesenangan mereka. Mereka tidak perduli akan terbongkar kedoknya atau sangat percaya diri bisa kabur. Hmmm… Aku tidak tahu yang mana. karena mereka bisa merubah mayat-mayat menjadi zombie, mereka seharusnya bisa membawa mereka kembali ya khan?”

Yang terakhir lebih mudah untuk dihadapi, tapi akan menyusahkan jika yang pertama. Hidup dan kemampuan Nfirea sangat berharga, tapi tidak akan lama. Akankah kriminal yang kejam itu membiarkan Nfirea pergi ke tempat aman setelah memanfaatkannya?

Lizzie yang mengerti apa yang Ainz maksud berubah dari hijau menjadi putih. Dia tidak tahu dimana di kota besar ini dia diculik, tapi akan memakan waktu yang sangat lama untuk mencarinya.

Satu-satunya petunjuk adalah selokan, tapi Ainz ragu akan hal itu.

Nyawa Nfirea semakin berkurang dengan berkurangnya waktu.

Ainz berkata dengan tenang kepada Lizzie yang tegang:

“Bagaimana kalau membentuk kelompok penyelamat?”

Suara tenang itu berlanjut:

“Bukankah ini adalah hal yang seharusnya anda minta kepada petualang?”

Mata Lizzie berbinar, dia kelihatannya mengerti apa maksud Ainz.

“Kamu beruntung, Lizzie Bareare. Di depanmu adalah petualang terkuat di kota ini, dan satu-satunya yang bisa membawa cucumu kembali dengan selamat. Jika kamu memberikan pekerjaan ini untukku, aku akan menerimanya. Tapi… harganya sangat mahal, karena aku mengerti seberapa berat pekerjaan ini.”

“Memang benar… jika itu anda… Orang yang memiliki potion itu… penjinak Virtuous King of the Forest, tidak diragukan lagi anda kuat…akan kupekerjakan, aku ingin mempekerjakanmu!”

“Begitukah… Apakah kamu siap dengan harga yang sangat mahal?”

“Seberapa banyak kamu bisa puas?”

“—-Semuanya.”

“Apa?”

“Berikan aku semua yang kamu miliki.”

Lizzie menatap dengan matanya yang lebar karena kaget dan gemetar.

“Milikmu semuanya. Jika Nfirea kembali dengan selamat, berikan semua yang kamu miliki padaku.”

“Kamu…”

Lizzie mundur ketakutan dan berkata dengan suara lunak:

“Ketika kamu bilang semuanya.. itu artinya bukan uang atau potion langka… Aku dengar iblis akan mengabulkan permintaan apapun untuk ditukar dengan jiwa manusia. Apakah kamu seorang iblis?”

“….Meskipun jika aku benar, itu tidak masalah, ya kan? Apakah kamu ingin menyelamatkan cucumu?”

Lizzie terdiam, dan mengangguk dengan menggigit bibirnya.

“Maka hanya ada satu jawabannya, benar kan?”

“Ya… Aku akan mempekerjakanmu. Aku akan menyerahkan semuanya padamu, jadi tolong cucuku!”

“Bagus, kontraknya diterima. Ayo kita bergegas, apakah kamu memiliki peta kota ini? Pinjamkan padaku jika kamu punya.”

Lizzie merasa agak aneh, tapi dia langsung mengeluarkan sebuah peta dan menyerahkannya kepada Ainz.

“Selanjutnya adalah menemukan keberadaan Nfirea.”

“Kamu bisa melakukannya!?”

“Aku harus menggunakan metode ini. Aku tidak yakin jika musuh bodoh atau…”

Ainz tidak menyelesaikan kalimatnya dan menoleh ke arah 4 tubuh di ruangan itu.

“Aku akan mulai mencari sekarang, silahkan pergi ke ruangan lain untuk mencari petunjuk, lihat jika orang-orang yang menculik Nfirea meninggalkan apapun. Jika menculik Nfirea adalah sebuah pengalihan, maka keadaannya akan sangat buruk. Anda lebih familiar dengan rumah ini dan lebih cocok untuk itu.”

Setelah mengusir Lizzie keluar dengan alasan ngawur, Ainz menoleh ke arah Narberal.

“Apa rencana tuanku selanjutnya?”

“Sederhana. Lihat, seluruh medali mereka telah hilang, mungkin diambil oleh orang yang menyerang mereka. Pertanyaannya adalah mengapa mereka tidak mengambil sesuatu yang lebih berharga, tapi hanya medali.. Bagaimana pendapatmu?”

“Maafkan hamba, hamba tak tahu.”

“Itu karena —”

Ainz mendengar suara di otaknya ketika dia sedang di tengah percakapan. Itu adalah [Message].

[Ainz-sama]
Suara itu sedikit gelisah, dan suara mendengung juga bisa terdengar.

“Apakah ini adalah Entoma?”

[Ya.]

Entoma Vasilissa Zeta. Seorang battle maid seperti Narberal.

[Saya ada laporan.]

“Sekarang aku sedang sibuk. Aku akan menghubungimu ketika aku sudah luang.”

[Atas perintah anda. Silahkan hubungi Albedo-sama ketika anda tidak sibuk.]

Mantranya menghilang dan Ainz melanjutkan diskusinya dengan Narberal:

“Sebagai sebuah trofi, hadiah perburuan. Pelakunya mungkin mengambilnya sebagai kenang-kenangan. Tapi itu adalah kesalahan yang fatal. Narberal, aktifkan mantranya.”

Ainz mengeluarkan sebuah gulungan dari tas magicnya dan memberikannya kepada Narberal.

“Ini adalah gulungan [Locate Object]. Kamu tahu targetnya ya kan?”

“Mengerti.”

Narberal yang mengangguk mulai membuka gulungannya. Ketika dia akan membukanya, Ainz memegang tangannya dan menasehati Narberal yang terkejut dengan dingin:

“…Bodoh.”

Omelan dingin membuat bahu Narberal bergetar:

“Ma..Maafkan saya!”

“Ketika menggunakan mantra untuk mengumpulkan informasi, kamu harus bersiap terhadap mantra serangan balik dari musuh sebelum merapalnya, ini adalah peraturan yang tidak bisa diubah. Ingat ini karena musuh mungkin bisa menggunakan [Detect Locate], dasar dari yang paling dasar adalah menggunakan [False Cover] dan [Counter Detect] untuk melindungi dirimu. Juga—”

Ainz mempersiapkan sepuluh gulungan, dan menjelaskannya masing-masing kepada Narberal seperti seorang guru.

“Ketika menggunakan mantra untuk mengumpulkan informasi, kamu harus membuat tindakan pencegahan yang diperlukan. Itu adalah dasarnya.”

Ketika Ainz Ooal Gown melakukan PK, mereka akan mengumpulkan setiap informasi yang ada tentang musuh dan menyelesaikannya dalam satu kali serangan tiba-tiba. Ini adalah dogma dari anggota guild Punitto Moe tentang ‘pertarungan harus diselesaikan sebelum dimulai’, yang terpikirkan tentang dokumen strategi dasar dari guild, PK bisa dilakukan oleh siapapun dengan mudah.

Itulah kenapa Ainz mengajari Narberal dasarnya juga, jadi ketika mereka menghadapi pemain lain di masa depan, mereka bisa mendapatkan keunggulan dalam pertarungan.

“–Itu saja. Biasanya kemampuan spesial juga ditambahkan untuk memperkuat serta sebagai jaminan, tapi aku rasa tidak perlu sejauh itu untuk musuh kali ini. Jika mereka memikirkan cara yang lain untuk menghadapi Magic Caster, mereka tidak akan merapal mantra level seperti itu pada mayat. Kalau begitu, ayo mulai Naberal.”

Naberal yang akhirnya mengerti membuka gulungan-gulungan itu berurutan dan merapalkan mantra yang tertulis pada gulungan-gulungan itu.

Api yang tidak panas keluar dari dalam gulungan dan membakarnya hingga kering dalam sedetik, mengeluarkan magic yang tersegel di dalamnya.

Setelah membuka seluruh gulungan magic, Narberal yang dilindungi oleh banyak mantra pertahanan mengaktifkan [Locate Object]. Dia mengarahkan ke titik di peta:

“Disini.”

Ainz yang tidak bisa membaca mencari sesuatu di ingatannya untuk mengartikan tempat itu.

“…Kuburan. Peluang bahwa benda itu tidak ada di selokan memang besar.”

E-Rantel adalah markas militer dan kuburan itu sangat besar. Mantra itu menunjukkan titik terdalam di kuburan.

“Ternyata begitu, selanjutnya gunakan [Clairvoyance] dan [Crystal Screen] bersama-sama. jadi aku bisa melihat pemandangan disana juga.”

Narberal mengaktifkan gulungan-gulungan lagi, dan layar pun muncul di tengah udara menunjukkan figur yang tak bisa dihitung. Tapi gerakan mereka kelihatannya menakutkan dan kaku. Bukan hanya itu, ada juga makhluk yang jelas bukan manusia.

Di tengah itu semua ada seorang pemuda. Berpakaian berbeda, tapi Ainz tidak salah.

“Itu tempatnya. Medali itu pasti ada di sekitar sana…dan gerombolan undead yang besar?”

Itu adalah sekumpulan undead yang banyak. Mereka adalah undead tingkat rendah, tapi jumlah mereka menakutkan.

“…Apa keinginan tuanku? Berteleport dan menghancurkan mereka dalam sekali serang? Atau menggunakan magic terbang dari depan?”

“Jangan bodoh. Bukankah masalahnya jadi tidak akan diketahui jika dengan cara itu?”

Ainz menjelaskan kepada Narberal yang bingung:

“Untuk mempersiapkan undead sebanyak itu, musuh pasti berpikir sedang melakukan sesuatu yang besar menggunakan mereka. Karena kita setuju untuk menyelamatkan Nfirea, kita akan menyelesaikan kemelut ini sambil kesana untuk menaikkan popularitas kita. Menyelesaikan masalah tanpa ketahuan hanya akan memberikan imbalan Lizzie kepada kita dan kelihatannya tidak akan menaikkan popularitas kita.”

Mungkin saja begitu, tapi jika mereka tidak menyelesaikan masalah ini secepat mungkin, Nfirea mungkin akan tewas. Bahkan Ainz tak bisa memanggil dan memanipulasi undead sebanyak itu dalam satu kali, jadi pasti ada semacam trik untuk ini. Kehadiran Nfirea mungkin adalah bagian yang sangat penting dari trik itu.

Jika itu masalahnya, Ainz ingin mencari tahu rahasia dibalik trik itu meskipun dia harus mengorbankan Nfirea.

Bagi Ainz, tujuan yang paling penting adalah bagaimana memperkuat Great Tomb of Nazarick. Jika mengorbankan Nfirea bisa melakukan itu, Ainz tidak ada pilihan lain kecuali harus melakukannya.

“Aku ingin mengumpulkan informasi lebih banyak, tapi tidak ada waktu persiapan yang cukup.”

Ainz bergumam sambil berjalan ke pintu masuk, dan bersuara keras ketika membuka pintu.

“Lizzie! Persiapannya sudah selesai. Kami akan menuju kuburan. Dan disana ada pasukan undead, jumlahnya sekitar ribuan.”

“Apa!”

Itu hanya estimasi saja, bagaimana mungkin bisa dihitung dengan akurat.

“Jangan terkejut, kami akan segera menuju kesana. Masalahnya adalah aku tidak bisa menjamin pasukan undead tidak akan bocor keluar dan berjalan-jalan di luar kuburan. Informasi ini kurang bukti, tapi karena ini adalah permintaan dari orang terkenal sepertimu, orang-orang seharusnya mau mendengarkan ya kan? Jika undead keluar dari kuburan dan tak ada yang bersiap… keadaan akan menjadi buruk.”

Wajah Ainz di dalam penutup kepalanya menyeringai.

Akan menjadi masalah bagiku jika mereka tidak menganggap ini adalah hal yang besar. Semakin besar ini nantinya, semakin besar pula ketenaran yang aku dapatkan setelah menyelesaikan kemelut ini. Itulah kenapa aku melakukan ini.

“Hanya itu yang bisa aku katakan. Waktu adalah hal yang penting, jadi aku menuju kesana sekarang.”

“Apakah kamu memiliki cara untuk menembus pasukan undead?”

Ainz melihat kepada Lizzie saat dia menunjuk ke pedang di punggungnya:

“Caranya ada disini.”

[table style=”table-bordered”]

Sebelumnya Daftar ISI Selanjutnya

[/table]