Overlord – Volume 2 – Prolog

Overlord Light Novel

[Overlord v02] Prolog


Kantor Overlord (Maharaja) yang ada di dalam Great Underground Tomb of Nazarick sangat mewah.

Setiap furniture di dalam kamar memiliki desain yang elegan, penuh citarasa dan eksotik. Karpet lembut berwarna crimson (merah tua) di lantai tidak akan mengeluarkan suara ketika kamu berjalan di atasnya. Bendera-bendera dari desain yang bermacam-macam menghiasi dinding-dinding di dalam ruangan.

Meja kayu berwarna hitam yang keren diletakkan di dalam ruangan; dan pemiliknya sedang duduk di kursi kulit yang berwarna hitam legam.
Mengenakan jubah hitam panjang yang terlihat seperti menyerap cahaya, jika ada satu kata untuk mengungkapkan orang tersebut, itu adalah ‘Overlord of Death’ (Maharaja Kematian).
Kepala yang terbuka itu adalah tengkorak tanpa kulit dan daging sedikitpun. Sedikit cahaya gelap yang berkedip dalam cahaya merah yang bersinar di dalam lubang matanya.

Dia adalah pria yang bernama Momonga, tapi sekarang diketahui sebagai Ainz Ooal Gown, mengambil nama guildnya.
Ainz melipat tangannya yang terdiri hanya tulang-tulang. Sembilan cincin yang dipakai di jari-jarinya berkilauan di bawah pantulan dari [Eternal Light] (Cahaya Abadi).

“Apa yang seharusnya aku lakukan sekarang?”

Dikenal sebagai ‘Dive Massively Multiplayer Online Role Playing Game’, game internet ini memungkin para pemain untuk memasuki dunia virtual dan merasakan dunia YGGDRASIL. Di hari terakhirnya beroperasi, game itu memindahkan Ainz dalam bentuk avatar gamenya — bentuk tulang rangka — ke dalam dunia alternatif yang tidak diketahui untuk alasan yang tidak diketahui pula. Sudah 8 hari sejak hal itu terjadi.

Selama itu, dia mengawasi tempat tinggalnya, Great Underground Tomb of Nazarick dan pelayan-pelayannya. Dia menemukan bahwa dunia ini mirip dengan dunia dalam game, mendorong Ainz untuk mengambil langkah selanjutnya.

“Kehendak anda adalah perintah kami, Ainz-sama.”

Seorang gadis yang cantik berdiri tanpa suara menjawab setelah mendengar pertanyaan Ainz.

Dia memiliki kecantikan tanpa celah di dalam balutan gaun putih, senyumnya yang lembut seperti seorang dewi. Rambutnya yang hitam berkilauan sangat berlawanan dengan gaunnya. Sayapnya yang hitam seperti malaikat muncul dari pinggang menutupi kakinya.

“Benarkah begitu, Albedo? Aku sangat senang dengan kesetiaanmu.”
Dia adalah pengawas Great Underground Tomb of Nazarick, ‘Albedo’. Dia bertanggung jawab terhadap 7 NPC yang menjadi Guardian Floor Nazarick.
Ketika Ainz dan teman-teman guildnya membangun Great Underground Tomb of Nazarick di masa lalu, pengaturan dari Albedo adalah pelayan NPC yang bekerja disini. Tapi dia mendapatkan kesanggupan dan bersumpah setiap kepada Ainz.
Situasi menyenangkan ini, tapi juga beban berat bagi Ainz yang hanya seorang pegawai kantoran biasa.
Mempertahankan tingkah lakunya sebagai seorang master ketika berhadapan dengan bawahannya dan bertanggung jawab menjalankan organisasi dengan efisien sebagai seorang maharaja sangat membuatnya tertekan.

Masalah terbesar adalah kurang informasi yang parah terhadap dunia alternatif yang tidak diketahui ini.

“..Jadi, laporan selanjutnya?”
“Ini dia, Ainz-sama.”

Dia langsung memeriksa kata demi kata yang tertulis dengan pena setelah menerima dokumen tersebut.
Ini adalah laporan yang dikirimkan oleh guardian di lantai 6, Aura Bella Fiora. Sangat jelas ditulis disitu bahwa mereka belum bertemu dengan pemain YGGDRASIL apapun seperti Ainz atau menemukan tanda-tanda mereka. Sedang penyelidikan terhadap hutan besar di dekat Nazarick, mereka berhasil memetakan area tersebut hingga pengunungan di sisi sebaliknya dari hutan dan menemukan sebuah danau.

Ainz mengangguk — Dia merasa saat mereka tidak menemukan pemain lain, orang yang paling bahaya baginya disini.
“Ternyata begitu. Sampai perintahku, Aura dan timnya melanjutkan tugas mereka.”

“Akan saya sampai perintah anda–”

Sebuah ketukan lembut datang dari pintu. Albedo melihat Ainz untuk menunggu reaksinya, menunduk dan berjalan ke pintu. Setelah mengkonfirmasi identitas pengunjung itu, Albedo mengumumkan:

“Shalltear meminta bertemu.”

“Shalltear?baiklah, biarkan dia masuk.”

Dengan izin dari Ainz, seorang gadis muda dengan usia sekitar 14 tahun mengenakan gaun hitam berbulu halus masuk dengan elegan.

Kulitnya yang putih sepeti lilin dan ciri wajahnya yang menyenangkan, sebuah kecantikan sesungguhnya dari dunia. Rambutnya yang berwarna keperakan bergoyang setiap dia melangkah, dadanya yang besar dan tidak cocok dengan penampilan usianya memantul pula.

Dia adalah guardian dari lantai 1 hingga lantai 3, ‘True Vampire’ (Vampir sejati) Shalltear Bloodfallen.

“Selamat siang, Ainz-sama.”

“Selamat siang juga, Shalltear. Ada urusan apa denganku hari ini?”

“Saya kemari untuk mengagumi wajah tampan Ainz-sama.”

Tengkorak Ainz menjadi tak berekspresi, tapi cahaya merah yang bersinar di lubang matanya berkedip sesaat.

Dia rasanya pernah ingat jika sudah memerintahkannya untuk berhenti memuji yang tak ada gunanya, tapi akhirnya tidak jadi. Albedo menatap Shalltear, sementara matanya yang berwarna merah tua menjadi gelap karena gembira. Senyum Albedo berubah.

Wajahnya masih tersenyum, dia masih tetap cantik, namun wajahnya tidak lagi bisa disebut tersenyum.

Itu adalah wajah dari iblis.

Tapi Ainz menghela nafas lega karena Albedo menatap Shalltear, bukan padanya.

“Kamu pasti sudah puas sekarang, kamu boleh pergi Shalltear. Ainz-sama dan aku sedang berdiskusi tentang masa depan Nazarick saat ini, tolong jangan mengganggu diskusi kami yang penting.”

“..Menyapa sebelum menuju topik utama adalah sopan santun yang benar khan… Wanita tua yang sudah melewati masa jaya benar-benar menyusahkan. Mungkin mereka cemas karena tanggal kadaluarsanya sudah selesai?”

“.. Bukankah makanan yang dipersiapkan dengan sangat matang dan tak memiliki tanggal kadaluarsa tidak berbeda dengan racun? Dibanding hal itu, makanan yang melewati kadaluarsa lebih aman ya khan?”

“.. Jangan menganggap remeh keracunan makanan. Beberapa bakteri sangat menular.”

“.. Yang lebih penting lagi apa yang bisa dimakan huh? Kelihatannya seperti satu piring makanan ‘contoh’, tapi kenyataannya…benar khan?”

“.. Makanan ‘contoh’? Akan kubunuh kau.”

“.. Siapa yang sudah lewat masa kadaluarsa?Hmmm”

TL Note : Pertengkaran Albedo dan Shalltear adalah, Albedo disebut wanita tua sehingga diibaratkan seperti makanan yang sudah basi. oleh Shalltear. Tetapi Albedo membela diri makanan basi tidak membahayakan (di Jepang seperti Natto). Malahan yang membahayakan yang tidak punya tanggak kadaluarsa karena pasti banyak bahan pengawet di dalamnya. Sedangkan Shalltear yang mementingkan tampilannya (terutama dadanya) dan sangat diragukan isinya, disebut sebagai makanan ‘contoh’ seperti yang ada di jepang, ya makanan contoh hasil dari hiasan kerajinan tangan bukan untuk dimakan hanya untuk pajangan saja.

Dua orang gadis cantik bertengkar di depan Ainz dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Itu adalah ekspresi yang bisa membuat merinding bahkan cinta hingga miliaran tahun.
Menekan hasratnya yang sudah di atas kepala, Ainz berkata sebelum pertempuran saling menghancurkan dimulai:
“Kalian berdua hentikan.”

Tiba-tiba Keduanya memperlihatkan senyum mereka yang berkilauan kepada Ainz.
Eskpresi rumit mereka sudah hilang; mereka kembali semua menjadi dua orang gadis yang manis dan perawan yang sedang jatuh cinta.

(Wanita itu menakutkan.. Tidak, mereka berdua ini pasti spesial..)
Setelah berubah menjadi Undead, emosi kuat apapun yang Ainz rasakan akan ditekan. Bahkan Ainz yang seperti ini merasa wajah mereka berubah dalam kecepatan yang luar biasa.
Mereka sangat cocok karena mereka adalah rival cinta.
Albedo dan Shalltear jatuh cinta kepada Ainz di waktu yang sama. Pria manapun akan senang dikagumi oleh dua gadis cantik.
Tapi Ainz tak bisa menerima ini dengan sepenuh hati.
Karena Shalltear yang tertarik pada nekrofilia berbisik dengan lembut ke telinga Ainz dengan nada manis: “Bentuk Tulang kerangka yang menakjubkan, sebuah mahakarya dari sang pencipta.”
ini mungkin adalah bisikan cinta yang manis dari Shalltear — atau bisa juga dengan pujian dari penampilan Ainz.

Tapi Ainz yang terkejut ketika pertama kali dia dipuji karena tampilannya, itu adalah tulangnya. Itulah ingatan dia beberapa hari yang lalu.
Ainz menghapus masalah sepele ini dari otaknya dan berkata:
“Aku akan bertanya lagi. Shalltear, apakah kamu mempunyai sesuatu untukku?”

“Ya. Atas perintah anda. Saya berencana untuk bertemu Cocytus nanti. Mungkin saya tidak akan kembali ke Nazarick dalam beberapa hari, jadi saya ingin pamitan.”

Ainz teringat instruksi yang dia berikan kepada Shalltear dan mengangguk:
“Aku mengerti. Shalltear, hati-hati dalam misimu dan kembalilah dengan selamat.”
“Ya!”
Shalltear membalas dengan nada yang tegas dan serius.

“Kamu boleh pergi Shalltear. ketika kamu pergi, bilang kepada Narberal atau Ratu Serangga untuk memanggil Demiurge kemari. Bilang padanya aku ingin mendiskusikan rencanaku selanjutnya dengan dia.”

“Saya mengerti, Ainz-sama.”

[table style=”table-bordered”]

Sebelumnya Daftar ISI Selanjutnya

[/table]